Penulis: Tjhia Yen Nie
Editor: Lanny Dewi Joeliani

 

“Ibu, tolong nasihati anak saya, supaya rajin ke gereja, dekat dengan Tuhan.  Sebentar lagi dia pergi kuliah ke luar negeri, saya takut kalau dia ada masalah, saya tidak bisa mendampinginya seperti sekarang. Saya mau dia tahu, bahwa Tuhan sayang sama dia, jadi kalau ada apa-apa, dia harus bergantung pada Tuhan,” Saat itu saya begitu terharu mendengar perkataannya.  Kemudian dia melanjutkan, “Soalnya kalau saya yang mengatakan, dia selalu jawab, Mama saja jarang ke gereja, kok suruh saya harus ke gereja,” lanjutnya.

Saya jadi tidak tahu harus menjawab apa.  Saya jadi teringat, akan salah seorang kerabat saya, yang mengharuskan anaknya mendapat nilai minimal 90. Kalau tidak 90, artinya jelek, dan anaknya diharuskan belajar sampai malam, harus bisa.  Suatu hari, Oma dari sang anak, alias ibu dari sang Mama datang berkunjung ke rumahnya.  Melihat bagaimana cucunya dimarahi karena mendapat nilai 80, sang Oma balik menyeletuk, “Lha, kamu dulu aja waktu sekolah engga pernah dapat 80, kok ini anakmu dapat 80 dimarahi?”

Terkadang tanpa sadar, kita menerapkan standar pada anak-anak kita dan orang lain, namun kita sendiri tidak melakukannya. Kita mau anak kita rajin ke gereja, supaya jadi anak yang baik, tapi kita malas.  Kita mau pasangan kita jujur, tapi kita sendiri menutupi kebohongan-kebohongan kecil maupun besar.  Kita mau karyawan kita bekerja keras untuk kita, namun kita tidak melakukan hal yang sama untuk kesejahteraan mereka. Kita mau diperhatikan teman-teman kita, namun kita sendiri terlalu sibuk untuk menyapa mereka. Matius 7:3 mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu tidak engkau ketahui?”

Alangkah egoisnya kita, jika kita melakukan hal tersebut.  Marilah kita bercermin pada diri kita sendiri, apakah kita sudah melakukan apa yang kita mau orang lain lakukan kepada diri kita.