Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 22 Maret 2026
Bacaan Alkitab: Yehezkiel 37:1-14; Mazmur 130; Roma 8:6-11; Yohanes 11:1-45
Dalam beberapa dekade terakhir, para peneliti di bidang psikologi dan kesehatan mental semakin banyak mempelajari bagaimana manusia menghadapi pengalaman kehilangan. Salah satu temuan menarik datang dari penelitian mengenai post-traumatic growth, yaitu pertumbuhan batin yang justru muncul setelah seseorang mengalami peristiwa kehilangan yang berat. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog Richard Tedeschi dan Lawrence Calhoun menunjukkan bahwa sebagian orang yang mengalami kehilangan besar—baik kehilangan orang yang dikasihi, kehilangan kesehatan, maupun kehilangan harapan hidup—tidak selalu berakhir dalam kehancuran batin. Justru dalam banyak kasus, mereka menemukan makna hidup yang baru, kedalaman spiritual yang lebih kuat, serta hubungan yang lebih erat dengan sesama.
Penelitian ini memberikan satu pemahaman penting: manusia tidak hanya mampu bertahan dari kehilangan, tetapi juga dapat melampaui kehilangan itu sendiri. Kehilangan memang meninggalkan luka, tetapi luka itu tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan hidup.
Tema yang sama ternyata juga sangat kuat hadir dalam rangkaian bacaan Alkitab pada Minggu Pra Paskah yang kelima ini. Keempat bacaan yang kita dengarkan—dari kitab Yehezkiel, Mazmur, surat Roma, dan Injil Yohanes—menggambarkan situasi yang tampaknya telah berakhir, tetapi di dalam kuasa Allah justru muncul kehidupan yang baru. Dengan demikian, pesan iman yang disampaikan oleh Alkitab hari ini bukan hanya tentang bagaimana manusia menghadapi kehilangan, melainkan tentang bagaimana Allah membawa umat-Nya melampaui kehilangan itu.
Gambaran pertama muncul dalam penglihatan nabi Yehezkiel di Yehezkiel 37. Nabi itu dibawa oleh Roh Tuhan ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang kering. Tulang-tulang itu bukan sekadar simbol kematian, tetapi melambangkan kondisi bangsa Israel yang pada waktu itu hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka telah kehilangan tanah air, kehilangan kebebasan, bahkan kehilangan harapan akan masa depan. Dalam keputusasaan itu mereka berkata, “Pengharapan kami sudah hilang, kami sudah lenyap.”
Kalimat ini menggambarkan kehilangan yang paling dalam. Kehilangan bukan hanya berarti kehilangan sesuatu yang kita miliki, tetapi juga kehilangan keyakinan bahwa kehidupan masih memiliki masa depan. Namun justru di tengah gambaran yang begitu suram itu Allah melakukan sesuatu yang tidak terbayangkan. Melalui firman yang disampaikan oleh nabi, tulang-tulang kering itu mulai bergerak, saling menyatu, kemudian ditutupi oleh daging dan kulit. Ketika Roh Allah masuk ke dalamnya, mereka bangkit menjadi suatu pasukan yang sangat besar.
Melalui penglihatan ini Allah menyatakan bahwa Ia tidak hanya mampu memperbaiki sesuatu yang rusak, tetapi juga mampu menghidupkan kembali sesuatu yang telah dianggap mati. Ketika manusia berkata bahwa semuanya telah berakhir, Allah justru membuka kemungkinan baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Nada yang serupa juga terdengar dalam Mazmur 130. Mazmur ini dimulai dengan sebuah seruan yang sangat jujur: “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN.” Pemazmur berbicara dari tempat yang sangat gelap dalam hidupnya. Kata “jurang yang dalam” dalam bahasa Ibrani menggambarkan kedalaman laut yang sunyi dan menakutkan. Dari tempat seperti itulah pemazmur berseru kepada Tuhan.
Namun menariknya, mazmur ini tidak berhenti pada ratapan. Setelah mengungkapkan kesedihan yang mendalam, pemazmur kemudian berkata bahwa ia menanti-nantikan Tuhan lebih daripada penjaga menantikan pagi. Penantian ini bukanlah sikap pasrah tanpa harapan, melainkan keyakinan bahwa Allah tetap bekerja bahkan ketika manusia tidak melihat jalan keluar. Dengan demikian, mazmur ini menunjukkan bahwa iman tidak meniadakan kesedihan, tetapi iman memberikan keberanian untuk tetap berharap di tengah kesedihan itu.
