Minggu ini disebut sebagai minggu transfigurasi. Itu berarti rabu depan adalah rabu abu dan minggu depan sudah masuk minggu pra paskah 1 bagian dari rangkaian masa raya paskah. Memang momen transfigurasi belum nemu salam khasnya. Saat natal ada ucapan selamat natal! Ketika paskah kita mengucapkan selamat paskah! Nah di momen transfigurasi ini salamnya apa ya…hmm. Mudah-mudahan jemaat GKI Gading Serpong bisa menemukannya.
Apa itu transfigurasi? Dalam kata dasar Bahasa Yunaninya “Metamorfoo” yang berarti “berubah bentuk penampakan”. Matius dan Markus menggunakan kata ini sedangkan Lukas menggunakan kata lain (:heteros) untuk mendeskripsikan peristiwa tersebut. Intinya peristiwa ini adalah momen penting bagi Matius untuk dibagikan kepada para pembacanya, termasuk kita, sebagai dasar penguatan keimanan kita terkait siapakah Yesus yang sesungguhnya.
Matius mencatat kejadian Yesus berubah rupa sebagai peristiwa yang dilakukan oleh Yesus sendiri. Artinya tidak unsur dari luar yang mengubah rupa Yesus. Ini berarti kemuliaan Yesus bukanlah pemberian atau penyematan dari pihak luar diri diri-Nya, namun semata-mata ada di dalam diri Yesus “yang kapan saja” bisa nampak. Nah pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa saat itu Yesus berubah rupa? Bukan pada waktu penyaliban saja biar orang-orang banyak saat itu segera percaya dan menyembah Yesus.
Narasi sebelum dan sesudah perikop Matius 17:1-8 memberikan gambaran utuh tentang maksud Yesus. Kisah sebelumnya berbicara tentang dinamika keimanan Petrus yakni pengakuan otentik Petrus (Mat 16:13-20) dan penyangkalan Petrus tentang penderitaan Kristus (Mat 16:21-28). Dari dinamika tersebut bisa terlihat bahwa Petrus saat itu sedang mengalami gejolak batin terkait dengan siapa sesungguh Yesus. Peristiwa Transfigurasi merupakan tindakan kristologis Yesus untuk menyatakan diri-Nya yang sesungguhnya sekaligus merespon kegundahan Petrus. Intisari dari momen kristologis ini adalah bahwa Yesus Adalah Anak Allah Yang Mulia yang telah dikabarkan oleh Musa dan Elia dalam perjanjian lama.
Kemuliaan Yesus tidak akan berkurang meski Ia akan mengalami penderitaan bahkan penyaliban. Kemuliaan Yesus tidak akan hilang saat Ia dihina dan direndahkan oleh manusia. Di pihak lain, kemuliaan Yesus tidak akan bertambah saat orang banyak menyanjung dan memberikan pengakuan kepada-Nya. Penegasan “Inilah Anak-Ku Yang Terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” merupakan pernyataan Ilahi yang sangat cukup dan mendasar tentang Yesus. Hal ini dipersaksikan oleh Petrus sendiri dalam tulisannya (2Ptr 1:16-18). Bagi Petrus dan “kami”, Yesus adalah Tuhan yang telah datang dan akan datang.
Mengapa ini penting bagi kita saat ini? Keyakinan tentang siapa Yesus yang sesungguhnya terus menerus menguatkan Petrus dan “kami” terutama pada saat surat 2 petrus di tulis yaitu pada masa penganiayaan dan penderitaan. “Kami” di sini adalah komunitas orang percaya di Asia kecil yang bersama-sama Petrus mengalami derita karena penganiayaan. Petrus dan komunitas orang percaya saat itu hendak menguatkan kita bahwa Yesuslah satu-satunya Tuhan pengharapan kita yang hidup, hadir, telah datang, menyertai dan akan datang. Mari kita saling meneguhkan dalam komunitas pengharapan! Salam Dalam Kemuliaan-Nya!