Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 24 Mei 2026
Bacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 2:1-21; Mazmur 104:24-34, 35b; 1 Korintus 12:3b-13; Yohanes 20:19-23
Pentakosta adalah hari ke-50 setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Hari itu diperingati sebagai hari pencurahan Roh Kudus ke atas para murid Yesus. Pada saat Roh Kudus dicurahkan para murid mengalami kepenuhan Roh dan menerima karunia-karunia Roh. Kepenuhan Roh bukan membuat mereka mengalami ekstase atau lupa diri, melainkan hidup mereka dituntun oleh Roh. Karunia Roh tidak membuat mereka jadi pribadi-pribadi yang sombong dan sok pamer, melainkan dibarui menjadi pribadi baru yang menghasilkan buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
Sayangnya dalam perjalanan sejarah gereja, banyak orang yang menyalahartikan kepenuhan roh dan karunia roh. Kepenuhan roh hanya dimengerti sebagai keadaan khusus yang di luar kelaziman. Banyak yang berpandangan orang yang kepenuhan roh adalah orang yang bisa melakukan hal-hal supranatural: berbahasa roh, bernubuat, mendapat penglihatan, atau bisa melakukan hal-hal yang tidak lazim dan spektakuler. Begitu juga karunia roh sering dijadikan semacam tolak ukur tentang iman dan kesalehan seseorang. Orang yang dianggap top imannya dan saleh hidupnya adalah orang yang sudah mendapat karunia roh tertentu yang spektakuler. Akibatnya banyak orang yang mengejar-ngejar karunia-karunia roh tertentu supaya dianggap hebat, tenar dan saleh. Menyedihkannya, orang-orang seperti ini melecehkan orang lain yang tidak punya karunia seperti mereka.
Bagaimana kita sebagai GKI menyikapi kehadiran Roh Kudus dan karunia roh? Tema kebaktian hari ini adalah “Roh yang Menghadirkan Kebaikan Bersama”, mau mengingatkan kita bahwa Roh Kudus hadir bukan untuk memisahkan dan mengotak-kotakan umat, memecah belah, membedakan orang yang satu dengan yang lain karena karunia yang dimilikinya, melainkan Roh hadir dalam hidup kita untuk menghadirkan kebaikan bersama.
Dalam 1 Korintus12:8-10 Paulus memaparkan rupa-rupa karunia Roh: berkata-kata dengan pengetahuan, iman, menyembuhkan, mengadakan mukjizat, bernubuat, membeda-bedakan roh, berkata-kata dalam bahasa roh, menafsirkan bahasa roh. Semuanya dikerjakan oleh Roh yang satu, Roh Kudus dan diberikan kepada tiap-tiap orang secara khusus/khas, tidak sama. Tujuannya adalah untuk kepentingan bersama dan untuk membangun jemaat (1 Kor. 13:12) karenanya karunia-karunia itu perlu disinergikan dan saling mengisi, bukan jadi alat atau sarana untuk saling menghancurkan dan merendahkan. Kalau ada orang-orang tertentu dari suatu gereja memiliki karunia tertentu hendaklah ia memakainya untuk kepentingan bersama, bukan untuk kepentingan sendiri apalagi untuk menghancurkan dan melecehkan orang lain yang tidak punya karunia seperti yang ia punya.
GKI percaya Roh Kudus bekerja dalam diri anak-anak Tuhan. Roh Kudus memenuhi hidup kita dan memberikan karunia-karunia Roh supaya kita mengalami kebaikan bersama, mengalami penyertaan-Nya yang mendatangkan damai sejahtera dan siap menjalankan misi sebagai murid-murid Tuhan.
Karunia roh mesti dipandang sebagai sebuah anugerah dari Allah untuk memperlengkapi kita dalam menjalankan tugas pelayanan di tengah dunia. Karunia itu kita gunakan untuk membangun kepentingan bersama dan mendatangkan damai sejahtera bagi sesama dalam kesehariannya.
Hari ini kita memperingati hari Pentakosta. Kalau umat Israel di masa Perjanjian Lama memperingati turunnya firman Tuhan dalam bentuk Taurat dan mensyukuri hasil panen dengan memberikan buah sulung; maka kita sebagai umat Tuhan sesudah masa
Perjanjian Baru memperingati turunnya Roh Kudus dan mensyukuri karunia-karunia Roh yang memampukan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah dan saksi-saksi Kristus. Hadirnya Roh Kudus menghadirkan banyak kebaikan dalam hidup kita bersama sebagai umat Tuhan.
Karenanya kita hari ini juga mau mempersembahkan persembahan syukur tahunan kita, sebagai persembahan yang terbaik (konsep buah sulung: persembahan yang pertama dan terbaik, sebelum ada persembahan itu, tidak ada hasil panen yang bisa diperjualbelikan).
Saat Pentakosta tahun 2024 yang lalu kita mempersembahkan yang terbaik untuk ikut serta dalam pembangunan gereja – rumah Tuhan. Kini di tahun 2026, pembangunan Rumah Tuhan hampir mencapai akhirnya. Persembahan Syukur Tahunan kali ini akan kita fokuskan untuk merampungkan pekerjaan pembangunan Rumah Tuhan ini. Untuk melandasi ucapan syukur kita, mari renungkan yang dikatakan Eka Darmaputera: "Jumlah memang tidak selalu mencerminkan hati yang bersyukur; namun hati yang bersyukur selalu tercermin dari jumlah yang dipersembahkan kepada Tuhan".
Pdt. Danny Purnama