Pengantar
Apa itu pemulihan? Umumnya, kita mengartikannya sebagai sembuh dari sakit, kembali kuat setelah lemah, punya semangat lagi setelah gagal, kaya setelah bangkrut. Untuk memahaminya, mari kita mengawalinya dengan belajar dari kisah berikut ini, yang disajikan oleh Andar Ismail dalam bukunya, Selamat Berpulih (2006).
Oprah Winfrey, pembawa acara terkenal di USA. Acaranya, The Oprah Winfrey Show, ditayangkan oleh TV di seluruh dunia.
Salah satu acara TV Oprah mengangkat tema pelecehan seksual dan pemerkosaan anak kecil. Dalam acara itu ia mengatakan,”Saya berbicara dari pengalaman pribadi, sebab saya pernah diperkosa seorang kerabat.” Di acara itu, Oprah menghadirkan tiga wanita sebagai tamunya, yang pernah diperkosa pada masa kecilnya dan dua ayah yang pernah memperkosa anaknya. Percakapan ini tersendat-sendat dan mengharukan. Oprah berkata,”Saya sudah betul-betul pulih, dan dengan mengungkapkan hal itu kepada seseorang, mulailah proses pemulihannya.”
Kalimat kunci yang sering diucapkan Oprah dalam rangka pemulihan masa lalu dan pertumbuhan masa depan adalah “If you had known better, you would have done better.” Pemulihan terjadi ketika kita tidak hidup hanya di masa lalu, menyesali kebodohan dan kesalahan kita di waktu lampau. Itu tidak berguna. Yang berguna adalah bahwa mulai sekarang kita tidak lagi melakukan kebodohan dan kesalahan itu.
Andar Ismail menyatakan,”Itulah kiprah Oprah. Ia bukan penginjil, namun ia menyampaikan inti injil. Ia bukan gembala jiwa, namun ia menggembalakan jiwa yang terluka. Ia bukan pemulih, tapi ia memulihkan. Ia memulihkan berjuta-juta pemirsa.”
Terapi Gua Adulam
Dalam bukunya yang lain, Selamat Panjang Umur (2000), Andar Ismail membahas kisah Daud. Daud sedang dalam kondisi ketakutan, karena Saul mengancam akan membunuhnya. Untuk itu, ia melarikan diri dan harus berpindah-pindah tempat dengan status buron. Ia pernah berpura-pura gila untuk menyelamatkan diri dari kejaran tentara Saul. Selain takut, Daud juga sedih, kecewa, dan kesepian.
Ia berseru kepada Tuhan, meminta pertolongan. Seruan minta tolongnya ada dalam Mazmur 34–35, 142–143. “Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorang pun yang mempedulikan aku” (Mzm. 142:5).
Apa jawaban Tuhan atas seruan Daud? Tuhan memulihkannya. Bagaimana caranya? Pemulihan dari Tuhan tidak terjadi dengan cara “menghentikan kejaran Saul”. Pemulihan bagi Daud juga tidak terjadi dengan mendapatkan perlindungan dari orang-orang kuat yang membelanya. 1 Sam. 22:1-2 menuliskan, untuk memulihkan Daud, Tuhan mengirim dua kelompok orang. Hebatnya, tidak satu pun dari mereka yang merupakan tentara atau orang hebat, yang akan sanggup melindunginya dari kejaran Saul. Kelompok pertama adalah sanak saudara Daud, yang juga ikut dikejar-kejar Saul, dan ingin ikut bersembunyi bersamanya. Kelompok kedua adalah orang-orang yang dalam kesukaran, dikejar-kejar penagih utang, orang yang sakit hati. Mereka datang justru untuk minta pertolongannya. Jadi, mereka dikirim Tuhan bukan untuk menghibur dan menyemangati Daud. Sebaliknya, mereka meminta penghiburan dan dorongan semangat darinya. Mereka datang bukan untuk memberi pertolongan, melainkan meminta pertolongan.
