Batu yang Berbicara
Ada yang berbeda dalam perayaan Rabu Abu di GKI Gading Serpong, 18 Februari 2026 malam, di Aula lantai 6 SMAK Penabur, Jl. Kelapa Gading Barat, Pakulonan Barat, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Begitu memasuki ruang ibadah, pandangan jemaat mungkin langsung tertuju pada sesuatu yang tak biasa di sisi kanan mimbar. Di belakang deretan lilin, berdiri sebuah batu besar berwarna abu kehitaman, kokoh dan berat, seakan menjadi fondasi sunyi bagi malam pertobatan itu.
Di atasnya, terpasang tujuh batu berukuran lebih kecil, masing-masing berdiameter sekitar 60 sentimeter. Permukaannya kasar, dengan tulisan tinta putih yang kontras dan tegas: kemunafikan, keakuan, kemelekatan, dahaga, kegelapan, kehilangan, pemuliaan diri. Kata-kata yang menghiasi mimbar ini membuat suasana ibadah menjadi lebih dalam, lebih kontemplatif, bahkan sedikit mengguncang.
Batu-batu itu seolah menjadi representasi realitas manusia saat ini, ketika manusia diperhadapkan dengan kegelapan, keputusasaan, kehilangan, serta kematian yang tak terhindarkan, menggambarkan apa yang menjadi tema Ibadah Rabu Abu malam itu, “Melepas Kemunafikan”, yang menjadi awal perjalanan kita memasuki Masa Raya Paskah.
Pertanyaan yang Mengguncang
Tepat pukul 19.30 WIB, kebaktian dimulai. Malam itu, ruang ibadah terasa lebih ramai dibanding tahun sebelumnya. Sekitar seribu jemaat memenuhi ruangan. Gesekan biola dan denting piano mengiringi doa pribadi dalam keheningan. Lagu “Tenanglah Kini Hatiku” kemudian terlantun merdu, seolah menjadi doa kolektif, agar Tuhan menenangkan batin yang mungkin sedang bergolak.
Pdt. Pramudya Hidayat mengawali ibadah dengan membacakan firman dari Injil Matius 6:1–6, 16–21. Namun, sebelum masuk lebih jauh, ia mengajukan satu pertanyaan yang menggema dua kali dari atas mimbar, “Benarkah manusia saat ini semakin terlatih mengelola penampilan, tetapi kurang terlatih mengelola batin?” Pertanyaan itu menggantung, menembus ruang ibadah yang hening.
Ia menyoroti realitas yang tidak asing. Banyak yang terlihat saleh di ruang publik, tetapi batinnya dipenuhi iri hati. Banyak yang hadir dalam ibadah demi pencitraan. Banyak yang berpuasa/berpantang demi reputasi. Banyak yang bersedekah untuk mendulang pujian.
Ibadah Rabu Abu, tegasnya, bukanlah tentang pulang dengan tanda abu yang diperlihatkan kepada orang lain. Bukan tentang betapa “kerennya” simbol itu di dahi. Sebab, jangan-jangan, abu itu justru adalah pengingat paling jujur, bahwa manusia itu fana dan akan kembali menjadi debu.
Koyakkan Hatimu!
Seruan dari Kitab Yoel 2:1–2, 12–17 yang dikutip Pdt. Pramudya kembali ditegaskan, “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu!” Allah meminta lebih dalam daripada sekadar ekspresi lahiriah. Ia meminta pembaruan batin. Bukan supaya orang lain melihat kita sedang bertobat, tetapi supaya kita sungguh kembali kepada-Nya.
“Kemunafikan bisa tumbuh karena kita tidak lagi takut kepada Tuhan,” ujar Pdt. Pramudya. Ia menekankan, kemunafikan kini bukan sekadar masalah individual, melainkan bisa menjalar dalam komunitas. Dalam kitab Yoel, semua dikumpulkan untuk bertobat—bukan untuk dipermalukan, melainkan untuk dipulihkan. Sebab, pertobatan, tambahnya, dimulai dari hati yang remuk dan hancur. Dan, Tuhan tidak mencari citra, melainkan kejujuran.
Pdt. Pramudya mengingatkan tiga praktik utama orang beriman: berdoa, bersedekah, dan berpuasa/berpantang. Bukan soal berapa lama berpuasa/berpantang. Bukan soal berapa besar bersedekah. Bukan soal berapa sering berdoa. Melainkan, apa dasar dan latar belakang kita melakukannya. Yang dicari adalah doa sejati, sedekah sejati, dan puasa/pantang sejati—yang berakar pada relasi dengan Allah.
