Rasa khawatir, takut, dan cemas sering kali menghantui setiap orang, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, maupun yang sudah lanjut usia. Padahal, hampir seratus persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Semuanya hanya berhenti di pikiran, sekadar bayangan atas kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan. Semua itu manusiawi. Sebab, pada kenyataannya banyak hal yang tidak dapat dikuasai oleh manusia. Hanya Tuhanlah yang sanggup menolong kita menghadapi segala hal yang dikhawatirkan. 

Namun, permasalahan mulai muncul ketika kekhawatiran yang wajar itu diperumit oleh berbagai pikiran dan argumentasi tentang kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Pikiran-pikiran itu justru menimbulkan kesadaran, dalam segala keterbatasannya, manusia tidak akan mampu menanggulangi bila hal itu benar-benar terjadi.

Jika ketakutan itu semakin parah dan terus mengendap di alam bawah sadar, ia bahkan bisa berubah menjadi rasa cemas berlebih dan menimbulkan kepanikan yang tidak normal (panic disorder). Pada tahap lanjut, hal ini bisa berujung pada stres, depresi, dan psikosomatik, yakni rasa sakit yang tidak ditemukan penyebab medisnya. Biasanya, terasa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gejalanya bisa berupa jantung berdebar, sesak napas, takut keluar rumah, merasa mau pingsan, gangguan keseimbangan, vertigo, dan kepanikan lainnya. Padahal, secara anatomi dan diagnosis medis, semuanya baik-baik saja.

Akar dari semua itu sering kali adalah rasa egois dan kurang bersyukur. Sebab, yang sering kali dipikirkan hanyalah kepentingan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang terus berkecamuk di benak pun muncul, “Andai nanti…” atau “Bagaimana saya, jika nanti terjadi…”—disertai berbagai kemungkinan yang dikhawatirkan. Misalnya, ketakutan akan kehilangan pasangan hidup, bisnis yang menurun tajam, kehilangan pekerjaan, atau masa depan yang terasa gelap. Semuanya menambah beban pikiran.

Lalu, bagaimana memulihkan diri dari situasi seperti itu? Ini tentu tidak mudah jika sudah masuk di alam bawah sadar. Sebab, orang yang mengalaminya sering kali tidak menyadari pikirannya sedang dibebani hal-hal tersebut. Padahal, gejala psikosomatiknya terus muncul berulang kali. Berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf atau psikolog dapat menjadi langkah awal. Obat antidepresan bisa membantu menenangkan. Namun, penyembuhan sejati tidak akan tuntas jika hanya itu yang kita lakukan. Sebab, hanya firman Tuhan yang sanggup memulihkan sepenuhnya.

Di Alkitab ada banyak perintah agar kita tidak khawatir, seperti Matius 6:34, “Karena itu, janganlah khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”, atau Filipi 4:6–7, “Janganlah khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Itu menunjukkan, betapa Tuhan memahami hati manusia yang mudah gelisah. Tangan Tuhan selalu terulur, agar manusia dapat keluar dari lubang keterpurukan, seperti yang dinyatakan Mazmur 55:23, “Serahkanlah kekhawatiranmu kepada TUHAN, maka ia akan memelihara engkau! Dia tidak akan membiarkan orang benar goyah.” Apakah kita mau menyambut uluran tangan kasih-Nya?

Sebagai orang percaya, mari kita tinggalkan kekhawatiran. Hentikan kecemasan. Teruslah mengingat janji-janji penyertaan Tuhan dan firman-Nya dalam hidup ini. Syukurilah segala yang sudah Tuhan berikan, dan bernyanyilah dengan sukacita, memuji kebesaran serta keagungan-Nya.

Tidak ada seorang pun yang bisa menolong, jika tidak dimulai dari kemauan diri sendiri untuk menyambut tangan Tuhan, dan bangkit dari keterpurukan. Mulailah dengan berhenti memikirkan kepentingan diri sendiri, dan mulai berbagi kepada orang lain.

*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23