Pemahaman ini kemudian diperdalam oleh rasul Paulus Rasul dalam Roma 8. Dalam bagian ini Paulus berbicara tentang kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah. Ia mengatakan bahwa keinginan daging membawa manusia kepada kematian, tetapi kehidupan yang dipimpin oleh Roh membawa kehidupan dan damai sejahtera. Paulus bahkan menyatakan bahwa Roh yang membangkitkan Kristus dari kematian juga bekerja di dalam diri orang percaya. Roh itu bukan hanya menjanjikan kehidupan pada masa yang akan datang, tetapi sudah mulai menghadirkan kehidupan baru di tengah kehidupan sekarang.
Artinya, kehidupan iman tidak hanya berbicara tentang keselamatan pada akhir zaman. Kehadiran Roh Allah juga memberikan kekuatan bagi manusia untuk bangkit dari pengalaman kehilangan, keputusasaan, dan kematian batin yang sering kali terjadi dalam perjalanan hidup.
Semua pesan ini mencapai puncaknya dalam kisah yang sangat terkenal dalam Yohanes 11, yaitu kisah tentang kebangkitan Lazarus. Lazarus adalah sahabat Yesus yang sangat dikasihi bersama dengan kedua saudarinya, Maria dan Marta. Ketika Lazarus sakit, mereka segera mengirim kabar kepada Yesus. Namun Yesus tidak segera datang. Ketika Ia akhirnya tiba di Betania, Lazarus telah empat hari berada di dalam kubur.
Situasi ini menggambarkan kehilangan yang sangat nyata. Marta dan Maria tidak hanya kehilangan saudara mereka, tetapi juga merasa kehilangan harapan bahwa sesuatu masih dapat dilakukan. Bahkan Marta berkata kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Menariknya, sebelum melakukan mukjizat, Injil Yohanes mencatat satu hal yang sangat menyentuh: Yesus menangis. Ayat ini sangat pendek, tetapi memiliki makna teologis yang sangat dalam. Yesus tidak datang sebagai pribadi yang jauh dari penderitaan manusia. Ia sungguh-sungguh merasakan kesedihan yang dialami oleh sahabat-sahabat-Nya.
Namun kisah ini tidak berhenti pada tangisan. Di depan kubur Lazarus, Yesus berkata kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Setelah itu Yesus berseru dengan suara keras, “Lazarus, marilah keluar!” Dan Lazarus pun keluar dari kubur.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa kuasa Kristus tidak hanya hadir untuk menghibur manusia dalam penderitaan, tetapi juga untuk menghadirkan kehidupan yang baru di tengah situasi yang tampaknya telah berakhir.
Jika kita melihat keempat bacaan Alkitab hari ini secara bersama-sama, kita dapat melihat satu benang merah yang sangat jelas. Yehezkiel berbicara tentang tulang-tulang kering yang dihidupkan kembali. Mazmur 130 berbicara tentang seruan dari kedalaman penderitaan yang berubah menjadi pengharapan. Paulus berbicara tentang Roh Allah yang memberikan kehidupan baru. Dan Injil Yohanes memperlihatkan Yesus yang membangkitkan Lazarus dari kematian.
Semua ini menyatakan satu kebenaran yang sama: Allah tidak berhenti pada realitas kehilangan. Allah membawa umat-Nya melampaui kehilangan itu.
Kehilangan memang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Kita bisa kehilangan orang yang kita kasihi, kehilangan kesempatan yang kita harapkan, kehilangan kesehatan, bahkan kehilangan arah hidup. Dalam situasi seperti itu, manusia sering merasa bahwa kehidupan telah mencapai titik akhir.
Namun iman Kristen mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah kata terakhir dalam cerita kehidupan. Karena di dalam Kristus, bahkan kubur sekalipun bukanlah akhir. Perjalanan menuju Paskah selalu melewati jalan salib, tetapi salib tidak pernah menjadi tujuan terakhir. Salib selalu mengarah kepada kebangkitan.
Itulah sebabnya orang percaya dapat berjalan dengan pengharapan. Bukan karena kehidupan selalu mudah, tetapi karena kita percaya bahwa Allah sanggup menghadirkan kehidupan baru bahkan dari tempat yang paling gelap sekalipun.
Dengan demikian, pesan firman Tuhan pada Minggu Pra Paskah yang kelima ini mengingatkan kita bahwa kehilangan memang nyata dalam kehidupan manusia, tetapi dalam kuasa Allah, kehilangan tidak pernah menjadi akhir dari cerita. Dalam tangan Tuhan, bahkan pengalaman kehilangan dapat menjadi jalan menuju kehidupan yang baru.
Pdt. Pramudya Hidayat