Sebab, satu kata penting malam itu adalah “tersembunyi”. Kemunafikan jelas ingin membangun citra dan pengakuan dari manusia. Namun, kesalehan yang tersembunyi justru rela kehilangan pujian manusia, bahkan kadang dihujat, demi berkenannya Allah.
Perjalanan Iman
Sebelum menutup khotbahnya, Pdt. Pramudya mengajak jemaat memasuki 40 hari perjalanan iman selama masa pra-Paskah. Ia meminta jemaat menggeser orientasi dari pujian manusia kepada perkenanan Allah. Dalam buku panduan yang dibagikan, terdapat jurnal dan refleksi harian, yang mengajak jemaat jujur dan apa adanya tentang pengalaman tersembunyi bersama Tuhan.
Bukan sekadar mengenang penderitaan Kristus, tetapi mengizinkan Tuhan memperbarui hidup. Jemaat diajak berpuasa/berpantang dan melakukan aksi kasih nyata—memilih bentuk puasa/pantang sesuai pergumulan masing-masing, melepas hal yang mengikat, dan membuka ruang bagi Tuhan bekerja. Sebab, Pra-Paskah bukan ritual tahunan. Ia adalah perjalanan transformasi.
Batu dan Abu
Momen tak terduga terjadi ketika Pdt. Pramudya berjalan menuju batu besar di belakang lilin. Ia mengambil batu kecil bertuliskan “KEMUNAFIKAN”, lalu mengangkatnya, menutupi wajahnya. “Saudara-saudara, kita melepaskan kemunafikan, keinginan untuk dilihat atau dipuji orang lain.” Lalu, batu itu pun diturunkan. Sebuah gambaran visual yang kuat. Seperti batu yang menutup wajah, demikian pula kemunafikan menutup keaslian diri.
Setelah doa pengakuan dosa, Pdt. Pramudya menuruni mimbar. Di hadapannya, telah berdiri para pendeta lain, secara berurutan dari sebelah kiri ke kanan, mulai dari Pdt. Devina Erlin Minerva, Pdt. Em. Andreas Loanka, Pdt. Em. Santoni Ong, Pdt. Erma Primastuti Kristiyono, dan Pdt. Danny Purnama. Di hadapan mereka, ada meja bertaplak putih dengan dua mangkuk di atasnya. Satu berisikan abu, dan satunya lagi berisi air.
Lagu “Hanya Debulah Aku” (KK072) mengiringi jemaat yang maju satu per satu. “Kau adalah debu dan akan kembali menjadi debu,” ucap para pendeta, mengutip Kejadian 3:19, sembari mengoleskan abu di dahi jemaat. Ketika abu disentuhkan di dahi, terasa dingin, sejuk. Dinginnya bertahan cukup lama malam itu, menyatu dengan alunan musik, “Ampun seribu ampun, hapuskan dosa-dosaku…”
Anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia berdiri dalam antrean yang sama. Tidak ada yang lebih benar. Tidak ada yang lebih rohani. Semua rapuh. Semua fana. Semua membutuhkan anugerah.
Batu-batu itu keras dan berat. Abu itu ringan dan rapuh. Namun, keduanya berbicara tentang hal yang sama. Apa yang keras dalam hati perlu dilepaskan. Apa yang fana dalam diri perlu diakui.
Batu kemunafikan mungkin sudah diturunkan dari mimbar. Abu di dahi mungkin akan hilang ketika wajah dibasuh seusai jemaat pulang dari ibadah. Namun, pertanyaan yang tertinggal lebih berat dari semuanya, “Apakah kita sungguh-sungguh mengoyakkan hati, atau hanya memindahkan topeng kemunafikan ke tempat yang lebih tersembunyi?”
Di bawah cahaya lampu yang mulai redup, jemaat pulang membawa tanda yang samar. Malam itu juga, tanda itu pasti sudah akan memudar. Air akan menghapusnya dengan mudah. Namun, kiranya keberanian untuk hidup tanpa kemunafikan tidak ikut memudar. Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mencari penampilan yang rapi. Ia mencari hati yang jujur. Dan, hati yang jujur—meski remuk dan rapuh— selalu lebih berharga di hadapan-Nya daripada citra yang tampak sempurna.
*Penulis adalah anggota wilayah X - GKI Gading Serpong.