Penulis: Arum
Editor: Tjhia Yen Nie

 

Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati. (Ulangan 31:8)

Suatu hari ada seorang ibu yang hidupnya sangat gelisah, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan, kegelisan itu hari demi hari menghantuinya. Tidak ada senyum dan tawa yang tulus keluar dalam dirinya. Dalam kesehariannya, ia berusaha mencari kegiatan di luar rumah untuk menghilangkan penatnya pikiran yang selalu mengganggu, berharap di luar sana mendapatkan damai sejahtera, berharap ada teman yang dapat menghibur, dan menghilangkan kegelisahan yang mengganggu hati dan pikirannya. 

Tetapi sekalipun berbagai macam kegiatan yang dilakukannya, mulai dari pelayan dan kegiatan gereja, bahkan menerima sebuah pekerjaan untuk mempersingkat waktu di rumah, rasa gelisah itu tetap menguasai pikirannya. Dia merasakan semua hal yang dilakukannya dalam keluarga tidak berguna, sering kali ia merasa suami dan anaknya tidak lagi peduli terhadap dirinya, apapun yang ia lakukan terasa salah dan tidak dihargai. Ia merasa sangat kesepian, tidak bahagia, tidak bermakna. Hidup sebagai ibu rumah tangga membuatnya menjadi depresi, karena tidak adanya anggota keluarga yang mau mengerti apa yang diinginkannya, sebagai seorang ibu dan sebagai isteri.

Kita belajar dari Nabi Elia, yang pernah mengalami kekecewaan saat umat Israel tidak mau bertobat. Ia mengeluh pada Tuhan: “Cukuplah itu! Sekarang ya Tuhan, ambilah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku (1 raja-raja 19:4).”  Dan Tuhan tidak membiarkan Elia tinggal di dalam kekecewaan. Tuhan menolong Elia keluar dari kecemasan. Demikian juga dengan kita, kita harus meyakini bahwa Tuhan akan menolong kita dari awan gelap yang meliputi rohani kita. Kalau kita sedang dalam kekecewaan, kita harus berdoa,  datang pada Tuhan dengan sungguh, seperti Elia.

Kita harus terbuka pada Tuhan juga orang lain, karena Tuhan pun bisa memakai orang lain untuk menolong kita.  Berpikir positif, santai menghadapi stress, mengonsumsi makanan sehat, rutin berolah raga dan juga istirahat yang cukup. Apapun masalahnya, kita harus menyerahkan kepada Tuhan.

Jangan biarkan kecemasan, tawar hati, lesu dan rasa jemu menguasi hidup kita, ketika kekecewaan itu datang, pandanglah Tuhan!  Pada saat hati kita tidak ada kedamaian, kita merasa ditinggalkan atau dilupakan, yang kita butuhkan adalah kesadaran tentang penyataan dankuasa Tuhan. Secara pribadi kita bersaat teduh, mengobrol dengan Tuhan apa yang kita alami, karena Dia adalah sumber pertolongan,  ungkapkan segala masalah yang kita alami, karena Dia pendengar yang baik. Dia tidak akan pernah sedetikpun meninggalkan kita, Tuhan adalah penolong yang setia.