"Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan. Sebab, ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih."
(1Yohanes 4:18)
Teman-teman, siapa yang tidak kenal dengan film Frozen? Film Disney ini, yang juga merupakan cerita yang dibuat ulang dari dongeng Ratu Es karya Hans Christian Andersen, pertama kali tayang pada tahun 2013. Film ini sering dipuji karena ceritanya menarik, animasinya bergerak dengan indah, dan lagu-lagunya yang luar biasa. Salah satu lagu yang terkenal adalah “Let it Go”, yang sangat populer pada masa itu. Saya yakin, teman-teman hafal lagu itu.
Dua tokoh utama dalam film Frozen adalah dua putri bersaudara, Elsa dan Anna. Elsa, sang kakak dan calon ratu, memiliki kekuatan es. Sementara itu, Anna tidak memiliki kekuatan apa-apa. Meskipun demikian, mereka berdua saling mengasihi. Namun, suatu malam saat mereka bermain, Elsa tidak sengaja melukai adiknya. Karena ia takut kalau kekuatannya akan melukai adiknya lagi, Elsa akhirnya memilih untuk mengurung diri di kamar dan menyembunyikan perasaannya selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun juga Anna mencoba untuk mendekati kakaknya, tetapi selalu ditolak Elsa. Hati Elsa seakan ikut ”beku” karena rasa takutnya. Sampai suatu saat, Elsa tidak sengaja menunjukkan kekuatannya di depan semua orang. Ia merasa sangat malu dan kabur ke atas gunung. Seluruh kerajaan Arendelle pun langsung membeku menjadi es.
Sebenarnya, Anna berhak marah dan kecewa kepada kakaknya. Ia berhak untuk memutuskan hubungan dengan Elsa seumur hidup. Namun, hal itu tidak terjadi. Anna dengan berani pergi meninggalkan istana yang hangat untuk mencari kakaknya di tengah badai salju. Ia percaya, kakaknya orang yang baik dan hubungan mereka bisa pulih kembali. Ia juga percaya, kekuatan es Elsa bisa dipakai demi kebaikan. Bahkan, pada bagian klimaks, Anna rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan Elsa dari serangan pedang seorang pangeran, yang merasa Elsa terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup. Tindakan kasih yang tulus inilah yang akhirnya "mencairkan" hati Elsa yang beku, dan memulihkan hubungan mereka. Tidak hanya itu, kerajaan Arendelle pun mencair kembali seperti semula, dan rakyatnya tidak menderita lagi.
Permasalahan ”hati yang beku” ini bukan cuma ada di film Frozen, lo! Alkitab juga menceritakan tentang bagaimana kasih dapat mencairkan hati yang beku. Ribuan tahun lalu, Rasul Yohanes juga melihat hal yang sama. Saat ia menuliskan suratnya yang pertama, banyak orang Kristen yang hatinya mulai menjadi ”dingin”. Mereka saling memarahi, bersikap sombong, dan saling menjauhi. Hati mereka jadi penuh ”es” ketakutan dan rasa tidak akur. Padahal, ini bukan yang Yesus harapkan bagi gereja-Nya. Oleh karena itu, Yohanes menulis bahwa kita perlu saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah (1Yoh 4:1a). Selain itu, Yohanes menulis, di dalam kasih tidak ada ketakutan, ”kasih yang sempurna menghilangkan ketakutan” (ayat 18). Ia mengingatkan jemaat, kasih Allah melalui Yesus yang sempurna itu jauh lebih hebat dari rasa takut mana pun. Kasih-Nya seperti sebuah pelukan hangat yang bisa mencairkan semua "es" ketakutan dan permusuhan di hati kita. Kasih yang sama bisa membuat kita berani dan damai lagi.
Teman-teman, pesan Yohanes untuk saling mengasihi itu terlihat jelas dalam film Frozen. Anna tidak menunggu Elsa berubah dulu, tetapi ia yang pertama datang membawa kehangatan. Ia berani pergi mencari kakaknya. Kita pun bisa begitu, lo! Kita bisa memulai duluan, tanpa harus menunggu. Misalnya, kalau ada teman yang baru pindah sekolah dan terlihat sendirian saat jam istirahat, kita bisa jadi yang pertama mengajaknya bermain. Atau, saat adik atau kakak kita marah karena mainannya rusak, kita bisa jadi yang pertama meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk memperbaikinya Mungkin, awalnya terasa aneh karena teman kita masih diam saja. Namun, kalau kita melakukannya dengan tulus dan terus-menerus, kasih kita akan seperti kehangatan yang pelan-pelan dapat mencairkan ”es” di hati mereka. Seperti matahari memberikan kehangatan pada tanah yang beku, kita pun dapat memberi kehangatan bagi teman-teman di sekitar kita.
Memulai terlebih dahulu itu dapat mencairkan hati yang beku. Seperti kata orang bijak di film Frozen, “An act of true love will thaw a frozen heart.”
*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.