Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 7 Agustus 2022

Bacaan Alkitab : Matius 6:13

Apa itu pencobaan atau cobaan? KBBI mencantumkan arti “cobaan” sebagai sesuatu yang dipakai untuk menguji (ketabahan, iman). Sedangkan kata Yunani yang dipakai untuk “pencobaan” adalah “peirazein – peirazo – peira” memiliki arti: ujian dan godaan, test dan temptation.  Jadi tampaknya pencobaan ini punya dua sisi.  Satu sisi dapat dipandang sebagai godaan yang bisa menjatuhkan, di sisi lain dapat dipahami sebagai ujian untuk “naik kelas”, makin dekat dengan Tuhan.

Bagian dari Doa Bapa Kami menyatakan demikian: “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Dari kalimat doa ini, muncul sebuah pengakuan akan keterbatasan kita sebagai manusia menghadapi pencobaan.  Permohonan doa ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa sebagai manusia kita mempunyai kelemahan. Karena itu, kita meminta kepada Tuhan supaya kita yang lemah ini mempunyai kekuatan agar tidak jatuh ke dalam berbagai macam pencobaan. Kita menyadari kalau kita mengandalkan kepada kekuatan sendiri maka kita akan kalah menghadapi cobaan yang datang. Tetapi jika Tuhan beserta kita maka tidak ada satu cobaan pun yang mampu mengalahkan kita.

Hidup di dunia ini, ada berbagai pencobaan dan godaan.  Hal pertama yang harus kita ingat adalah waspadalah, karena pencobaan bisa menjatuhkan dan menjauhkan kita dari Tuhan.  “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” (Yak. 1:14).  Selain ada faktor penggoda, ada juga faktor dalam diri kita yang dipenuhi rupa-rupa keinginan, yang turut menentukan jatuh tidaknya kita dalam pencobaan.  Karenanya waspadalah!

Kedua, teguhkan hati dan hiduplah seturut dengan kehendak dan firman Tuhan kala pencobaan datang. Dalam peristiwa di taman Eden, Hawa dan Adam dicobai oleh ular yang membelokkan firman dan kehendak Tuhan.  Sedangkan Yesus memberi kita teladan bagaimana lepas dari pencobaan kala Dia tak tergoda bujuk rayu Iblis dalam pencobaan di padang gurun (Mat. 4:1-11). Untuk mengatasi pencobaan itu, Yesus memakai firman Tuhan. Ia pasti punya keinginan hati, tapi Ia paham betul apa yang menjadi kebenaran firman Tuhan itu dan Ia tahu apa yang Allah kehendaki. Apa yang Yesus lakukan amat kontras dengan yang dilakukan Hawa dan Adam di taman Eden.  Mereka tidak berani berkata “tidak” pada godaan untuk melanggar kehendak dan perintah Allah.

Tuhan Yesus memberi kita teladan bagaimana bisa menang terhadap godaan dan pencobaan: Ia sadar akan keinginan diri, tapi lebih taat pada kehendak Allah, karenanya Ia berani berkata “tidak” untuk hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah.  Itu Ia tunjukkan sampai di taman Getsemani: “bukan kehendak-Ku yang jadi, melainkan kehendak-Mu saja yang terjadi”. Ini yang membedakan antara taman Eden dan taman Getsemani! Ketaatan kepada kehendak Allah menjadi pembeda peristiwa di kedua taman itu dan membuat kita punya teladan untuk bisa keluar dari pencobaan.

Pdt. Danny Purnama

Warta dan Renungan Terpopuler

  1. Yuk Sekolah Minggu

    Information
    Dibaca: 74 kali
  2. Fungsi ArkNet

    Information
    Dibaca: 39 kali

Warta Dan Renungan Terpopuler