Penulis: Merry Srifatmadewi
Editor: Lia Susanti

 

Gundah gulana melanda. Masalah bergulung-gulung menimpa tanpa dapat dihindari. Sekokoh-kokohnya manusia, ada saatnya tidak kuat menahan badai gelombang kehidupan. Begitu pun dengan diriku. Hal ini bisa terjadi pada siapa pun, tidak terkecuali Hamba Tuhan. 

Kepergianku kali ini ke Tanjung Pinang hanya sendirian, tidak bersama suami ataupun anak-anak. Tanjung Pinang kampung kelahiran suamiku, dekat Kepulauan Riau. Aku pergi ke sana untuk suatu misi bukan jalan-jalan. Misi untuk mendampingi ipar yang sedang dalam masalah rumah tangga. Di sisi yang lain, suamiku juga sedang menghadapi masalah pekerjaan dan masa kontrak kerjanya segera berakhir. 

Kepergianku bukan untuk menuntaskan kasus adik ipar, aku hanya mendampingi dan memberi pengertian secara hukum. Sebelum pergi, aku mempersiapkan diri bila cara pikirku kemungkinan berbeda dengan cara pikir orang kebanyakan di sana/stigma. Bersyukur bila setidaknya semua anggota keluarga menerima masukan dariku dengan besar hati.

Aku numpang menginap di ruko adik iparku yang bungsu. Pada hari ke-5 dia mengajakku makan malam di suatu tempat makan terbaru dan terbesar di sana. Aku berangkat dengan suami ipar menggunakan motor. Adik iparku mengikuti dengan motor dari belakang. 

Aku duduk menyamping karena kondisi kakiku. Dalam perjalanan gadgetku berbunyi. Aku berharap bunyi itu segera berakhir tetapi terus berbunyi berkali-kali. Terpaksa aku mengeluarkan gadgetku dan menerima telepon. 

Sesampainya di rumah makan, kuingin keluarkan kacamataku untuk membaca menu makanan. Kuulangi mencari beberapa kali, kacamataku tidak ada. Jangan-jangan jatuh ketika aku mengeluarkan gadget. Karena aku meletakkan gadget dan kacamata di kantong celana sebelah kanan. Adik ipar dan suami langsung bergerak segera menelusuri perjalanan. Tidak ketemu! Aku pasrah. Semua salahku.  

Pulang ke rumah, aku dan adik ipar dengan berjalan kaki menelusuri lagi. Tetap tidak ketemu! Ya sudah, pikirku. Aku tidak mau terbebani pikiranku. Bila memang harus melepas yang melekat, apa boleh buat?

Pukul lima pagi sekali lagi aku dan adik ipar menelusuri jalan saat  kacamata itu diperkirakan jatuh, tetap tidak ketemu! 

Tak terbayangkan kacamataku ditendang orang yang berlalu-lalang, mungkin terlindas motor yang melintas dan kemungkinan buruk lainnya. Terbersit membuka kantong plastik sampah barangkali kacamata dapat kutemukan tapi kuurungkan. Usaha mencari sudah dilakukan, hanya bisa pasrah dan berserah.

Setibanya di ruko adik ipar, aku sempat berpikir minta tolong suami dan anakku yang di Jakarta untuk memesankan kacamata. Supaya ketika aku kembali ke Jakarta tak perlu lama menunggu dan memesan kacamata. 

Di luar ruko terdengar suara anak kecil, anak tetangga yang tinggal di sekitar rumah adik ipar bertamu. Suami dari adik iparku menyambut kedatangannya. Ternyata dia membawakan kacamataku utuh dengan tempatnya! 

Bagaimana bisa hal itu terjadi? Kejadiannya adalah ketika kami ke luar dari gang tak jauh dari ruko adik ipar, untuk berbelok, ayah dari anak tersebut melihat ada suatu benda yang jatuh tak lama setelah motor yang aku tumpangi berbelok. Olehnya benda tersebut disimpan, kemudian diserahkan keesokan hari karena mereka tidak tahu kemana kami pergi dan saat itu hari sudah malam.

Jalan Tuhan sungguh tak terselami oleh manusia. Di manapun Tuhan senantiasa berkarya. Yang diminta pada-Nya adalah tetap percaya dan taat.

 

Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku. (Mazmur 63:8)