Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 14 Juni 2020

Di dalam Matius 9 : 35 - 10 : 8, Yesus memaparkan kondisi umat yang Israel yang lelah dan terlantar seperti domba yang hilang. Kata lelah artinya merasa kuatir, tersiksa, bingung, mengalami penderitaan dan kesusahan. Semua itu diakibatkan oleh penindasan Romawi. Terlantar artinya tersebar, tak berdaya serta penuh kesedihan dan putus asa. Kedua kata tersebut: lelah dan terlantar mau menggambarkan umat Tuhan yang seperti orang terluka dan dibiarkan tergeletak di tanah, yang membutuhkan pertolongan tetapi dibiarkan dan tidak ditolong.

Apa yang dilakukan Yesus bagi umat yang dalam kondisi demikian? Mereka merasa kuatir, tersiksa, bingung dan mengalami penderita serta kesusahan. Juga kepada umat yang tersebar tak berdaya penuh kesedihan dan putus asa, yang dapat tapi hancur atau ‘binasa’?

Pertama kita bisa melihat dalam ayat 36, “Melihat semuanya itu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” Apa artinya? Yesus merasakan penderitaan yang dialami umat dan merasakannya sebagai sengsara-Nya sendiri. Belas kasihan-Nya akan kesengsaraan umat manusia inilah yang membawa-Nya ke kayu salib.

Kata asli “belas kasihan” yang digunakan disini adalah kata yang jarang dipakai. Belas kasihan disini berarti rasa yang digerakkan bukan hanya dari hati, tapi dari dalam perut yang tidak bisa ditahan dan ke luar. Bukan sekedar belas kasihan, tapi tahu dan mengerti keadaan seseorang. Ini adalah emosi seseorang yang muncul akibat melihat penderitaan orang lain; perasaan iba melihat orang lain menderita. Belas kasihan itu lebih kuat daripada empati karena menimbulkan suatu tindakan aktif untuk meringankan penderitaan orang lain. Inilah hati Tuhan Yesus!

Sebagai umat Tuhan dan juga pelayan-pelayan di gereja, apakah kita memiliki hati yang berbelas kasihan? Bagaimana respon kita ketika melihat umat yang lelah dan terlantar? Apakah kita selalu tergerak oleh belas kasihan? Apakah kita sebagai gereja dapat mencerminkan dan mewujudkan ‘belas kasihan' Yesus kepada yang menderita?

Kedua, dari Matius 10:1 kita mendapati bahwa Yesus memanggil kedua belas murid. Hal ini berarti Yesus melakukan sebuah proses pemuridan yang tidak langsung jadi, tetapi memakan waktu. Yesus menghendaki ‘Murid” dengan kualitas sebagai berikut :

1. Murid yang memutuskan mengikuti-Nya sampai kapanpun dan setia dalam situasi apapun.
2. Murid-murid selalu mengingat, mendalami dan melakukan apa yang dikatakan oleh diri-Nya.
3. Murid yang selalu belajar dan meneladani bagaimana Dia melayani dan bertindak.
4. Seorang murid akan mengimitasikan hidup dan karakter gurunya bagi dirinya.
5. Seorang murid akan mencari dan membesarkan murid-murid yang lain.

Sebagai orang-orang yang mengaku murid Kristus, proses apakah yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidup kita? Apakah kualitas murid yang dikehendaki Yesus sudah kita nyatakan dalam hidup kita? Jika belum, apakah yang harus kita lakukan?

SO

Warta dan Renungan Terpopuler