Penulis: Finna Padhang
Editor: Tjhia Yen Nie

Seringkali saya emosi menghadapi tingkah laku orang-orang terdekat di rumah saya, yang tidak sesuai dengan harapan saya. Meskipun saya menyadari betul adanya perbedaan karakter dari setiap pribadilah yang melahirkan konflik, dan kalau dipikir-pikir itu adalah hal yang sepele. Namun tidak dapat dipungkiri, jika dibiarkan emosi-emosi negatif ini menumpuk, akan berdampak buruk juga terhadap jiwa saya, dan relasi saya dengan sesama.

Mengambil air di ember dan tidak menutupnya kembali, menuang air galon dan membiarkan tutup galon dan tissue pembersihnya tergeletak begitu saja, meninggalkan beberapa perabotan makan di wadah pengering saat merapikannya ke dalam lemari piring.  Hal ini merupakan beberapa contoh perbuatan yang seringkali membuat saya emosi dan menarik nafas panjang. Idealnya, menurut pandangan saya, semuanya harus dikerjakan tuntas, jangan disisakan, setia pada perkara-perkara yang kecil. “Begitu toh, idealnya!” (Padahal buat sebagian pembaca, saya yakin hal-hal tersebut bukanlah merupakan masalah yang perlu dibesarkan). Meskipun berkali-kali sudah saya katakan apa yang menurut saya idealnya dilakukan, namun tetap saja perbuatan yang menurut saya 'tidak ideal' itu dilakukan berulang-ulang, tidak ada perubahan. Dan tentu saja, hal-hal tersebut, berulang-ulang juga membuat saya mengelus dada.

Sampai suatu saat saya membaca salah satu bab dalam sebuah buku yang berjudul: "Jika itu bukan dosa..." Membaca bab tersebut, memberikan pencerahan dan kelegaan buat saya.

Apakah perbuatan-perbuatan yang 'tidak ideal' tadi itu dosa? Jawabannya, tidak! Jika perbuatan-perbuatan tersebut bukan dosa, maka belajarlah untuk menerimanya. Daripada berusaha mengubahnya, sebaliknya ajukan pertanyaan: "apakah itu dosa?" setiap kali menghadapi situasi yang membuat kita jengkel atau marah. Ternyata setelah saya coba lakukan, semua jawabannya adalah: "Itu bukan dosa." Mendapatkan jawaban itu, saya pun meredam emosi.

Dengan demikian, saya dapat lebih sabar, dapat berefleksi, dan lebih bisa menerima apa yang 'tidak ideal' dari orang yang bersangkutan, dan mengambil bagian dalam mengerjakan apa belum dikerjakan, menutupi kekurangan yang ada, sampai hal yang saya anggap ideal itu terjadi, dan melakukannya tanpa merasakan beban yang amat berat.

Kiranya Tuhan menolong saya, untuk lebih sabar dan tidak mudah menghakimi orang lain, yang justru berdampak buruk buat kesehatan mental diri sendiri. Sebaliknya, bertanya kepada diri sendiri: "apakah itu dosa?" Jika itu bukan dosa ....

Matius 7:2-3 (TB)  Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?