Warta jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 26 Juni 2011

Arthur Ashe adalah seorang petenis legendaris  AS keturunan Afrika yang berhasil memenangkan 3 kejuaraan grandslam tenis bergengsi. Masing-masing, Amerika Open (1968), Australia Open (1970) dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1983, ia mengalami serangan jantung yang mengharuskannya menjalani 2 kali operasi bypass. Setelah menjalani operasi, beberapa waktu lamanya kemudian, ia justru mengalami kenyataan pahit karena terjangkiti dengan penyakit HIV AIDS melalui transfusi darah yang ia terima.

Dari banyak surat yang ia terima, salah seorang penggemar menuliskan sebuah pertanyaan  kepadanya: “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit yang begitu parah?”

Arthur Ashe menjawab: “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta yang bisa belajar tenis, 500 ribu menjadi professional, 5000 mencapai turnamen grandslam, 50 ke Wimbledon, 4 orang semi final, 2 mencapai final dan 1 orang mengangkat trofi kejuaraan. Dan ketika saya mengangkat trofi juara Wimbledon, saya tidak pernah bertanya mengapa saya? Jadi ketika sekarang saya kesakitan, saya tidak akan pernah bertanya kepada Tuhan, mengapa saya?”

Kisah Arthur Ashe bertolak belakang dengan realita kehidupan orang beriman pada umumnya. Bukankah seringkali kita hanya bersyukur ketika situasi hidup kita terasa nyaman dan bahagia, segala usaha kita lancar dan berhasil, kesehatan kita aman terkendali? Sebaliknya bukankah kita akan marah dan menolak Tuhan. Serta dengan seenaknya menuduh Tuhan tidak adil ketika banyak hal buruk terjadi dalam hidup kita? Tanpa terasa, sikap hidup demikian ternyata menunjukkan bahwa kita memiliki pola hidup yang seenaknya. Di mana kita ingin mengatur Tuhan sesuai dengan keinginan kita. Pada hal semestinya sebagai orang yang mengaku percaya, kita seharusnya memahami untuk segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, pasti ada alasan Tuhan yang baik.

Itulah yang terjadi dengan bangsa Israel. Mereka lebih mencondongkan hatinya kepada pemberitaan nabi palsu Hananya dibanding nabi Yeremia yang diutus Tuhan. (Yer 28:1-17). Mengapa? Sebab pesan yang disampaikan Hananya  enak didengar oleh telinga mereka. Bukan sesuatu yang bersifat transformatif melainkan konformis dan meninabobokan iman umat Israel. Dengan kata lain pesan yang disampaikan nabi Hananya, memperbolehkan umat hidup seenaknya tanpa peduli dengan Tuhan maupun kebenaranNya. Berbeda dengan nabi Yeremia, ia menyampaikan teguran dan peringatan yang keras. Ia menegur dosa-dosa para pemimpin pemerintahan maupun para pemimpin agama yang moralnya sudah rusak. Di samping itu, ia juga memberitakan ancaman penghukuman melalui bangsa Babel dan menyerukan pertobatan nasional, supaya sebagai bangsa pilihan mereka seharusnya menjadi berkat. Namun pemberitaan nabi Yeremia ditolak, yang artinya mereka juga menolak Allah, dan menolak Allah sama saja menempatkan diri dalam bahaya (ay 17).

Frank Slazak, bermimpi menjadi seorang astronot. Namun apa daya dia hanyalah seorang warga biasa yang berprofesi sebagai guru. Hingga suatu hari NASA memberi peluang kepada warga biasa untuk mengikuti penerbangan pesawat ulang-alik Challanger. Frank segera mengajukan lamaran dan berhasil lolos saringan pertama. Ada 43.000 orang yang kemudian tersaring lagi menjadi 10.000, dan Frank menjadi bagian dari 100 orang tersisa yang berhasil lolos saringan akhir sebelum nantinya terpilih satu orang saja.

Siapakah yang akan terpilih nantinya? Frank berdoa: “Tuhan biarlah itu aku yang terpilih”. Serangkaian test kemudian dilakukan, dan kemudian yang terpilih ternyata  Christina McAufliffe. Frank menjadi depresi, dan marah kepada Tuhan. Ia merasa diperlakukan kejam oleh Tuhan. Impian dan hidupnya hancur dan ia kehilangan kepercayaan diri. Pada saat itu ia berpaling kepada ayahnya dan bertanya kepadanya. Ayahnya hanya menjawab:  “Semua itu terjadi karena Tuhan mempunyai suatu alasan”.

Selasa 28 Januari 1986, Frank berkumpul bersama teman-temannya untuk menyaksikan peluncuran pesawat Challanger. Pada  saat itu hati Frank masih gundah dan menantang Tuhan, ia berkata:  “Tuhan! aku bersedia melakukan apa saja asal aku yang ada dalam pesawat itu. Tetapi kenapa bukan aku?” 73 detik kemudian Tuhan menjawab Frank,  saat Challanger meledak dan menewaskan semua awak/penumpangnya! Saat itu Frank mengingat kata-kata ayahnya: “semua terjadi karena Tuhan mempunyai suatu alasan”.

Kini Frank dapat berkata: “Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi yang lain dalam hidup. Aku bersyukur kepada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan”. Frank Slazak kemudian menjadi motivator untuk orang-orang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya, supaya mereka menang ketika mereka menyerah kepada Tuhan.

Tuhan tidak pernah bermain-main dengan hidup dan penderitaan kita. Rick Warren berkata “Kita diciptakan dan dibentuk untuk sebuah misi” (Ef 2:10). Jadi jangan hanya mau enaknya sendiri. Beri kesempatan Tuhan untuk berkarya melalui hidup kita, supaya hidup kita semakin bermakna dengan menjadi berkat bagi orang lain. Amin. - RR -

Warta dan Renungan Terpopuler