Warta Jemaat GKI Gading Serpong, Minggu, 2 September 2018
Manusia membutuhkan uang. Uang tunai atau uang elektronik dibutuhkan pada jaman “now” untuk mendapatkan kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kendatipun membutuhkan uang, manusia harus bijak terhadap uang, bukan tamak akan uang.
Tanpa sikap yang bijak terhadap uang, manusia cenderung keliru dalam memposisikan uang, mendapatkan uang dan menggunakan uang. Banyak orang yang keliru memposisikan uang. Uang menempati posisi yang terutama dan terpenting dalam hidupnya. Karena sikap keliru itu, tanpa disadari, uang bukan lagi menjadi pelayan, melainkan telah menjadi tuan atas diri mereka. Orang-orang yang menjadi hamba uang cenderung keliru dalam cara untuk mendapatkan uang. Para hamba uang itu menjadi tamak dan cinta akan uang. Karena tamak akan uang, mereka jatuh ke dalam berbagai pencobaan (1Tim. 6:9). Karena cinta akan uang, mereka mehalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, sehingga mereka menyimpang dari iman yang benar (1Tim. 6:10). Para hamba uang itu senantiasa keliru menggunakan uang. Ada yang memakai uangnya untuk berfoya-foya dan berbuat dosa. Ada pula yang menimbun uang untuk dirinya sendiri, tanpa mau peduli pada orang lain yang membutuhkan pertolongan (Luk. 16:19-21).
Bagaimana bersikap bijak terhadap uang? Pertama, tempatkan uang pada posisi yang tepat. ”Jangan menjadi hamba uang” (Ibr. 13:5a). Sebaliknya, posisikan uang sebagai pelayan yang setia sesuai dengan kehendak Allah. Jadilah hamba Tuhan, bukan hamba uang. Posisikan uang yang Tuhan karuniakan itu sebagai “hamba” yang melayani kepentingan sesama manusia untuk kemuliaan-Nya. Kedua, gunakan cara yang benar untuk mendapatkan uang. Jadilah umat Allah yang berintegritas. Apapun pekerjaan, usaha, atau profesi yang dimiliki, lakukanlah dengan setia seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kol. 3:22; 4:1). Ketiga, miliki rasa cukup di dalam hati (1Tim. 6:6-8). Ibadah yang disertai rasa cukup memberi keuntungan besar. Rasa cukup membuat orang senantiasa bersyukur, hidup akur, dan bisa memberi kepada keluarga dan berbagi kepada orang-orang lain yang membutuhkan. Keempat, memakai uang untuk menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan Allah. Alkitab mengajar kita untuk memuliakan Allah dengan harta yang kita miliki (Ams. 3:9). Janganlah hanya menimbun harta di dunia untuk diri sendiri, tetapi pakailah uangmu untuk mendukung misi Allah di dunia ini dan menjadi berkat bagi sesama. Itulah cara untuk menyimpan harta di surga (Mat. 6:19-21).
Kita harus menjadi bijak terhadap uang. Tempatkanlah uang pada posisi yang tepat: bukan sebagai tuan, tetapi sebagai pelayan. Gunakan cara yang benar dalam mendapatkan uang, miliki rasa cukup di dalam hati, dan pakailah uang untuk menjadi berkat bagi sesama dan memuliakan Allah.
AL