Penulis: Indra Putra
Editor: Lanny Dewi Joeliani

 

Menunggu itu menyebalkan. Titik.

Apalagi jika menunggu kapan wabah pandemi Covid 19 di negeri ini segera berakhir. Sudah lebih dari satu tahun pandemi melanda, namun tidak ada tanda-tanda segera berakhir. Beberapa minggu terakhir ini, kegalauan terasa lebih menyergap. Jumlah penderita dilaporkan terus bertambah. Rasa duka bertebaran di antara yang masih hidup, karena kematian orang-orang terdekatnya akibat Covid 19. Tidak sedikit juga orang yang masih kalang kabut menata masa depan, karena pekerjaan, usaha, dan keluarganya berantakan akibat Covid 19.

Penulis kitab Ratapan juga merasakan risaunya menanti, yang bahkan berlangsung lebih dari satu tahun. Para ahli memperkirakan kitab ini ditulis di masa pembuangan, sekitar tahun 587 SM, tidak lama setelah bangsa Yehuda jatuh ke tangan bangsa Babel. Mereka bangun setiap pagi, hari demi hari, hanya untuk mendapati mereka masih dijajah bangsa lain. Sesuai nama kitabnya, Ratapan, perasaan sedih, gusar dan tak berdaya dalam bentuk ratapan terlihat jelas di kitab ini, di antaranya:

1Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya. 2Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya. 3Sesungguhnya, aku dipukul-Nya berulang-ulang dengan tangan-Nya sepanjang hari. 4Ia menyusutkan dagingku dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkan-Nya. 5Ia mendirikan tembok sekelilingku, mengelilingi aku dengan kesedihan dan kesusahan (Ratapan 3:1-5)

Meski demikian, secercah harapan di pasal yang sama nampak ditampilkan penulis Ratapan:

21Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: 22Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, 23selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!.... 25TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. 26Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN. (Ratapan 3:20-26)

Penggalan ayat ini di kemudian hari sering dikutip untuk menguatkan banyak orang yang menjalani masa gelap tanpa ujung. Tekanan yang sangat berat dirasakan, namun penulis kitab ini tetap ingin menaruh kepercayaan kepada Tuhan.

Namun ada hal menarik jika pembacaan diteruskan sampai akhir kitab. Ternyata, harapan tersebut tidak berakhir dengan kelepasan yang dinantikan. Tidak ada kisah heroik atau kisah mengharukan datangnya pertolongan. Bahkan, tiga ayat terakhir kitab Ratapan mencatat:

20Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama? 21Bawalah kami kembali kepada-Mu, ya TUHAN, maka kami akan kembali, baharuilah hari-hari kami seperti dahulu kala! 22Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami? (Ratapan 5:20-22)

Sudah terus berharap dan menantikan pertolongan, namun hal baik tidak terjadi.

 

* * *

 

Kitab Ibrani pasal 11 mencatat deretan saksi-saksi iman. Siapa yang tidak kenal dengan nama-nama seperti Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Musa, Yusuf, Musa dan seterusnya. Deretan nama besar dan terkenal, yang kisahnya berulang-ulang disampaikan di banyak cerita sekolah minggu dan mimbar gereja; orang-orang yang karena imannya mendapatkan kelepasan dari kesesakan. Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan pertolongan Tuhan. Iman mereka membawa kelepasan yang diharapkan selagi masih hidup.

Namun situasi kontras ditampilkan, jika pembacaan dilanjutkan terus sampai akhir Ibrani 11. Di ujung pasal ditampilkan sederetan orang-orang yang kisahnya berbeda dari nama-nama terkenal tersebut. Orang-orang ini dicatat tanpa nama, dan bahkan iman mereka tidak menghasilkan kelepasan selagi mereka hidup:

36Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. 37Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. 38Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. 39Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. (Ibrani 11:36-39)

Iman mereka tidak membawa kepada pembebasan yang spektakuler. Orang-orang ini tidak menyaksikan hasil penantian mereka. Kisah mereka terlihat kontras dari kisah tokoh-tokoh tadi. Namun orang-orang tanpa nama ini, bersama dengan nama-nama populer yang disebutkan di ayat 1-35, adalah juga bagian dari saksi-saksi iman, sesuai judul yang ditampilkan di awal perikop Ibrani 11 terbitan Lembaga Alkitab Indonesia.

