Tahun 2012, saya merasa mual seperti sakit maag, dan kepala terasa sakit tak tertahankan, sehingga dirawat di Siloam Hospital Lippo Village, dan ditangani oleh internis/dokter spesialis penyakit dalam. Oleh dr. Maria Irawati Sp.PD, saya sudah diberi obat untuk sakit maag, tetapi sakit kepala saya tidak kunjung hilang. Saya pun dirujuk ke dokter spesialis saraf, Prof. Yusak Siahaan. Walaupun sudah diberi obat, tetap rasa sakit kepala itu tidak hilang. Prof. Yusak kemudian merekomendasikan agar saya menjalani pemeriksaan MRI untuk mengetahui penyebabnya.
Hasil MRI menunjukkan saya menderita arteriovenous malformation (AVM), yaitu suatu kelainan bawaan pada sistem pembuluh darah, yang menyebabkan saya rawan mengalami strok pendarahan. Karena penyakit ini berhubungan dengan bidang bedah saraf, Dr. dr. Harsan, Sp.BS(K), M.Kes. dan Prof. Dr. dr. Eka Julianta Wahjoepramono, Sp.BS(K), PhD datang menjelaskan hasilnya kepada kami, bahwa untuk mengatasinya, diperlukan tindakan operasi. Mereka pun menyarankan kami untuk mempertimbangkan opsi tersebut.
Mendengar vonis dokter, perasaan saya down, pikiran menjadi kacau. Dokter Harsan mengajak saya berbicara kembali, dan berusaha menenangkan saya. Keesokan harinya, istri dokter Harsan menemui saya, juga berusaha menenangkan hati saya. Katanya, saya tidak perlu takut atau khawatir. Yang penting, saya tidak stres, cukup istirahat, dan tenang.
Saya juga menelepon dr. Wani Gunardi, untuk meminta pendapatnya. Oleh dr. Wani, saya diminta untuk menenangkan diri, agar dapat mengambil keputusan terbaik. Dokter Maria, internis yang menangani saya pun meminta saya menenangkan diri. Keadaan saya memang berat, tetapi saya harus tenang. Saya diperbolehkan pulang, dengan catatan harus kontrol ke dokter saraf.
Beberapa hari setelah pulang, saya kembali kontrol ke rumah sakit. Prof. Yusak mengatakan, keputusan ada di tangan saya. Dokter tidak dapat memberikan pengobatan jika saya belum mengambil keputusan. Saya kemudian mampir menemui dokter Harsan. Dokter Harsan menjelaskan secara rinci tentang AVM dan biaya operasinya.
Karena biaya operasinya sangat besar, sementara asuransi dan BPJS (saat itu) tidak menanggung biayanya (karena merupakan penyakit bawaan), kami belum mampu menyediakan uang untuk kebutuhan tersebut. Kami pun memutuskan untuk menunda tindakan operasi, dan hanya berusaha menjaga agar pikiran saya senantiasa tenang, cukup tidur, tidak berpanas-panasan, dan tidak stres, sambil terus berdoa, memohon kepada Tuhan, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, yang membuat saya harus dioperasi.
Tanggal 25 Desember 2019, seusai ibadah Natal, ketika bertemu saya di lobi SMA Penabur Gading Serpong, Pdt. Em. Andreas Loanka (saat itu belum menjalani emeritasi) berkomentar bahwa mulut saya agak miring. Saat itu saya berkata, “Masa sih, Pak?” Apa yang dikatakannya itu terus terngiang di pikiran, tetapi saya terus berusaha menyangkalnya. Awal 2020, pandemi COVID 19 melanda. Saya pun melupakannya, karena perhatian saya tersita oleh berita-berita dan rasa takut karena pandemi.
Pada tanggal 31 Oktober 2020, sepanjang hari saya melakukan kegiatan seperti biasa, termasuk bekerja. Sore harinya, saya pun sempat mengikuti persekutuan wilayah secara daring. Kebetulan pembicaranya adalah Pdt. Em. Andreas. Malamnya, kami sekeluarga makan di luar, di Bale Permata Sport Club, Lippo Village. Kami sempat bertemu dengan Pnt. Arif Suryanto dan istrinya, bahkan sempat mengobrol, walaupun hanya sebentar, untuk membatasi komunikasi. Sewaktu makan, perut terasa tidak enak, mual. Rasanya ingin muntah. Saya pikir, mungkin dengan minum cokelat hangat akan membantu. Namun, ternyata rasa tidak enak badan itu tetap ada. Saya memaksakan tidur, dan berharap besok pagi akan segar kembali. Pada pukul 01.00 dini hari, entah mengapa, badan terasa seperti ada yang meraba-raba, dan kepala saya sakit luar biasa.
Saya bangunkan suami, dan berseru, “Tolong bantu saya! Kenapa ini? Tolong bantu doakan, ini pasti kuasa gelap!” Saya berusaha berdiri, tetapi kaki sebelah kiri terasa berat sekali. Sambil mengentak-entakkan kaki, saya berdoa, “Dalam nama Tuhan Yesus, enyahlah kuasa gelap!” Namun, suami saya berkata, “Ini bukan kuasa gelap, tetapi penyakit AVM kamu!”
