Pentakosta di tengah Pandemi Covid-19

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan,
Kita saat ini sedang menjalani hari-hari menjelang peringatan peristiwa Pentakosta, peristiwa hadirnya Roh Kudus di tengah gereja. Hari Kenaikan Tuhan Yesus ke surga yang baru saja kita rayakan menjadi tanda bahwa para murid Yesus dan kita sebagai gereja, yang bersedia terus membangun dan mengembangkan imannya, akan dipimpin oleh Roh Kudus. Dalam Lukas 24:48 Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya,“Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirimkan kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku”. Momen ini adalah salah satu yang amat penting dalam keberadaan gereja, karena para murid Yesus tiba pada tanggungjawab baru yang semakin besar, yaitu untuk memulai kesaksian, persekutuan dan pelayanannya di tengah
dunia sebagai gereja.

Kesaksian (marturia), persekutuan (koinonia), dan pelayanan (diakonia) kita kenal sebagai tugas gereja yang penting. Ketiganya harus dipahami bukan sebagai hal yang terpisah-pisah, apalagi hanya menekankan yang satu dan meninggalkan yang lain. Hal ‘menjadi saksi’ seperti yang Tuhan Yesus katakan kepada para murid-Nya sebelum Ia naik ke surga memiliki makna bahwa hidup menggereja adalah membuka pikiran, memahami Firman Tuhan dan memberikan hidupnya untuk menghadirkan kesaksian dan pelayanan seperti Yesus (Yoh. 14:12; 17:17-21). Di sini hal ‘menjadi saksi’ bukan sekadar soal berbicara tentang doktrin pengakuan iman secara formal saja. Tuhan Yesus sendiri menunjukkan bahwa seluruh hidup-Nya adalah sebuah contoh pelayanan yang menghadirkan pertobatan dan pengampunan dosa, di mana di dalamnya terpancar keadilan, kebenaran, cinta kasih, dan keramahtamahan yang dapat dirasakan oleh banyak orang, termasuk mereka yang paling lemah (Luk. 24:46-47; Mat. 25:45). Menjadi saksi dan bersekutu adalah melayani. Demikian pula tindakan melayani adalah sebuah kesaksian dalam persekutuan.

Berdasarkan semangat untuk hidup menggereja yang menghadirkan kesaksian, persekutuan, dan pelayanan, bukan sekadar soal berbicara tentang doktrin pengakuan iman, tetapi kesediaan gereja untuk bersama-sama sebagai sebuah persekutuan termasuk di tengah-tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai ini, maka kami Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI, hendak menyampaikan beberapa hal di bawah ini:

1. Beberapa di antara kita mulai merasa gelisah karena masyarakat dan aktivitas umum di tempat tertentu tampaknya mulai dilakukan seperti biasa, karena itu banyak yang mulai bertanya-tanya kapan gereja juga dapat melakukan aktivitasnya seperti biasa. Tentu sampai dengan saat ini kita tetap merindukan persekutuan, kesaksian, dan pelayanan gereja yang dapat dilakukan di gedung gereja dalam bentuk kebaktian atau aktivitas gerejawi secara normal. Tetapi kita juga perlu menyadari bahwa saat ini situasi kita ada dalam keadaan belum normal. Beberapa kelompok dalam masyarakat tampaknya bersikap emosional menganggap pandemi sudah reda atau bersikap tidak peduli dengan mulai mengabaikan protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah. Kita tahu bahwa tidak semua orang setuju untuk terlalu cepat menganggap pandemi ini sudah mereda. Pemerintah Indonesia sendiri amat berhati-hati dan belum mengambil keputusan yang kuat apakah PSBB dan protokol kesehatan dapat dilonggarkan atau justru dipertahankan. Karena itu pada saat ini kami mengajak kita semua sebagai GKI untuk memiliki kesepahaman bahwa pandemi Covid-19 ini belum selesai. Potensi penularan dan akibat yang serius dari penularan tersebut masih kuat dan dapat terjadi di mana pun. Meski kita juga harus bersyukur bahwa data kesembuhan semakin tinggi. Karena itu kami mengajak kita tidak tergoda dengan sekadar membandingkan diri dengan masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu. Sebagai gereja dan di tengah konteks pandemi ini kita bersedia untuk mengorbankan ego kita demi menghadirkan kebajikan dan pelayanan pada masyarakat Indonesia dengan tetap sungguh-sungguh membantu pemerintah, masyarakat, dan diri kita sendiri melalui tindakan pemulihan, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan, menghindarkan orang berkumpul dalam jumlah banyak, menjaga jarak, dan menjaga kesehatan pribadi.

