Saudara-saudara anggota dan simpatisan jemaat GKI yang dikasihi Tuhan.

Sampai dengan saat ini pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda mereda, termasuk di Indonesia. Jumlah mereka yang dinyatakan positif dan yang meninggal terus bertambah. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) justru mulai diberlakukan bukan hanya di Jakarta tetapi di beberapa kota dan daerah lain. Beberapa prediksi melihat bahwa puncak penyebaran Covid-19 ini belum sampai puncaknya dan dapat terus berjalan sampai dengan bulan Mei bahkan lebih. Di tengah situasi ini, kita semua merasakan duka yang mendalam bersama banyak keluarga yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka kasihi karena Covid-19 ini, termasuk rekan pelayanan, anggota dan simpatisan jemaat GKI. Kita semua juga terus berdoa bersama mereka yang saat ini dinyatakan positif dan berusaha untuk melawan sakit tersebut, dan berharap akan kehendak Allah yang baik menyertai mereka. Namun di samping berita yang menguatirkan ini kita juga tidak boleh berhenti bersyukur bahwa mereka yang kemudian dinyatakan sembuh tidak kurang banyaknya. Kita percaya bahwa Allah juga bekerja di tengah-tengah karya pemerintah, para dokter dan tenaga medis di pusat-pusat kesehatan, para peneliti, juga seluruh elemen masyarakat Indonesia dan dunia yang bekerja keras bahu membahu untuk menangani mereka yang sakit serta menghentikan penyebaran Covid-19 ini.

Kita mungkin mulai merasakan dan melihat bahwa permasalahan yang ada di depan mata kita saat ini bukan hanya soal pandemi tetapi juga berbagai permasalahan sosial dan ekonomi yang mengikutinya. Ada sebagian orang yang mulai terancam atau bahkan sudah kehilangan pekerjaan, berbagai dunia usaha yang melemah, serta kemampuan ekonomi masyarakat Indonesia dan dunia saat ini yang tidak berada dalam keadaan baik. Kita semua berharap bahwa pandemi Covid-19 ini dapat segera berlalu, karena semakin lama kita ada di tengah pandemi, maka akan semakin berat persoalan sosial dan ekonomi yang mengikutinya. Namun kita juga sadar bahwa hal ini tidak bisa begitu saja dapat diprediksikan di luar kehendak Allah dan tanpa peran serta kita untuk sungguh-sungguh bekerja keras. Karena itu kami kembali menyapa dan mengajak saudara-saudara sekalian untuk merenungkan dan memerhatikan beberapa hal di bawah ini.

1. Pandemi Covid-19 ini adalah bencana kemanusiaan global yang melanda semua orang di dunia ini tanpa terkecuali. Dalam situasi ini kami, BPMS GKI, ingin mengajak kita untuk membangun sikap iman (teologis), yang di satu sisi tidak gegabah dalam optimisme palsu, dan di sisi lain juga tidak terjebak dalam ketakutan dan pesimisme. Ada beberapa kisah bencana yang ditulis di dalam Alkitab dengan konteks bencana yang dimulai karena kesalahan umat (bdk. Kejadian 6:1-8), atau juga bencana yang disebabkan karena Allah sendiri mengijinkan hal itu terjadi (bdk. Ayub 1:1-22). Bencana bisa terjadi dalam konteks apapun, tetapi Alkitab menunjukkan dua hal penting di tengah konteks bencana-bencana tersebut, yaitu tanggungjawab umat manusia untuk bisa melakukan kebenaran dalam hidupnya dan menghayati cinta kasih Allah yang menghadirkan pengampunan kepada dunia. Kita sering lupa untuk merenungkan kedua hal itu dan terjebak dengan hanya membicarakan bencananya sebagai fokus, seperti: bencana ini karena siapa, mengapa terjadi, dan seterusnya. Sikap iman yang membangun tanggung jawab manusia dan mengimani pengampunan Allah yang penuh cinta kasih, tidak meratapi atau mengabaikan bencana, tetapi juga bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, apalagi mereka yang justru pada saat ini sedang mengalami sakit karena Covid-19 atau mereka yang sedang berduka. Sikap iman ini berusaha menerjemahkan tanggungjawab untuk mewujudkan kebenaran di bawah naungan cinta kasih Allah dalam konteks bencana kita saat ini dan di sini. Secara sederhana kita dapat menerjemahkan perenungan ini, misalnya pada, tanggungjawab gereja di mana pimpinan gereja (pendeta dan penatua) tidak pernah absen untuk menghadirkan perhatian dan penggembalaan secara sungguh-sungguh dalam persekutuan anggota/simpatisan, sehingga hidup menggereja benar-benar dapat dirasakan; anggota dan simpatisan jemaat yang bersedia taat menjalani protokol kesehatan; keterbukaan gereja dan anggota-anggotanya untuk ikut memikirkan dan terlibat membantu pemerintah, rumah sakit-rumah sakit dan para tenaga medis secara material, pemikiran dan program-program bersama untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini sesuai kebutuhan.

