Penulis: Tjhia Yen Nie
Editor: Redaksi Sepercik Anugerah

Di masa pandemi ini, banyak sumber ilmu pengetahuan yang terbuka secara daring. Kartu pra kerja dari pemerintah, kursus-kursus gratis dari berbagai perguruan tinggi ternama , ataupun webinar-webinar yang membahas beragam topik menarik, dari mulai psikologi, kewirausahaan, sampai dengan berbagai keterampilan. Semua ini tentu dapat memberikan masukan positif bagi kita semua, jika kita dapat memanfaatkannya.

Saya sendiri mempelajari hal baru, yaitu menanam tanaman secara hidroponik. Melihat benih yang tumbuh berkembang, daun-daun bermunculan, membuat saya terpana melihat kebesaran Tuhan yang mengagumkan. Saya lebih menghargai sayur-mayur yang ada di pasar, karena mengetahui sedikit banyak prosesnya; menghargai sinar matahari yang membantu proses fotosintesis, karena ternyata kurangnya sinar matahari berdampak nyata pada pertumbuhan tanaman. Hal-hal yang sebelumnya tidak saya perhatikan sama sekali.

Namun dari pembelajaran dalam kelompok ini, saya juga belajar satu hal, untuk menjadi seorang murid, diperlukan syarat mutlak untuk rendah hati; taat dan fokus. Saat kelompok dimulai, sang mentor mengatakan, kunci keberhasilan dalam hidroponik adalah kita harus “nurut” alias taat. Kelompok yang semula berjumlah sekian puluh orang, mereka yang semula berkomitmen, setelah satu - dua kesempatan tiba-tiba menghilang karena alasan kesibukan yang lain. Ada anggota yang tidak sejalan dengan mentornya, merasa sang mentor terlalu menuntut, atau tidak sesuai dengan kapasitasnya. Ada juga yang tetap dalam kelompok tapi berekspresi sendiri tidak mematuhi langkah-langkah yang sudah diinformasikan oleh mentor. Ada seorang yang berpengalaman sebagai petani, akhirnya tersingkir. Ada juga seorang dosen, yang akhirnya mengundurkan diri.

Ternyata, untuk menjadi seorang murid itu tidak mudah. Kejadian ini membuat saya berefleksi, apakah saya pun sulit diatur sebagai murid Kristus? Jangan-jangan, ada kalanya saya pun merasa “sok tahu”, merasa sudah mengerti, tidak setuju dengan peraturan yang sudah Tuhan tetapkan. Atau mulai mencoba-coba berekspresi dengan metode yang Tuhan tidak suka, untuk memuaskan rasa ingin tahu hal di luar peraturan Tuhan?

Dari kegiatan ini juga saya belajar untuk fokus. Fokus menyediakan nutrisi yang tepat sesuai pertumbuhan tanaman. Fokus memperhatikan benih yang berkecambah, agar segera mendapatkan sinar matahari. Fokus untuk memperhatikan pertumbuhan tanaman, agar bisa dikoreksi secepat mungkin jika didapati pertumbuhan yang tidak baik.

Demikian juga dalam kehidupan kita, apakah yang menjadi fokus kita? Apakah fokus kita adalah menaati langkah-langkah yang sudah Tuhan tetapkan?

Dalam masa pandemi ini, apakah kita tetap fokus pada Tuhan dan pelayanan kita? Jangan jadikan pandemi ini sebagai alasan untuk menjauh dari pelayanan kita. Karena masa pandemi adalah masa kesempatan untuk kita menjadi buku yang terbuka; tegak melangkah, sesulit apapun jalan yang kita hadapi. Tetap fokus dan taat pada langkah-langkah yang sudah Tuhan tetapkan.