Kisah yang dialami penulis Kitab Ratapan dan kisah pahlawan iman tanpa nama, sedikit banyak dapat dirasakan di masa pandemi Covid 19. Sudah banyak doa diucapkan agar kehidupan segera kembali normal seperti sebelum pandemi menyerang, namun jawaban seperti tak kunjung datang.

Tuhan terasa diam. Mungkin Tuhan seperti inilah yang dirasakan penulis kitab Ratapan dan para pahlawan iman tanpa nama. Tidak ada tanda-tanda kepastian, apakah hidup akan kembali normal seperti sedia kala. Tidak ada jawaban dan tidak ada kelepasan. Yang ada hanya menunggu dan menunggu.

 

***

 

Kisah Viktor Frankl, seorang penyintas masa kelam holocaust, dan Christina Tsai, yang dikenal sebagai Ratu Kamar Gelap, mungkin dapat membawa kita ke dimensi waktu yang lebih dekat.

Dalam buku “Man Search for Meaning”, Viktor Frankl menceritakan kisah hidupnya ketika ditawan di kamp konsentrasi. Hari-hari yang dilalui seperti tiada ujung. Tidak ada tanda-tanda kelepasan. Ketika bangun pagi, yang ada hanyalah perasaan seperti menanti giliran untuk mati. Entah mati karena dieksekusi di kamar gas, ditembak oleh tentara, kelelahan kerja paksa, kurang gizi, atau mati karena luka dan penyakit yang tidak mendapatkan perawatan memadai. Setiap bangun pagi, ia seperti mendengar lonceng kematian yang akan memilih tanpa pandang bulu. Tidak ada pengharapan; yang ada hanya gelap dan kelam.

Setelah melewati masa gelap tersebut, Viktor Frankl memperhatikan hal-hal yang menolong orang-orang yang akhirnya mampu melewati masa tersebut. Refleksi dan tulisannya kemudian menghasilkan karya yang memberikan pengaruh besar pada ilmu Psikologi. 4Frankl melihat, mereka yang mampu memaknai peristiwa kelam ternyata memiliki kekuatan menjalani hari-hari yang gelap. Salah satu kalimat terkenalnya adalah Those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’ (Mereka yang punya alasan ‘mengapa’ untuk hidup, dapat menghadapi hampir semua “bagaimana” caranya hidup).

Tsai Su Juan (Christiana Tsai) terkena penyakit hebat di Shanghai, yang membuatnya terbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama. Ia pun juga mengalami sensitivitas terhadap cahaya dan kebisingan. Tubuhnya tidak bisa terkena sinar matahari. Oleh karena itu, ia harus hidup dari kamarnya yang gelap. Apakah hal ini membuatnya putus asa dan kehilangan harapan? Sejarah mencatat lain. Dengan segala keterbatasannya, ia menulis berbagai artikel kekristenan yang merambah hati banyak orang. Ribuan orang kemudian mengunjunginya selama bertahun-tahun, untuk mendengar Firman Tuhan dibagikan. Ia kemudian dikenal sebagai “Ratu Kamar Gelap”.

Hal yang dilalui oleh Viktor Frankl dan Christina Tsai mungkin mirip dengan suasana pandemi dan kesesakan di masa sekarang. Meski tidak seluruhnya sama, makna kisah mereka dapat disejajarkan, yaitu penderitaan, ketidakpastian, dan masa menanti. Meskipun tertekan, mereka memiliki daya lenting yang memampukan untuk terus berharap dan menghadapi tekanan.

Kisah penantian yang dialami penulis kitab Ratapan dan para pahlawan iman tanpa nama di Ibrani 11 menunjukkan, bahwa datangnya kelepasan bukanlah tanda mutlak suksesnya kisah penantian. Dua bagian ini justru menampilkan kisah kesetiaan kepada Tuhan, terlepas apapun hasilnya. Kisah mereka menggambarkan kepercayaan penuh, bahwa waktu Tuhan adalah yang paling tepat. Mereka ingin tetap setia, meskipun kelepasan tersebut tidak dialami sampai mereka meninggalkan dunia ini.

