Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks—mulai dari perundungan di dunia maya, disfungsi keluarga, kekerasan, hingga krisis identitas—banyak anak yang tumbuh dengan luka batin, ketakutan, dan rasa tidak berharga. Gereja dipanggil bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk memulihkan, mengangkat, dan memeluk mereka yang terhilang dan terluka.
Gereja menjadi komunitas yang aktif dalam pemulihan anak-anak. Gereja yang memulihkan bukanlah tentang kesempurnaan program-program yang berjalan, tetapi tentang kesediaan untuk menghadirkan kasih Allah yang mentransformasi. Dengan berfokus pada pemulihan identitas, emosi, dan hubungan, gereja dapat menggenapi panggilannya untuk membawa seluruh diri anak—dengan segala keunikan dan lukanya—kepada Kristus, yang adalah Sumber Pemulihan itu sendiri. Mazmur 147:3 mengatakan, "Ia menyembuhkan orang yang hancur hatinya dan membalut luka-luka mereka".
Komunitas Inklusif
Gereja membantu anak menghayati identitasnya sebagai anak Allah yang berharga. Yesaya 43:1b mengatakan, "Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau adalah milik-Ku," dan “… sebab siapa yang menjamah kamu berarti menjamah biji mata-Nya” (Zakharia 2:8b). Ketika meresap dalam hati, kebenaran ini akan menjadi kekuatan internal untuk menghadapi tekanan dan godaan.
Gereja akan membantu anak mengelola emosi dengan bijaksana, sehingga memiliki keutuhan emosional dalam Kristus. Beberapa cara praktisnya adalah dengan mengajak anak berdoa dengan jujur tentang perasaan mereka; membantu anak menamai perasaannya, alih-alih sekadar memintanya untuk "tidak marah"; serta memberi ruang bagi ekspresi kreatif, seperti menggambar atau bermain peran untuk menyalurkan emosi.
Hal ini tidak bisa dilakukan oleh gereja sendiri, tetapi harus bergandengan tangan dengan orang tua. Gereja yang memulihkan memahami, misi utama pemulihan terjadi di keluarga. Gereja berperan membekali dan mendampingi orang tua, karena orang tualah yang harus berperan aktif dalam proses ini.
Ada beberapa hal yang dapat orang tua lakukan. Misalnya, sebelum menasihati anak yang sedang marah atau menangis, coba tanyakan, pada diri sendiri, kisah apa yang sedang disembunyikan oleh rasa marah atau sedih ini? Percakapan yang penuh kasih setelahnya akan jauh lebih memulihkan daripada sekadar memerintahkan mereka untuk berhenti marah atau menangis. Sebuah teladan, kata-kata dorongan, atau pelukan yang tulus dari seorang ibu atau ayah dapat menjadi perwujudan nyata kasih Kristus yang memulihkan bagi seorang anak.
Selan itu orang tua juga dapat menciptakan ruang yang aman, tempat anak-anak tidak hanya diajar, tetapi juga didengarkan. Mereka dapat dengan jujur mengungkapkan perasaan takut, marah, kecewa, dan pertanyaan, tanpa takut dihakimi.
*Penulis adalah pengerja GKI Gading Serpong.