Penulis: Finna Padhang
Editor: Lia Susanti

Matius 13:30 (TB), "Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku."

Suatu kali dalam kelompok tumbuh bersama, kami membahas tentang ayat ini. Dari pembahasan yang ada, saya ingin membagikan dua hal yang saya pelajari dari ayat tersebut. Pertama, bahwa dimana pun kita berada baik tempat kerja atau di gereja, kita akan bertemu dengan rekan yang selalu mengkritik, selalu merasa tidak puas, selalu merasa dirinya paling benar, paling hebat, paling bijak; itulah yang diperumpamakan sebagai lalang. Tuhan akan membiarkan mereka ada terus bersama-sama dengan kita, hingga tiba saatnya nanti waktu menuai. Dengan tumbuh bersama lalang, kita akan dilatih untuk berjuang dalam pertumbuhan. Hal kedua, yang cukup membuat saya tersentak, adalah bahwa jangan-jangan sayalah lalang bagi orang lain. Jangan-jangan hidup saya ternyata seperti yang digambarkan di atas. Merasa diri paling benar, paling hebat, paling bijak. Saya menjadi malu dan tersadar untuk selalu mawas diri. Mengerikan sekali jika ternyata sayalah lalangnya, karena tentu akan mendapatkan penghukuman. Suatu peringatan keras buat saya namun puji syukur Tuhan masih memberikan kesempatan bagi saya untuk bertobat. Dengan pertolongan Roh Kudus, kiranya saya tidak menjadi lalang bagi orang lain. Kiranya Tuhan menolong dan memampukan saya, menjadi gandum yang siap dituai pada saat panen nanti.

Marilah kita berjuang di antara lalang yang ada dan tumbuh di sekitar kita! Selalu waspada, memakai waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita, hingga tiba waktu menuai, apakah kita termasuk kelompok gandum atau lalang?