Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 31 Juli 2022

Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 9:36-43

Kisah Para Rasul 9:36, “Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.”

Sahabat sejati adalah seorang sahabat yang membantu kita ketika membutuhkan pertolongan. Sahabat sejati akan terus menjadi sahabat di situasi yang kurang bersahabat.

Dalam bacaan kita hari ini kita juga dapat menemukan seorang sahabat di situasi yang kurang bersahabat sahabat, dia adalah Tabita/Dorkas. Tabita telah menjadi sahabat bagi para janda di tengah situasi yang kurang bersahabat.

Pada masa itu, tidak ada bantuan pemerintah, baik untuk para janda maupun yatim piatu. Mereka kehilangan dukungan sosial dan ekonomi karena kematian suaminya.Seorang janda memiliki status sosial yang lemah, terlebih bila dia tidak memiliki keturunan. Tuhan Yesus telah menunjukkan belas kasihan kepada janda di Nain, maka para murid pun meneladani-Nya. Jemaat mula-mula memberikan santunan kepada para janda (Kis 6:1). Yakobus mengatakan bahwa salah satu bentuk ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Tuhan adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yak. 1:27)

Di tengah situasi yang sulit dan tidak bersahabat seperti ini, Tabita hadir sebagai seorang sahabat yang memperhatikan kehidupan para janda ini. Dalam satu ayat (ay. 36), Lukas memberikan tiga gambaran yang sangat jelas mengenai siapa Tabita ini.

Tabita disebut seorang murid. Kata “murid” di sini menunjukkan bahwa Tabita adalah seorang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus., ia banyak berbuat baik dan memberi sedekah. Lukas memberikan gambaran yang jelas tentang kebaikan hati Tabita. “Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah.” Tabita bukan hanya berbuat baik dan memberi sedekah, tetapi Alkitab memberikan kata keterangan “banyak.” Tabita banyak berbuat baik dan memberi sedekah. Ia juga menolong janda-janda yang terabaikan tersebut. Tabita adalah seseorang yang membuktikan imannya dengan perbuatan baik.

Kebaikan hati yang Tabita tunjukkan semasa hidupnya membuat banyak orang sayang kepadanya, bahkan menjadikannya teladan dalam kehidupannya. Karena itulah, ketika dia mati, banyak murid yang merasa kehilangan. Kisah hidup Tabita memberitahukan kepada kita tentang  letak nilai hidup manusia yang sesungguhnya. Nilai hidup manusia terletak bukan pada datangnya, tetapi pada perginya. Tabita memuliakan nama Tuhan melalui perbuatan baiknya, ia dikenal banyak berbuat baik dan memberi sedekah.

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa: ”Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama” artinya sebagai manusia, apa yang  kita lakukan semasa masih hidup akan selalu diingat oleh orang lain. Tabita mati meninggalkan nama atau perbuatan baik. Tabita telah menjadi sabahat di situasi yang kurang bersahabat. Kita tidak bisa menjadi sahabat di situasi yang kurang bersahabat untuk semua orang, tetapi setiap kita bisa menjadi sahabat di situasi yang kurang bersahabat untuk seseorang. Mari kita terus menjadi sahabat di situasi yang kurang bersahabat seperti Tabita. Amin.

Pdt. Yerusa Maria Agustini

Warta dan Renungan Terpopuler

  1. Yuk Sekolah Minggu

    Information
    Dibaca: 75 kali
  2. Fungsi ArkNet

    Information
    Dibaca: 39 kali

Warta Dan Renungan Terpopuler