Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 4 April 2021

Pintu kubur Yesus telah terbuka dan kubur-Nya kosong! Itulah hal yang pertama dilihat Maria ketika ia datang ke kubur Yesus. Dengan hati yang masih dipenuhi dengan kesedihan dan kekalutan karena ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, ia kemudian menyimpulkan bahwa mayat Yesus telah dicuri. Ia kemudian memberitakan kabar tersebut kepada murid-murid Yesus yang lain, dan berita tersebut membuat Petrus dan Yohanes berlari menuju kubur kosong. Mungkin ada begitu banyak hal hadir di dalam pikiran mereka, “apa yang terjadi?”, “betulkah kabar itu?”, “hilangkah Yesus?”.

Ketika sampai di kubur itu, mereka menyaksikan bagaimana kubur itu kosong. Yesus tidak ada di pembaringannya. “Dicurikah Ia?” Namun ada yang janggal, kain kafannya masih tertinggal, kain penutup wajahnya terlipat dengan rapi. “Bisakah pencuri melakukan itu?” Setelah menyaksikan bahwa kubur Yesus benar-benar kosong, mereka pun kembali pulang. Hanya Maria yang tinggal di kubur itu, seorang diri. Sayangnya, tidak ada satu pun murid yang mengingat perkataan Yesus ketika Ia di Galilea, “bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” (Luk. 24:7).

Di kubur itu, Maria menangis (Yoh. 20:11). Bagaimana tidak? Yesus Kristus yang diambil darinya. Mungkin, kita dapat dengan mudah membayangkan apa yang dirasakan oleh Maria. Bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang betul-betul kita kasihi. Yang agak sulit untuk dibayangkan adalah, bagaimana orang yang kita kasihi tersebut tiba-tiba bangun dan berjalan mendekat menghampiri kita. Mungkin kita terkesima, mungkin kita merasa bingung, mungkin kita tidak percaya. Itu juga yang dialami oleh Maria Magdalena ketika berhadapan dengan peristiwa kebangkitan Yesus. Mulanya ia tidak percaya, Yoh. 20:15 menceritakan bagaimana awalnya Maria mengira bahwa orang yang sedang berbicara dengannya adalah penunggu taman. Namun, ketika Yesus memanggil namanya, “Maria!” (Yoh. 20:16), Maria langsung mengenali orang itu. Ia tahu betul bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah Yesus, Guru yang amat dikasihinya, ia kenal betul dengan suara-Nya.

Oleh karena itu, amatlah wajar jika Maria dengan spontan ingin memegang Yesus, Guru yang amat dikasihinya. Namun, apa kata Yesus? “Janganlah engkau memegang Aku, sebab aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” (Yoh. 20:17).

Yesus memberikan penugasan kepada Maria Magdalena, dan kita saat ini, untuk “Pergi” artinya tidak berdiam diri. Kita diminta untuk melakukan sesuatu bagi Yesus, mengabarkan Injil, memberitakan karya Keselamatan yang Yesus sudah berikan kepada kita, mengerjakan misi Allah yang telah dimandatkan kepada kita, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku ....” (Mat. 28:19-20).

Di dalam terang kebangkitan inilah Maria Magdalena, mendapatkan pemulihan dan keberanian. Ia kembali dan mengatakan kepada para murid yang lain, bahwa “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh. 20:18).

Pnt. Devina Erlin Minerva

Warta dan Renungan Terpopuler