Kalau kita jadi Daud, apa reaksi yang muncul? Bayangkan, empat ratus orang datang kepada Daud di saat ia sendiri sedang punya masalah besar dan butuh pemulihan. Mungkin Daud berpikir, “Tuhan, ini apalagi sih? Aku ‘kan sedang punya masalah dan susah, ini malah dikirimi orang-orang yang kesusahan dan bermasalah juga?”
Justru itulah cara Tuhan memulihkan Daud. Tuhan menghiburnya dengan memberi kesempatan menghibur orang lain. Tuhan mendorong semangatnya dengan menyuruhnya mendorong semangat orang lain. Tuhan menguatkannya dengan memintanya menguatkan orang lain. Sebagai hasil terapi pemulihan itu, Daud yang semula meratapi diri sendiri, mengasihan diri, jatuh pada self-pity, justru berubah menjadi penolong yang mengasihani orang lain.
Orang yang punya masalah dan persoalan kadang hancur dan makin parah sakitnya karena jatuh pada sikap “mengasihani diri” secara berlebihan. Yang muncul adalah perasaan kemalangan diri yang besar dan merasa paling menderita sedunia, lalu timbul rasa kecewa pada orang lain, dan merasa orang lain tidak peduli padanya. Untuk memulihkan dari sikap self-pity, Tuhan menumbuhkan rasa berharga, perasaan diterima dan dibutuhkan oleh sesama.
Pemulihan bisa terjadi bukan dengan cara yang miskin langsung menjadi kaya, yang susah terbebas dari masalah, yang sakit langsung sembuh. Pemulihan terjadi ketika kita tidak lagi mengasihani diri secara berlebihan, tetapi sebaliknya, menyediakan diri untuk mengasihi sesama.
Pemulihan melalui Kerja
Andar Ismail juga mengulas tentang Petrus dalam bukunya, Selamat Paskah edisi revisi (2008). Petrus melakukan kesalahan yang memalukan kala ia menyangkali Tuhan Yesus. Padahal, belum lama sebelum itu, Petrus menyatakan dengan tegas kesetiaannya kepada Tuhan Yesus, “Biarpun yang lain tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak” (Matius 26:33). Kini, ketika Yesus benar-benar ditangkap, Petrus menyangkali-Nya dengan tegas pula sebanyak tiga kali. Yohanes menyaksikan, Yesus menatapnya dengan lembut. Tatapan lembut itu ternyata cukup untuk membuat Petrus menyesal dan menangis dengan sedihnya.
Petrus merasa bersalah. Pengadilan dalam dirinya telah memutuskan, “Aku bersalah karena telah menyangkali Tuhan dan Guruku!” Simon Petrus membenci dirinya sendiri dan larut dalam air mata kepedihan karena penyesalan diri.
Rasa bersalah adalah sebuah sinyal. Seperti sakit gigi merupakan sinyal ada yang tidak beres pada gigi kita. Rasa bersalah juga merupakan sebuah sinyal yang mengingatkan kita, ada yang tidak beres dalam hidup kita. Rasa bersalah memperingatkan kita pada kenyataan, kita telah melakukan satu kesalahan, pelanggaran, ketidakbenaran, dan dosa yang mengganggu hubungan kita dengan Allah maupun sesama. Contohnya, rasa bersalah muncul dan kita alami setelah kita berbohong kepada pasangan kita, menipu orang lain, menyerang orang lain dengan kata-kata pedas, menyalahgunakan uang untuk hal-hal yang tidak benar, menyeleweng, menyalahgunakan obat-obatan. Jadi, rasa bersalah merupakan sesuatu yang memang melukai emosi kita, tapi ia juga dibutuhkan, supaya melaluinya kita mau mengakui kesalahan dan berubah.
