Pelayanan bagi kita bukan sesuatu hal yang asing, dan bisa dilihat dari berbagai aspek. Di Filipi 2:1-11 dikatakan, “… dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Semua orang yang mengaku sebagai Kristen haruslah menyadari, bahwa dirinya adalah seorang pelayan atau hamba. Kita dipanggil untuk memiliki gaya hidup yang mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri kita sendiri. Jujur, konsep ini tidak mudah, karena keinginan daging kita tidak sama dengan keinginan roh, atau kadang situasi yang membuat kita lupa akan hal ini. Tetapi dalam kelemahan kita sebagai manusia, tiap hari kita bisa belajar dari pengalaman hidup, belajar untuk taat akan firman Tuhan, dan belajar untuk mengasihi, seperti pengajaran Paulus dalam Filipi 2:2-3, “… tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.”

Paulus pun melanjutkan, agar kita meneladani Yesus Kristus, “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (ay. 6-7). Hal ini selaras dengan perkataan Yesus, sendiri bahwa tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia adalah untuk melayani (Markus 10:45). Jika demikian, kita meyakini bahwa prinsip melayani adalah prinsip yang seharusnya mewarnai seluruh kehidupan orang percaya, termasuk di dalam bidang pernikahan dan keluarga. Jika ini jadi landasan dalam keluarga kita, saya yakin sesulit apapun keadaan, maka keharmonisan keluarga akan terjaga dengan baik.

Gary Chapman pernah berkata, “Dalam keluarga yang sehat, para anggota mempunyai perasaan bahwa kalau mereka melakukan sesuatu untuk kepentingan anggota-anggota keluarga lain, mereka melakukan sesuatu yang benar-benar baik. Dalam keluarga yang fungsional, akan bertumbuh suatu kesadaran, bahwa melayani orang lain merupakan salah satu panggilan hidup yang paling tinggi”. Mandat budaya yang Allah tetapkan ini masih tetap berlaku hingga masa kini. Allah tetap memanggil keluarga-keluarga Kristen untuk menjadi keluarga yang melayani, sehingga bisa menjadi berkat bagi keluarga itu sendiri dan bagi pekerjaan Allah pada umumnya. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

Yang dimaksud dengan “menjadi berkat bagi keluarga itu sendiri” adalah ketika anggota keluarga merasakan arti kehadiran kita di tengah-tengah mereka. Itu bisa terbentuk dengan sendirinya, jika kita menjadi teladan dan melayani dengan sungguh-sungguh. Bila suami dan istri memberikan teladan yang baik dalam hal saling melayani, maka ini akan menginspirasi atau mendorong seluruh anggota keluarga untuk melayani. Orang yang tidak pernah dilayani akan sulit tergerak untuk melayani. Sebaliknya, orang yang pernah dilayani akan lebih mudah untuk melayani. Dengan demikian, anak-anak akan terdorong untuk melayani di tengah-tengah keluarga. Dengan kata lain, ini akan membangun spirit saling melayani di dalam keluarga.

Bila hal ini terjadi, maka semangat untuk saling melayani akan mewarnai pernikahan dan keluarga. Keluarga akan belajar untuk mengutamakan other-centered, dan belajar untuk tidak self-centered. Selain menjadi berkat bagi keluarga sendiri, hal ini pun bisa menjadi berkat bagi pekerjaan Allah. Kita akan membawa keluarga kita untuk menjadi keluarga yang peduli kepada pekerjaan Allah, misalnya terlibat dalam pelayanan di gereja, seperti menjadi penerima tamu, pemimpin pujian, organis, guru sekolah minggu, tim multimedia, tim perlawatan, tim doa, dan lain-lain, atau di lembaga misi dan pelayanan-pelayanan sosial lainnya. Keterlibatan keluarga-keluarga dalam pekerjaan Allah sangat diperlukan, selain untuk melaksanakan mandat budaya, juga karena pekerjaan Allah yang begitu luas membutuhkan keterlibatan seluruh jemaat Tuhan. Setiap umat memiliki peran penting dalam pekerjaan Tuhan.

