Hari ini Gereja merayakan peristiwa Pembaptisan Tuhan: momen Kristus tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya. Yesus datang ke Sungai Yordan dan berdiri di antara orang-orang yang hendak mengaku dosa. Pertanyaan yang timbul adalah, jika Yesus tidak berdosa (lih. 2Kor. 5:21; Ibr. 4:15) mengapa Ia perlu dibaptis?
Keberatan Yohanes Pembaptis untuk membaptis Yesus mewakili logika kita. Yang suci seharusnya tidak bercampur yang yang najis. Yang ilahi semestinya menjaga jarak dari yang duniawi. Dan sering kali, tanpa kita sadari, logika ini juga membentuk cara hidup gereja: menjaga jarak, membangun tembok, takut ‘tercemar’ oleh dunia. Namun Yesus menjawab, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah,” (ay. 15). Dengan memilih masuk ke Sungai Yordan, Yesus menyatakan bahwa Allah tidak lagi menjaga jarak dari kondisi manusia.
Pembaptisan Yesus adalah tanda solidaritas radikal Allah. Ia tidak memandang keberdosaan sebagai sesuatu yang harus dijauhi demi menjaga kekudusan, melainkan sebagai luka yang harus disentuh agar bisa disembuhkan. Ketidakberdosaan Yesus bukan berarti Ia kurang manusiawi, justru sebaliknya, Ia adalah manusia yang sungguh utuh. Sebab, dosa sekali-kali tidak pernah menjadi identitas utama manusia. Dalam Kristus, kemanusiaan dipulihkan dari dalam.
Injil Matius menyebut pembaptisan Yesus sebagai cara-Nya ‘menggenapkan seluruh kehendak Allah’. Kata kehendak Allah (kebenaran, dari Yun.: dikaiosune) di sini tidak terutama berarti kesempurnaan moral, melainkan kesetiaaan pada kehendak Allah. Dalam Kitab Suci, orang benar adalah orang yang hidup dalam relasi percaya penuh pada Allah. Maka pembaptisan Yesus adalah tindakan ketaatan total, sebuah “ya” terhadap rencana Allah untuk memulihkan dunia. Kebenaran Allah tidak tampil sebagai tuntutan yang menghakimi, tetapi sebagai kesetiaan yang membebaskan.
Ketika Yesus keluar dari air, Roh Allah turun dan dari surga terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, ...” (ay. 17). Suara ini menggema dengan gambaran Hamba Tuhan dalam Yesaya 42: hamba yang lembut, yang tidak mematahkan buluh yang terkulai, yang membawa keadilan dengan kesetiaan. Yesus dinyatakan sebagai Anak yang dikasihi sekaligus Hamba yang melayani. Di sinilah kita melihat cara Allah memerintah: bukan melalui dominasi, melainkan melalui kehadiran dan pelayanan.
Bagi kita, peristiwa pembaptisan Yesus mengajak kita untuk mengingat kembali baptisan kita sendiri. Baptisan bukan sekadar ritus gerejawi, melainkan pemberian identitas, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Namun identitas selalu disertai dengan tanggung jawab. Kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, yaitu berkata “ya” kepada kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari: mengampuni, melayani, menjaga integritas, dan hadir bagi sesama.
Jika Yesus rela masuk ke dalam sungai Yordan, gereja pun dipanggil untuk tidak menjaga jarak dari dunia. Hidup benar berarti berani turun, berani hadir, dan berani bersolidaritas. Di sanalah kebenaran Allah sungguh menjadi kebenaran yang membebebaskan bagi kita dan bagi dunia.