Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 22 Februari 2026
Bacaan Alkitab: Kejadian 2:15-17; 3:1-7; Mazmur 32; Roma 5:12-19; Matius 4:1-11
Sejak awal, persoalan manusia bukan sekadar pelanggaran aturan, tetapi soal “aku” yang ingin lebih tahu, lebih berkuasa, lebih menentukan jalan sendiri. Dalam Kitab Kejadian 2–3, Adam dan Hawa hidup dalam kelimpahan. Namun ketika suara ular membisikkan, “Kamu akan menjadi seperti Allah,” ke-aku-an mulai berbicara. Keinginan untuk menentukan sendiri apa yang baik dan jahat membuat manusia jatuh.
Dosa lahir ketika “kehendak Tuhan” digeser oleh “kehendakku.” Dan dosa itu sangat menyesakkan. Pemazmur dalam Mazmur 32 mengingatkan bahwa selama pemazmur menyembunyikan dosanya, hidupnya terasa lesu dan berat. Tetapi ketika ia mengaku dan kembali taat, ia mengalami kelegaan dan pemulihan. Melepaskan ke-aku-an ternyata bukan kelemahan, tetapi awal kebebasan dan yang melegakan. Dan Kristus mengerjakan kebebasan, pemulihan itu. Dalam Surat Roma 5:12-19, Rasul Paulus menegaskan: melalui satu manusia, dosa masuk ke dunia; tetapi melalui satu Pribadi—Kristus—ketaatan membawa pembenaran dan hidup. Jika Adam jatuh karena memilih jalannya sendiri, Kristus menang karena memilih taat.
Kemenangan itu juga terlihat jelas dalam Injil Matius 4:1-11. Saat dicobai di padang gurun, Yesus tidak memilih jalan pintas. Ia tidak mengubah batu menjadi roti demi diri-Nya. Ia tidak mencari sensasi kuasa. Ia tidak menyembah demi kekuasaan instan. Ia memilih taat. Ia memilih firman, menghadapi segala godaan dengan Firman.
Di situlah perbedaannya. Paulus berkata: Adam berkata, “Ikuti keinginanku.” Kristus berkata, “Jadilah kehendak-Mu.” Jika ke-aku-an Adam membawa maut, ketaatan Kristus membawa hidup.
Melepas ke-aku-an bukan kehilangan diri, melainkan menemukan hidup yang sejati di dalam Kristus. Hari ini kita pun diperhadapkan pada banyak “jalan pintas”: ingin cepat berhasil tanpa proses, ingin dihargai tanpa kerendahan hati, ingin menang tanpa ketaatan. Namun bangkit melampaui realitas hanya terjadi ketika kita berani berkata: “Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.” Melepas ke-aku-an bukan berarti kehilangan diri. Justru di dalam ketaatan penuh, kita menemukan jati diri yang sejati. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk meneladani Kristus, yang telah menang atas setiap pencobaan, dan memampukan kita berjalan dalam kebenaran yang sejati. Tuhan memberkati, Amin!
Pdt. Nurkiana Simatupang