Melayani di Tengah Lingkungan Kerja

Dalam tugas sehari-hari, baik itu di kantor atau di lingkungan gereja, melayani sama pentingnya dengan sikap yang baik. Pelayanan diawali dengan komunikasi yang sehat, dengan memberikan senyum, diikuti salam selamat pagi, siang, atau malam, lantas diperkuat dengan jabat tangan dan saling bertegur sapa. Karena sekarang pandemi sudah selesai, jadi kita sudah boleh berjabat tangan lagi. Biasanya langkah awal ini akan membentuk chemistry yang baik, sehingga orang lain akan merespons balik secara positif, dan membentuk kesadaran dalam pikiran dan hati setiap individu. Senyuman dan sapaan akan mencairkan kebekuan pada awal pertemuan, dan membentuk persepsi, bahwa setiap orang adalah subyek dan kehadirannya bernilai.

Dari beberapa buku referensi yang pernah saya baca, ada beberapa istilah yang berhubungan dengan konsep pelayanan, seperti quality and responsibility (kualitas dan tanggung jawab) yang keberadaannya saling terkait dalam pelayanan. Quality comes before quantity (utamakan kualitas daripada kuantitas). Saya pernah ditanya oleh seorang pimpinan perusahaan ketika bertemu di tempat seminar, mana yang lebih penting, kualitas atau kuantitas yang harus menjadi prioritas utama pekerjaan di dalam dan di luar perusahaan? Tentunya kalau ingin melayani, maka skala prioritas mengacu kepada kualitas terlebih dahulu, baru diikuti dengan kuantitas. Cara berpikir dan bertindak yang mementingkan kualitas merupakan cikal-bakal kesuksesan.

Kebetulan saya bertugas dalam dunia pendidikan, persisnya di BPK PENABUR Jakarta, sebagai salah satu tenaga pendidik. Dari beberapa goal (pencapaian) yang diberikan yayasan kepada kami semua, konsep pelayanan harus optimal dan berkualitas. Aspek kuantitas dapat ditingkatkan dalam keseimbangan kinerja, tapi yang paling utama adalah kualitas. Setelah konsep ini dipegang dan dilakukan, baru bisa dilanjutkan dengan attention to detail (memperhatikan rincian semua bagian). Pernah saya bertanya kepada seorang petugas cleaning service di sekolah, yang bekerja dengan tekun dan memuaskan, apa resepnya bisa membuat ruang kelas, ruang guru, dan ruang kepala sekolah semua rapi dan bersih? Jawabannya sederhana, yaitu perhatian mendetail pada semua bagian ruangan yang dibersihkan, alias tanpa sampah, tanpa debu, tanpa noda, tanpa bau, dan rapi. Artinya pekerjaan mendetail memerlukan sebuah perhatian besar, ketekunan, dan ekstrakonsistensi sebagai akar kesuksesan pelayanan yang berkelanjutan.

The Best Day Service (Pelayanan Terbaik Setiap Hari)

Kalau saya bertanya kepada bapak/ibu semua, apa yang membuat kita nyaman mengambil uang di BCA dibandingkan di bank lain? Kuncinya adalah kualitas pelayanan yang mereka berikan membuat kita puas. Rahasianya adalah sebelum memulai aktivitas, semua karyawan selalu di-briefing dulu, dan mereka punya motto yang bagus dan jelas. Tentu jika dirunut ke atas, sistem dan regulasi mereka sudah berjalan dengan baik; pimpinannya memberikan contoh yang baik kepada bawahannya, demikian juga sebaliknya. Dari contoh yang saya sebutkan di atas, tentu pelayanan itu akan berhasil, jika ada hati yang tulus, penuh dedikasi, dan menghargai sesama dengan baik, serta punya team work (kerja tim) yang baik.

Kesimpulannya, pelayanan yang benar adalah kunci interaksi kita dengan siapa pun, baik pelanggan, rekan sekerja, atasan, maupun keluarga. Melayani berarti kita peduli pada orang lain dan membuat mereka senang, apa pun hasil akhirnya. Sikap melayani bisa kita tumbuh-kembangkan, mulai dari hal kecil dan sederhana, sehingga dapat menjadikannya sebagai bentuk pendidikan dalam hal menghargai pihak lain. Demikian sharing saya dalam bentuk tulisan ini, semoga bermanfaat.

Sumber:

Palau L. et al. Pola Hidup Kristen. 1989. Gandum Mas. Malang.