Namun, di sisi lain, rasa bersalah atau menyalahkan diri merupakan sesuatu yang bisa merusak. Kita ingat Yudas Iskariot. Sesudah ia mengkhianati dan menjual Yesus sehingga Ia ditangkap, Matius 27:3 menyaksikan, Yudas menyesal. Karena penyesalannya itu, Yudas mengembalikan uang yang ia terima dan merasa berdosa. Ia merasa amat bersalah karena telah menyerahkan orang yang tidak bersalah. Di tengah rasa menyalahkan diri itu, jalan yang dipilih Yudas adalah lari dari masalah dengan cara bunuh diri.
Cecil G. Osborne dalam buku Seni Mengasihi Diri Sendiri (2000) mengatakan, rasa bersalah muncul setiap kita melanggar komitmen pribadi, berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kode etik atau moral, atau gagal melakukan apa yang seharusnya kita kerjakan. Dalam diri kita kemudian muncul suatu sistem “pengadilan”, yang hanya mengenal dua macam keputusan, yaitu bersalah atau tidak bersalah. Jika kemudian sistem pengadilan diri itu menyatakan bahwa kita bersalah, maka ia kemudian menawarkan dua pilihan. Pertama, kita harus mengakui, dimaafkan, dan mengalami pemulihan. Kedua, kita dihukum.
Apa yang kemudian Petrus lakukan? Samakah dengan Yudas Iskariot yang dalam penyesalannya lari dari masalah, kemudian bunuh diri? Petrus melakukan hal yang hampir sama, tetapi ujungnya berbeda. Yohanes 21:3 menyaksikan, setelah Yesus mati disalib, Petruslah yang berinisiatif kembali ke pekerjaan mereka sehari-hari, yaitu menangkap ikan. Ia merasa menyesal dan malu karena menyangkali Tuhannya sehingga mati. Maka, ia ingin lari dari semua itu, dan kembali ke kehidupan lamanya.
Namun, Yesus yang bangkit datang menemui Petrus dan memulihkannya. Bagaimana Yesus memulihkannya? Ia mengundang Petrus kembali ke tengah ladang pelayanan, “Gembalakanlah domba-domba-Ku,” kata Yesus kepadanya. Yesus tidak langsung menegur dan memarahi Petrus karena penyangkalannya, tetapi sebanyak tiga kali, Yesus meminta penegasan kasih untuk mengimbangi tiga kali penyangkalan Petrus. Malah, sesudah itu Petrus diberi tanggung jawab yang besar untuk menggembalakan domba-domba milik Yesus. Jadi, Yesus memberi Petrus pekerjaan dan tanggung jawab sebagai cara memulihkannya.
Setiap orang pernah gagal dan jatuh dalam pelanggaran. Dalam diri kita masing-masing, ada sistem pengadilan yang kerap menjatuhkan vonis “aku bersalah”. Itu adalah hal yang wajar dan manusiawi. Namun, yang membedakan kita sebagai anak-anak Allah, adalah bagaimana cara kita menghadapi dan mengatasi rasa salah diri itu. Kepercayaan diri dan harga diri Simon Petrus pulih karena ia mau menyambut undangan Tuhan untuk kembali bekerja dan berkarya di ladang-Nya.
Apa Kata Alkitab?
Dari dua kisah itu, kita belajar, pemulihan bisa memiliki beragam makna dan cara. Ada yang dipulihkan rasa berharganya melalui pekerjaan, ada juga yang dipulihkan gambar dirinya lewat kehadiran orang lain yang lebih membutuhkan pertolongan, a la terapi gua Adulam.
Belum lagi bila kita membaca kisah Ayub. Kehidupan Ayub yang semula baik-baik saja, dengan kekayaan melimpah, memiliki banyak anak laki-laki dan perempuan, tiba-tiba habis dalam sekejap. Ia bangkrut bukan hanya secara fisik berupa kekayaan materi, tetapi juga dalam hal hubungan dengan istri dan sahabat-sahabatnya, bahkan dalam pengenalannya akan Tuhan.