2. Atas dasar sikap iman di atas, kami hendak mengajak setiap lingkup Jemaat, Klasis, Sinode Wilayah dan Sinode sendiri untuk secara bertanggungjawab mengevaluasi program dan menghitung kembali seluruh rencana pengeluaran di mana kita dapat mengarahkan program dan kegiatan-kegiatan pelayanan gerejawi kita pada apa yang benar-benar diperlukan. Kami selalu mensyukuri dan tetap mendorong setiap jemaat untuk sungguh-sungguh merepresentasikan semangat cinta kasih Allah pada persoalan kemanusiaan di tengah bencana pandemi Covid-19 dan persoalan-persoalan sosial-ekonomi yang mengikutinya, baik di tengah kehidupan anggota/simpatisan jemaat maupun masyarakat lebih luas secara seimbang. Akan tetapi kita perlu menyiapkan program dan kegiatan-kegiatan itu dengan bijaksana dan terukur, apalagi mengingat pandemi dan akibatnya mungkin dapat berpengaruh dalam waktu yang cukup lama. Karena itu demi efektivitas dan efisiensi kami amat mendorong program dan kegiatan-kegiatan kemanusiaan ini dapat disiapkan dan dilakukan dengan memanfaatkan jejaring, baik dalam lingkup Klasis, Sinode Wilayah, Sinode maupun dengan lembaga-lembaga oikumenis serta lembaga lintas agama yang ada.

3. Dalam hal Kebaktian Minggu, dengan mempertimbangkan masukan, informasi resmi dan konteks Indonesia serta tanggungjawab kita dalam ikut menanggulangi penyebaran Covid-19 ini, kami memutuskan agar seluruh jemaat/gereja di lingkup Sinode GKI untuk tidak menyelenggarakan Kebaktian Minggu biasa di gedung gereja (on site) dan masih melakukan Kebaktian Minggu alternatif (online) sampai dengan Minggu, 31 Mei 2020. Mengenai kebijakan ini, kita akan selalu melakukan evaluasi periodik berdasarkan informasi resmi para ahli, pemerintah pusat dan daerah. Kebaktian Minggu alternatif (online) ini dapat disiapkan secara mandiri oleh jemaat atau dilakukan bersama-sama dalam jejaring Klasis, Sinode Wilayah atau Sinode GKI yang sudah menyiapkannya melalui kanal Youtube: YKB GKI TV untuk kebaktian umum; Ignite GKI untuk kebaktian remaja dan Binawarga GKI untuk kebaktian anak. Kami memohon agar setiap lingkup yang menyiapkan kebaktian-kebaktian alternatif ini benar-benar mempertimbangkan efisiensi dan protokol kesehatan yang berlaku saat ini.

4. Pada masa-masa ini, seluruh kegiatan persekutuan dan pembinaan gereja lainnya, baik yang bersifat lintas generasi maupun pembinaan kategorial anak-anak, remaja, kaum lanjut usia, pelayanan kedukaan dan penggembalaan lainnya juga diminta untuk tetap diselenggarakan sebaik mungkin dengan metode-metode alternatif (streaming, diskusi online, seminar melalui web, rekaman atau bahan-bahan yang dapat diakses atau didistribusikan pada seluruh anggota/simpatisan jemaat). Di sini kami berharap setiap jemaat atau dalam lingkup lebih luas untuk bersama-sama berkreasi secara efisien dan mengkoordinasikan pembinaan dan penggembalaan yang dibutuhkan oleh anggota/simpatisan jemaat dan dapat diakses oleh sebanyak mungkin pihak.

5. Berkaitan dengan keuangan jemaat, di satu sisi kami menyadari adanya kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini, namun di sisi lain, gereja tidak pernah boleh berhenti untuk berkarya dan melayani anggota jemaat/simpatisan, terutama mereka yang lemah dan kekurangan. Karenanya selain himbauan untuk memodifikasi program, melakukan efisiensi, menunda bahkan membatalkan program pelayanan yang sudah direncanakan; jemaat-jemaat, klasis-klasis dan sinode-sinode wilayah perlu untuk mengembangkan sikap saling peduli dan berbagi. Yang kuat dan punya banyak kelebihan, peduli dan berbagi dengan mereka yang lemah dan kekurangan (dalam semua lingkup). Anggota jemaat/simpatisan juga dapat tetap bersyukur dengan memberi persembahan (cara dan mekanismenya diatur oleh masing-masing jemaat) bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin operasional gereja, tetapi untuk membantu mengatasi dampak Covid-19 di tengah jemaat maupun masyarakat sekitar. Nasihat Paulus kepada jemaat di Korintus menggema buat kondisi kita sekarang: “Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan” (2Kor. 8:14). Kondisi saat ini dapat menjadi salah satu momentum untuk kita berderap satu sebagai Gereja Kristen Indonesia.

Bersama-sama dengan anggota/simpatisan jemaat dan masyarakat yang saat ini sedang berduka, sedang berjuang karena sakit, mereka yang bekerja keras di rumah-rumah sakit dan pelayanan kesehatan, kita semua berdoa kepada Tuhan agar kita dapat memiliki tanggungjawab melakukan kebenaran yang dibutuhkan demi menghadirkan cinta kasih dan pengampunan Allah sumber kehidupan. Tuhan memberkati kita semua yang berupaya menghadirkan cinta kasih Allah di mana pun kita berada dan berkarya.

Minggu Paskah II, 26 April 2020

                                                 Pdt. Handi Hadiwitanto                           Pdt. Danny Purnama

                                                        Ketua Umum                                         Sekretaris Umum

Warta dan Renungan Terpopuler