Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 28 Juni 2026
Bacaan Alkitab: Kejadian 22:1-14; Mazmur 13; Roma 6:12-23; Matius 10:40-42
Iman Kristen bukanlah ketaatan yang mematikan hati dan pikiran. Iman Kristen adalah keberanian untuk tetap mempercayai Allah, bahkan ketika kita belum memahami seluruh rencana-Nya. Di balik setiap ujian, Allah tidak sedang menghancurkan umat-Nya, melainkan membentuk, memelihara, dan menunjukkan kesetiaan-Nya.
Kisah Abraham dalam Kejadian 22 memperlihatkan pergumulan iman yang sangat berat. Allah meminta Abraham mempersembahkan Ishak, anak yang sangat dikasihinya dan yang menjadi penggenapan janji Allah. Tentu Abraham mengalami keterkejutan, kesedihan, dan pergumulan yang mendalam. Selama tiga hari perjalanan menuju Gunung Moria, ia harus bergumul antara kasihnya kepada Ishak dan ketaatannya kepada Allah. Namun Abraham tetap berpegang pada pengharapan. Ketika berkata, “Kami akan kembali kepadamu,” Abraham menunjukkan keyakinannya bahwa Allah tetap setia dan sanggup melakukan apa yang mustahil. Pada akhirnya Allah menyediakan domba sebagai pengganti Ishak. Melalui peristiwa ini Abraham belajar bahwa ujian iman bukanlah kekejaman Allah, melainkan sarana untuk membentuk iman dan mengajarkan bahwa Tuhan lebih besar daripada segala sesuatu yang kita miliki.
Mazmur 13 menunjukkan bahwa iman tidak berarti tidak boleh menangis. Daud dengan jujur mengungkapkan perasaannya kepada Tuhan. Ia merasa ditinggalkan, dilupakan, dan bergumul dengan ketakutan. Empat kali ia bertanya, “Berapa lama lagi, TUHAN?” Namun Daud tidak menjauh dari Tuhan. Ia tetap berdoa dan mencari-Nya. Akhirnya ia mengambil keputusan iman: “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya.” Keadaan mungkin belum berubah, tetapi hatinya berubah dari putus asa menjadi percaya. Iman bukan berarti tidak memiliki air mata, melainkan tetap datang kepada Tuhan sambil menangis.
Dalam Roma 6, Paulus mengajarkan bahwa ketaatan Kristen bukanlah perbudakan. Orang percaya telah dibangkitkan bersama Kristus untuk hidup yang baru. Karena itu kita taat bukan supaya dikasihi Tuhan, melainkan karena sudah terlebih dahulu dikasihi dan diselamatkan oleh-Nya.
Matius 10:40–42 mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Kristus tampak dalam tindakan-tindakan sederhana. Bahkan secangkir air sejuk yang diberikan kepada sesama tidak luput dari perhatian Tuhan. Kesetiaan dalam hal-hal kecil memiliki nilai besar di hadapan-Nya.
Karena itu, ketika hidup terasa sulit dan Allah tampak tidak terpahami, jangan berhenti percaya. Seperti Abraham, percayalah bahwa “Tuhan menyediakan.” Seperti Daud, tetaplah berkata, “Aku percaya kepada kasih setia-Mu.” Sekalipun belum mengerti, tetaplah percaya kepada Allah yang setia. Amin.