Penulis: Tjhia Yen Nie
Editor: David Tobing

Hidup adalah menjalani sebuah perjalanan. Setiap hari akan diisi dengan berbagai pilihan; mau bangun sekarang atau 5 menit lagi, mau meletakkan buku di atas meja atau di lantai, mau memakai celana pendek atau celana panjang, mau saat teduh pagi hari atau nanti malam, mau membaca Alkitab atau menonton film, atau sampai pilihan-pilihan yang lebih membutuhkan pemikiran seperti mau masuk kuliah jurusan apa, di mana, atau pekerjaan apa.

Tanpa sadar, sebenarnya setiap detik kita sudah diperhadapkan dengan pilihan. Dan pilihan kita ditentukan dengan pemikiran kita. Misalnya, ketika diperhadapkan berbagai jenis makanan enak dalam sebuah jamuan pesta, respon setiap orang tidak tentu sama. Si A bisa jadi akan mencoba semua jenis masakan yang ada, kapan lagi ada makanan menarik di depan mata, sedikit-sedikit tapi semua jenis tercicip. Si B, bisa jadi hanya memilih jenis makanan tertentu yang sudah dia kenal, pikirnya makanan-makanan ini walaupun bentuknya menarik, tapi dia tidak tahu rasanya, lebih baik dia makan yang sudah dia tahu, dan pasti kenyang. Si C, mungkin hanya akan mengambil beberapa jenis masakan tertentu yang dilihat mahal, kalau beli sendiri di restaurant mana bisa, pikirnya. Jadi dia akan mengambil porsi besar beberapa jenis masakan saja. Si D, bisa jadi justru hanya mengambil masakan yang menurut C murahan, karena dipikirnya ini adalah masakan tradisional masa kecil, belum tentu dia bisa dapatkan di kota besar tempatnya sekarang tinggal. Dan mungkin ada juga orang-orang lain yang memilih jenis masakan tertentu dengan alasan masing-masing.

Apakah pilihan-pilihan itu salah? Tentu saja tidak, karena semua mempunyai alasan masing-masing yang dirasa benar.

Demikian juga kita sebagai sebagai anak-anak Allah. Pilihan hidup banyak, semua ada alasannya. Namun kasih kita yang menentukannya. Jikalau hati kita dipenuhi kasih Allah, pilihan-pilihan hidup kita dari yang terbesar sampai terkecil akan difokuskan kepada titah dan hati Allah.

Albert Einstein, seorang jenius dan fisikawan terkemuka, mengatakan: “Hakikatku adalah apa yang aku pikirkan, bukan yang aku rasakan.” Kalau kita berpikir kita adalah rendah, kita akan menjadi rendah. Tapi kalau kita berpikir kita adalah manusia yang diciptakan Tuhan serupa dan segambar dengan-Nya, demikianlah hakikat kita adanya.

Piilhan hidup banyak. Semua ada alasannya. Tapi pertanyaannya adalah siapakah kita? Yesaya 49:16, “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Kita adalah anak yang sangat dikasihi Allah. Sudah seharusnya pilihan kita adalah memuliakan Allah dengan jatidiri kita sebagai gambar dan rupa Sang Pencipta.

Ketika saya merasa galau memikirkan masa depan anak-anak saya, karena saya mengasihi mereka dan mau yang terbaik saja terjadi dalam hidup mereka. Saya menyadari, Allah pun mengatakan pada saya, “Terlebih Aku...”

Jadi, dapatkah kita berpikir di luar jalan Sang Pencipta?

Kita adalah manusia ciptaan Tuhan, anak yang dikasihi Bapa, hidup di dunia untuk menjadi terang. Itulah hakikat aku, diri kita. Tidak ada yang lain, karena kita semua sudah ditebus dengan darah Anak-Nya.