Setelah berinteraksi dengan orang lain, seringkali kita tidak tahu apakah Covid 19 sudah menghinggapi atau belum. Atau, jika sudah terkena dan sekarang sedang dirawat, kita sedang menanti datangnya kesembuhan. Jika terkena dan sudah sembuh, kita belum tahu pasti apakah ada kerusakan permanen pada organ tubuh, atau apakah masih bisa terkena virus ini lagi. Bagi beberapa yang lain, penderitaan dan ketidakpastian hidup sudah hadir sebelum pandemi datang. Di antaranya adalah orang-orang yang harus terus berjuang melawan penyakit yang tidak kunjung sembuh atau trauma masa lalu. Masa pandemi ini semakin menguatkan perasaan tertekan yang sudah ada.

Pendeknya, yang terjadi adalah masa penantian tanpa kepastian. Bagi beberapa orang, tekanan yang hebat serta tidak adanya kepastian kapan kesesakan berakhir, membuat bangun pagi bagaikan mendengarkan lonceng kematian, dan berharap bahwa hari itu bukan dia yang terpilih. Kematian tersebut dapat berupa kematian fisik atau pun kematian semangat hidup, karena tidak dapat melihat adanya hal baik yang dapat menjadi tumpuan harapan.

 

* * *

 

Lalu, bagaimana dapat meneruskan kehidupan di tengah tekanan dan ketidakpastian?

Penulis kitab Ratapan menunjukan, bahwa semangat mempercayai Tuhan menjadi yang utama, meski keadaan tidak berlangsung sesuai yang diinginkan. Para saksi iman tanpa nama di kitab Ibrani juga menampilkan daya juang yang tidak kalah tangguhnya. Dua peristiwa ini menampilkan sebuah daya lenting yang mengagumkan. Mungkin bagi mereka tidak penting lagi untuk dapat segera melihat hasil nyata di depan mata. Kecintaan dan kepercayaan kepada Tuhan, yang mengetahui waktu terbaik, membuat pengharapan mereka tidak pudar.

Penulis Alkitab memahami, bahwa cara Tuhan dan cara manusia memandang waktu memang berbeda: “Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam”. 6Terkadang manusia menginginkan sesuatu segera terjadi, namun Tuhan punya langkah tersendiri. Gary Thomas mengatakan dengan apik: “Always keep this in mind: We will never understand God and His ways unless we remind ourselves that throughout history he had moved by millennials, not minutes.” (Ingatlah hal ini: Kita tidak akan pernah mengerti Tuhan dan jalan-Nya, kecuali kita mengingat bahwa sepanjang sejarah, Tuhan bergerak dalam hitungan abad dan bukan menit).

Jika besok pagi Anda terbangun dan masih berada dalam kesesakan masa penantian, syair Ratapan ini dapat dilantunkan dengan makna penuh pengharapan:

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,
tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

 

***

 


Rujukan:

  1. https://megapolitan.kompas.com/read/2021/07/07/18130221/update-7-juli-kasus-aktif-covid-19-di-jakarta-tembus-100000-lebih (diakses 9 Juli 2021)
  2. Lihat https://www.sabda.org/sabdaweb/biblical/intro/?b=25&intro=pintisari (diakses 1 Desember 2020) dan juga NIV Study Bible Notes, “Lamentations”, Digital Book Editions, 2011
  3. Lengkapnya bisa dilihat di “Man's Search For Meaning”, Viktor E. Frankl; Jakarta: Noura Books, 2019
  4. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-meaningful-life/201903/viktor-frankl-s-legacy-meaning (diakses 9 Juli 2021)
  5. Lihat kisah singkatnya di https://www.intlmissions.org/?p=2575 (diakses 1 Desember 2020) atau buku “Karya Suci Dari Ratu Kamar Gelap”, Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1986
  6. Mazmur 90:4-5 dan juga 2 Petrus 3:8
  7. Gary L Thomas, “Authentic Faith”, Zondervans, Grand Rapid Michigan, 2002, hal. 54 

Catatan: Tulisan ini diambil dari Majalah Sepercik Anugerah edisi 13, dengan beberapa penambahan/ penyuntingan dari pengarangnya.