Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 29 Mei 2011

Hidup sekarang ini memang penuh kesusahan. Dalam menghadapi kesusahan hidup, banyak orang yang merasa tertekan, stres dan putus asa. Sebagian orang lari dari permasalahan dan mencari “kesenangan” semu, yang justru semakin memperberat penderitaan. Tidak sedikit pula biduk rumah tangga yang menjadi kacau-balau dan karam akibat tidak kuat menghadapi berbagai ombak derita.

Orang-orang Kristen tidak bebas dari penderitaan. Sama seperti orang-orang lain,  mereka pun dapat mengalami berbagai kesusahan hidup. Ayub, Daud, Paulus, murid-murid Tuhan Yesus  adalah contoh-contoh dalam Kitab Suci tentang umat Tuhan yang suatu ketika mengalami penderitaan.


Penderitaan mereka disebabkan oleh berbagai hal yang berbeda. Ayub mengalami kesusahan karena perbuatan Iblis dan perkataan teman-temannya. Daud mengalami penderitaan karena perbuatan orang-orang lain dan bangsa-bangsa lain yang menindas. Paulus mengalami kesukaran karena integritasnya dalam pelayanan, tetapi juga karena perbuatan orang lain yang menyerang dan menganiaya, serta situasi kondisi yang serba kekurangan. Murid-murid Tuhan Yesus mengalami kesulitan dan ketakutan karena keadaan alam yang tidak bersahabat dan karena mereka kurang percaya kepada-Nya.

Mereka mengalami penderitaan karena berbagai alasan yang tidak sama. Tetapi dalam satu hal ada kesamaan di antara mereka, yaitu: penderitaan hidup mereka hayati sebagai kesempatan untuk berbuat baik. Mereka jadikan penderitaan sebagai kesempatan untuk tetap setia kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya untuk melakukan hal yang baik.

Mereka tidak berorientasi kepada diri sendiri dan tidak pula berfokus kepada penderitaan, melainkan berorientasi kepada Allah dan berfokus pada kehendak-Nya. Itu sebabnya, penderitaan tidak menjatuhkan dan menghancurkan iman mereka,  tetapi justru membangun iman mereka dan mempertumbuhkan kesetiaan dalam melakukan kehendak-Nya.
Melalui penderitaan Ayub semakin mengerti rencana Allah dan mengenal-Nya secara pribadi. Ia mengatakan bahwa dahulu hanya dari kata orang saja ia mendengar tentang Allah, tetapi sekarang ia memandang Tuhan dengan matanya sendiri. Di dalam penderitaan pun ia masih dapat terus berbuat baik. Pada saat teman-teman yang menghakiminya dihukum Tuhan, dia justru berdoa syafaat untuk kebaikan mereka. 

Melalui kesusahan Daud semakin diteguhkan imannya kepada Allah yang Mahamurah dan Hakim yang Mahaadil, sehingga ia bersyukur dan bermazmur dengan sukacita dan hendak menceritakan perbuatan-Nya yang ajaib. Di dalam penderitaan Daud masih dapat terus berbuat baik.
Melalui kesusahan Paulus semakin dimampukan untuk menunjukkan dirinya sebagai hamba  Tuhan, yaitu melalui sabar menderita, bergantung pada Roh Kudus, melayani sesama dan memberitakan Kabar Baik.

Melalui kesusahan murid-murid semakin mengenal Tuhan Yesus dan bertumbuh dalam iman. Mereka mau meneladani penderitaan Kristus, yang di dalam penderitaan-Nya masih terus berbuat yang baik. Tidak mengutuk, melainkan memberkati.  Tidak membenci, melainkan mendoakan.

Penderitaan bisa menjatuhkan dan menghancurkan, tetapi bisa pula membangun dan mempertumbuhkan. Janganlah kita mundur dan jatuh karena penderitaan. Kesusahan hidup hendaknya kita hayati sebagai kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan pada Tuhan dan terus berbuat baik pada sesama.

Orang yang menghayati kesusahan sebagai kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan  kepada Tuhan akan mengarahkan orientasi dan fokusnya kepada Tuhan. Ketika kita hanya berorientasi dan berfokus pada masalah hidup yang dihadapi, maka kita akan melihat masalah itu terlalu besar dan Allah terlalu kecil. Tetapi jika kita berorientasi kepada Allah dan berfokus pada kehendak-Nya dalam menghadapi masalah, maka kita akan melihat masalah itu secara proporsional. Dengan bersandar pada Allah yang Mahakuasa, maka segala masalah dan kesusahan akan terasa ringan. Bersama Tuhan, kita tidak saja dapat mengatasi kesusahan, tetapi juga bertumbuh melalui kesusahan itu. Bersandar kepada Tuhan, kita bisa terus berbuat baik walau menderita.

Jadikanlah kesusahan sebagai kesempatan. Kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Allah. Kesempatan untuk menguji dan mempertumbuhkan imam. Kesempatan untuk terus berbuat baik. - AL -

Warta dan Renungan Terpopuler