Dengan susah payah, ia mencoba meyakinkan satpam (yang khawatir bahwa saya terkena COVID-19) untuk mau membantunya menggotong saya, agar dapat dibawa dengan mobil ke rumah sakit. Sebelum berangkat, suami saya pun menyempatkan diri menelepon dokter Harsan, mengabarkan tentang kondisi saya, dan segera melarikan saya ke Siloam Hospital Lippo Village. Di tengah perjalanan, saya tidak sadarkan diri.
Sesampainya di sana, karena prosedur pencegahan COVID-19, saya masih harus menjalani swab test dahulu. Setelah hasilnya negatif COVID-19, barulah saya dapat menerima penanganan. Puji Tuhan, saya ditangani dengan baik oleh Dokter Harsan, Dr. dr. Petra O. P. Wahjoepramono, Sp.BS, B.Med.Sci(Hons.), FICS, FINSS, juga Prof. Eka, yang begitu memperhatikan saya.
Ternyata benar, penyakit AVM saya kambuh. Selama beberapa hari, tingkat kesadaran saya naik turun. Diputuskan, saya harus menjalani operasi pembuluh darah otak. Dengan persetujuan suami, akhirnya dijadwalkan untuk dilakukan operasi di bulan November 2020. Segala persiapan pun dilakukan, termasuk persiapan hati saya untuk menghadapi operasi. Saya hanya bisa berharap agar dapat melewati semua ini dengan selamat, karena yang akan dioperasi adalah bagian kepala.
Kami menyaksikan, campur tangan Tuhan sungguh luar biasa. Masalah biaya yang dahulu membuat kami harus menunda tindakan operasi pun tercukupkan. Tuhan menggerakkan hati keluarga besar, teman-teman, tim dokter Siloam Hospital Lippo Village, dan Yayasan Otak Indonesia untuk menanggung biayanya. Biaya operasi, termasuk biaya pemeriksaan DSA yang dilakukan sebelumnya pun, mereka yang mengurus semuanya. Ketika akhirnya saya diperbolehkan pulang, sudah tidak ada tagihan biaya apa pun yang harus kami bayar, berkat bantuan orang-orang baik ini.
Malam sebelum operasi, saya berdoa bersama suami dan anak-anak. Malam itu, entah mengapa, saya mempunyai kekuatan, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus, bahkan seandainya pun saya harus kembali ke Rumah Bapa. Saya tenang sekali menjalani puasa dan pengecekan sebelum operasi.
Tiba waktunya saya harus dibawa masuk ke ruang operasi. Sebelum diantar ke sana, saya berdoa bersama Pdt. Em. Santoni Ong (saat itu belum menjalani emeritasi), suami, dan anak-anak. Suami saya berkata, “Jangan takut! Kita berdoa buat kamu.Seandainya kamu harus kembali ke Rumah Bapa, kelak kita akan berkumpul lagi di sana. Hidup mati, kita bersama! Itu juga menjadi sumber kekuatan yang sangat besar bagi saya untuk menghadapi operasi.
Sesampainya di ruang operasi, keajaiban terjadi. Tuhan membuat saya tidak melihat suasana ruang operasi yang menyeramkan. Entah sadar atau tidak, tetapi mata saya tidak melihat meja operasi, perlengkapan bedah, lampu ruangan, dan sebagainya. Malahan, yang saya lihat adalah pemandangan yang begitu indah, dengan nuansa hijau, banyak pepohonan, dan air yang gemericik. Saya juga melihat semacam ruangan perpustakaan bernuansa coklat. Saya merasa damai dan sejuk sekali. Hanya terdengar suara, “Kita mulai.”
Saat operasi berlangsung, dalam kondisi dibius total, saya mendapat penglihatan bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang yang berdoa bagi saya. Yang saya ingat adalah wajah-wajah keluarga besar dan guru-guru sekolah Minggu yang tertunduk, tekun berdoa. Saya juga melihat seseorang berpakaian putih, yang menginstruksikan jalannya operasi.
Puji Tuhan, operasi yang berjalan selama 6-8 jam itu berlangsung dengan sukses. Seharusnya, setelah operasi saya dibawa ke ruang ICU. Namun, karena kondisi saya baik dan sudah sadar, saya langsung dibawa ke ruang perawatan. Sesampainya di ruang perawatan, saya seperti mencium bau badan yang menyengat. Jadi, saya tidak mau ada orang masuk ke dalam ruang perawatan itu. Sampai-sampai saya memohon kepada dokter, supaya tidak ada yang masuk ke sana. Dokter menenangkan suami saya, “Tidak apa-apa, Pak. Ini hanya pengaruh obat bius,” karena terlihat suami begitu mengkhawatirkan kondisi saya.
Semakin hari, saya semakin dipulihkan. Meskipun belum bisa berjalan, saya sudah diperbolehkan pulang, hanya diharuskan menjalani terapi, agar dapat berjalan kembali. Puji Tuhan, tidak terlalu lama, saya sudah bisa berjalan dan semakin dipulihkan. Meskipun sampai saat ini kondisi sebelah tubuh saya masih kaku, tetapi saya menikmati proses yang Tuhan Yesus berikan. Saya sangat bersyukur masih bisa bekerja, mengurus keluarga, dan terutama, sampai sekarang saya masih bisa melayani.
*Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.
Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23