Namun, kemudian Tuhan memulihkannya. Ayub 42:10 menuliskan tentang pemulihan itu, Tuhan memulihkan keadaan Ayub setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya. Tuhan memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari kepunyaannya dahulu. Sanak keluarganya kembali kepadanya. Tuhan memberkati kehidupan Ayub selanjutnya, lebih daripada kehidupannya dahulu. Ia mendapat tujuh anak laki-laki dan tiga anak perempuan yang sangat cantik, juga ternak yang sangat banyak (14 ribu kambing domba, 6 ribu onta, seribu pasang lembu, seribu ekor keledai).
Terlebih di atas semua itu, pengenalan Ayub terhadap Tuhan dipulihkan. Ayub 42:5 menegaskan,”Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Kini, setelah melewati pergumulan berat dan dipulihkan, Ayub mengenal Allah dengan lebih baik lagi, bukan lagi berdasarkan apa kata orang, melainkan karena ia telah berjumpa dan mengalami sendiri karya Tuhan dalam hidupnya.
Dalam Alkitab, ada beberapa kata yang kemudian diterjemahkan sebagai “pulih” atau “memulihkan”. Yang pertama adalah kata “syub”. Kata ini muncul sebanyak sekitar seribu kali. Sembilan ratus kali dalam konteks sekuler, seperti melunasi utang, tunggakan, upeti, pajak; mengembalikan barang pijaman; dan membalas dendam. Sisanya dalam nuansa yang lebih rohani, yaitu berputar arah kembali (bertobat), memperbaiki, menghubungkan, menyembuhkan, menyambung, mengutuhkan, berdamai. Mulai tahun 500-an SM, pada masa pembuangan di Babel, kata syub dipakai sebagai kata kunci para nabi, tesyubah, yang artinya bertobat. Contohnya Mzm. 85:5, “pulihkanlah kami, ya Allah penyelamat kami”; Yer. 30:3 “… Aku akan memulihkan keadaan umat-Ku Israel dan Yehuda…”
Kata kedua adalah “apokathismai”, yang artinya “sembuh”, sering muncul dalam kitab-kitab Injil. Contohnya Mrk. 8:25, “Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh…”
Kata ketiga adalah “katartizo”. Arti harfiahnya adalah repair, restore, adjust, menyembuhkan, menyambung tulang yang patah. Jadi, ada usaha memperbaiki bagian-bagian yang rusak. Namun, ia juga memiliki arti mengembalikan ke jalan yang benar (Gal. 6:1) atau melengkapi apa yang belum lengkap (Ef. 4:12).
Penutup
Pada intinya, memulihkan berarti “menjadikan suatu keadaan kembali seperti semula”. Ada tiga hal yang memerlukan pemulihan dalam hidup: hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan sesama, dan hubungan dengan Tuhan. Siapa yang memulihkan ketiga macam hubungan itu? Dari pihak kita, perlu ada itikad baik, keterbukaan, dan penerimaan diri (bukan self-pity). Kita juga perlu pihak lain untuk membantu pemulihan (ingat kisah terapi Gua Adulam dan Oprah Winfrey). Yang pasti, kita memerlukan pemulihan dari Tuhan, seperti mazmur yang Daud naikkan dalam Mzm 85:5 – “Pulihkanlah kami, ya Allah”.
Andar Ismail menegaskan, dalam lubuk hati tiap orang terdapat sebuah kerinduan, yaitu rindu untuk pulih, dipulihkan, dan memulihkan. Caranya? Dengan menyembuhkan yang sakit, mengutuhkan yang retak, menyambung yang putus, membereskan yang kacau, menenteramkan yang rusuh, menguatkan yang lemah, meratakan yang miring, memaafkan kesalahan,, mendamaikan permusuhan, mengumpulkan yang tercerai, mempertemukan yang terpisah, membersihkan yang tercemar, meneduhkan kegelisahan, meluruskan yang bengkok, memberi keadilan pada yang menerima ketidakadilan, merangkul yang terbuang, menyambut yang tersisih, menghibur yang sedih, memperbaiki yang rusak, menegakkan yang terkulai.