Komisi Dewasa GKI Gading Serpong mengadakan pembinaan  dengan tema ”Walk of Life”, dengan subtema ”Mentoring yang Relasional dan Relevan”, pada Sabtu, 10 Januari 2026. Pembinaan ini diadakan di Ruang Matius, Griya Anugerah, Jalan Kelapa Puan Raya, Blok CA 12 Nomor 20–21, Gading Serpong, Tangerang. Pembicaranya adalah Drs. Thomas Kristo, M., M.M., ELT, yang mungkin bagi sebagian dari kita akrab dikenal dengan sebutan ”Sir T”. Ia adalah seorang pendidik, pernah menjadi kepala sekolah di beberapa sekolah menengah pertama di lingkup Penabur, dan pernah menjadi kepala sekolah di SMAK Penabur Gading Serpong.

Pembinaan ini awalnya dimaksudkan sebagai pembinaan khusus bagi para mentor yang melayani dalam kelas ”Premarital Class” di lingkungan GKI Gading Serpong. Namun, mengingat semangat kesatuan pelayanan, kemudian pembinaan ini juga terbuka bagi  seluruh pelayanan mentoring yang ada di lingkungan GKI Gading Serpong.

Sebelum pembinaan dimulai, Pendeta Danny Purnama memimpin doa persiapan. Pembinaan kemudian dibuka dengan doa oleh Florinda Sinaro, mentor dari program Premarital Class. Pembicara membuka dengan pertanyaan tentang apa yang diharapkan dari para peserta yang ikut di dalam pembinaan ini. Para peserta diminta untuk menuliskan satu saja jawabannya dalam selembar post-it, yang kemudian ditempelkan di papan tulis. Kemudian, dipilih beberapa untuk dibacakan. Beberapa di antara jawaban yang masuk adalah agar dapat menjadi mentor yang lebih baik, lebih efektif, dan berbagai jawaban lainnya.

Pembicara kemudian meminta peserta yang hadir untuk bercerita tentang kelompok kecil yang mereka layani, dan sudah berapa lama mereka melayani sebagai mentor. Ada peserta yang bercerita, ia sudah menjadi mentor selama sembilan tahun dalam program Premarital Class. Ada juga yang sudah menjadi pemimpin kelompok kecil selama tujuh belas tahun, sejak GKI Gading Serpong mengadakan program Life Expedition. Kelompok kecil yang dipimpinnya tidak saja masih berjalan sampai saat ini, tetapi sudah menghasilkan buah berupa beberapa mentor dari anggota awal kelompok kecil ini.

Setelah itu, pembicara kemudian juga menceritakan kelompok kecil yang ia pimpin. Ia menceritakan apa yang dilakukannya bagi anak didiknya. Ia membuka pintu ruang kerjanya untuk mereka, agar mereka bisa bercerita, dan juga membuka jalur komunikasi dengan anak didiknya.

Selesai sharing, pembicara membicarakan perbedaan antara coaching dan mentoring. Coaching adalah proses partnership, melalui serangkaian proses yang kreatif dan menantang pikiran, untuk mengembangkan potensi dan profesionalisme seseorang. Coaching berdurasi pendek (dalam hitungan jam), bertujuan untuk memperbaiki kalau dibutuhkan, bersifat formal. Inisiatif lebih banyak datang dari coach, dan prosesnya adalah step-by-step.

Sementara itu, mentoring adalah sebuah proses pembelajaran dalam bentuk hubungan saling mendukung dan pengawasan antara dua orang atau lebih, dilakukan oleh seorang senior/expert, yang memiliki pengalaman lebih untuk memberikan feedback. Mentoring memiliki durasi yang panjang (bisa dalam hitungan tahun), bertujuan untuk pengembangan, bisa berbentuk formal ataupun informal. Terjadi hubungan dua arah antara mentor dan mentee, tidak seperti coaching yang lebih merupakan komunikasi satu arah. Mentoring seharusnya merupakan program jangka panjang dan bersifat pendampingan.

Pembicara kemudian juga menjelaskan, dunia saat ini diwarnai dengan VUCA, yang merupakan singkatan dari volatility (ketidakstabilan), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kerumitan) dan ambiquity (ketidakjelasan). Namun demikian, dalam keadaan dunia yang seperti itu, kita juga bisa menjadi seseorang yang memiliki VUCA, tetapi dengan pengertian yang berbeda, yaitu vision (visi), understanding (pemahaman), clear (jelas, mudah dipahami) dan agile (gesit, lincah, cekatan).

Ada beberapa hal yang menyebabkan suatu komunikasi menjadi tidak efektif, di antaranya adalah instruksi yang tidak jelas, minim feedback, dan miskomunikasi. Pembinaan ini kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab.

Dalam pembinaan ini, setiap peserta terlihat sangat engaged, baik saat mendengarkan maupun berdiskusi. Ketika ruang tanya jawab dibuka, banyak pasangan menyampaikan pertanyaan maupun pergumulan nyata yang mereka hadapi. Melalui penjelasan pembicara, setiap pertanyaan mendapatkan jawaban yang jelas, praktis, dan menguatkan.