2. Berdasarkan pertimbangan di atas dan berbagai masukan terkini terutama menimbang kebijakan pemerintah, kebaktian-kebaktian Minggu dan kegiatan yang melibatkan orang banyak di lingkungan GKI masih tetap dilaksanakan dalam bentuk alternatif (online) dan belum dalam bentuk on site sampai dengan 28 Juni 2020. Kita semua tetap akan selalu mendengarkan berbagai masukan dan informasi yang diperlukan terkait hal ini. Kami amat mendorong setiap jemaat lokal dapat secara aktif mencari informasi dan menimbang dengan bijaksana situasi terkini dan bentuk pelayanan gerejawi yang dapat diselenggarakan dalam konteks masing-masing dengan memerhatikan protokol kesehatan secara ketat. Tidak lupa kami tetap mengingatkan pada setiap aktivis dan pimpinan jemaat untuk tidak melupakan tanggungjawab pelayanan pastoral yang relasional, yang pada dasarnya adalah salah satu pilar dari persekutuan dan perlu diwujudkan secara kreatif di tengah segala keterbatasan saat ini.

3. Kami juga ingin mengajak kita semua ada dalam perenungan yang serius bahwa di tengah kondisi yang amat tidak ideal ini kita justru menjadi bagian dari pengalaman kemanusiaan yang serius. Saat ini kita dapat menggunakan kesempatan yang baik untuk memulihkan dan membangun visi baru yang kuat tentang kesaksian, persekutuan, dan pelayanan kita sebagai gereja. Kami amat bersyukur dan mengapresiasi bahwa ada banyak jemaat dalam persekutuan mereka masing-masing mulai, pertama-tama melakukan kajian-kajian teologis dan imani yang kreatif tentang pandemi, relasi dengan Allah dan kehidupan untuk menerjemahkan kesaksian dan pelayanan yang kontekstual. Kedua, ada upaya-upaya membuat program pelayanan yang nyata terkait berbagai persoalan sosial selama pandemi, baik yang menimpa anggota/simpatisan jemaat maupun untuk kepentingan masyarakat. Kami meminta bahwa kedua hal ini dapat menjadi fokus dari kesaksian, persekutuan, dan pelayanan GKI demi pertumbuhan iman dan spiritualitas di tengah pengalaman saat ini. Tetapi kami juga menyadari bahwa tidak semua jemaat memiliki kesempatan dan kekuatan yang sama. Karena itu kami telah menyepakati dengan lingkup sinode-sinode wilayah untuk mendorong koordinasi yang terencana di lingkup Klasis, Sinode Wilayah sampai dengan Sinode mengenai sharing kegiatan-kegiatan yang relevan dan dapat mendorong pengayaan kehidupan menggereja GKI secara kontekstual.

4. Kami memahami pada saat ini pelayanan (diakonia) yang memiliki urgensi tinggi adalah penguatan ekonomi jemaat dan ketahanan pangan. Kedua hal ini adalah persoalan sosial yang bersifat khusus di tengah kehidupan jemaat-jemaat GKI, tetapi juga bersifat luas di tengah masyarakat Indonesia, baik pada masa pandemi Covid-19 ini, dan juga pada masa-masa setelahnya. Dalam pertemuan koordinasi bersama dengan perwakilan dari Sinode-Sinode Wilayah dan juga percakapan yang kami lakukan, kami harus sungguh-sungguh mulai memikirkan pelayanan dan arahan yang dapat sedikit banyak menjawab kebutuhan di atas. Saat ini kegiatan yang sudah dimulai oleh beberapa jemaat di semua sinode wilayah, yang dapat dikembangkan dalam lingkup lebih luas seperti klasis atau lintas klasis, adalah membuka ruang tolong menolong antar anggota/simpatisan jemaat terkait kebutuhan ekonomi dan pangannya. Dalam bentuk yang lebih luas, salah satu jemaat di lingkup GKI SW Jabar sudah menjadi pilot project pelayanan kebutuhan ekonomi dan pangan untuk membantu proses distribusi bahan pangan ke berbagai pihak. Program ini sedang dikaji untuk juga dapat dikembangkan di lingkup GKI SW Jawa Tengah dan Timur. Kami melihat bahwa kesadaran dan pelayanan terkait penguatan ekonomi dan ketahanan pangan adalah hal yang harus terus dipikirkan dan dikembangkan dalam sistem jejaring yang dapat menolong lebih banyak orang, jemaat dan masyarakat yang membutuhkan serta dapat berjalan secara sinambung, sehingga dapat memberikan dampak yang kuat secara luas. Kami meyakini bahwa ketika kita bersedia secara sungguh-sungguh masuk dan memahami pengalaman kemanusiaan dan kehidupan di tengah pandemi ini, kita justru dapat menjadi gereja yang menemukan panggilan dan sikap iman yang relevan dengan tanda-tanda zaman. Mari kita melewati masa sulit ini dengan semangat untuk menerjemahkan dan menjalankan sikap iman yang mencerminkan kesaksian, persekutuan, dan pelayanan gereja yang memuliakan Allah Tritunggal dan menyapa kebutuhan kemanusiaan serta kehidupan. Selamat merayakan Pentakosta, mengalami tuntunan Allah melalui kuasa Roh Kudus yang menggerakkan dan memampukan kita semua menjalani tugas panggilan menggereja di tengah kondisi saat ini.

Minggu Paskah VII, 24 Mei 2020

                                                 Pdt. Handi Hadiwitanto                           Pdt. Danny Purnama

                                                        Ketua Umum                                         Sekretaris Umum

Warta dan Renungan Terpopuler