Namaku Zakheus. Sebuah nama yang terkenal karena profesi yang melekat dalam diriku, yaitu kepala pemungut cukai yang dibenci orang Yahudi, karena korup dan menjadi kaki tangan orang Romawi. Padahal, arti namaku adalah “orang benar” atau “yang murni”. Berat rasanya menjadi diriku. Aku telah tersingkir dari masyarakat, atau lebih tepatnya disingkirkan karena profesiku. Masyarakat tidak menerima keberadaanku, karena pekerjaan yang kulakukan dianggap kotor, mengabdi kepada penjajah, dan meraup banyak keuntungan untuk diriku sendiri dengan mengorbankan orang lain.

Mereka tidak tahu isi hatiku. Setiap hari, aku merasa kosong, kesepian dan tidak berarti. Tidak ada orang yang mau menegur dan menyapa, kecuali keluargaku sendiri. Jabatan, kekayaan, dan reputasi yang kumiliki tidak bisa menanggulangi beban psikologis yang muncul. Aku merasa terhilang dari masyarakat. Ketika perasaan terhilang dan terasing itu datang, aku selalu berusaha mengusir perasaan itu. Namun, ketika aku mengusirnya, justru beban perasaan tersingkir yang lebih besar akan menyerangku lebih dasyat lagi, dan berakhir dengan rasa yang tak berharga yang lebih besar. Aku makin khawatir, takut, dan ragu terhadap kehidupan yang kujalani. Satu hal yang terus muncul dalam benakku adalah, “Apakah beban hidupku ini bisa dihilangkan, karena begitu mengganggu, walaupun aku masih bisa melakukan aktivitas harianku?”

Di tengah rasa tidak enak yang terus berkecamuk, aku teringat apa yang pernah kudengar. Ada seorang Rabi yang sangat baik, yang dapat menyembuhkan orang-orang yang beban hidupnya terlalu berat. Rabi tersebut telah menyembuhkan orang-orang yang mengidap sakit menahun, orang buta, penderita kusta, dan orang yang kerasukan roh jahat. Bahkan, Ia juga bisa melerai angin ribut, memberi makan lima ribu orang, dan masih banyak lagi. Terpikir olehku, kapan aku bisa bertemu dengan-Nya? Barangkali Ia berkenan menolong membebaskanku dari beban hidup, seperti orang-orang yang telah ditolong-Nya. Dalam hati kecil, aku katakan, “Rabi, aku ingin melihat dan bertemu dengan-Mu. Kapan Engkau lewat di kotaku? Mohon pertolonganMu!”

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Tersiar berita yang mahadahsyat. Rabi itu akan lewat dan mampir di kota ini, dalam rangkaian perjalanan pelayanan-Nya. Dan, benar! Ketika Dia datang, banyak orang berkerumun ingin melihat dan menyaksikan-Nya, tak terkecuali aku. Aku pun berusaha menerobos kerumunan itu. Namun, bagaimana aku bisa minta pertolongan-Nya? Tubuh pendek membuatku terhalang oleh orang-orang yang ada sekitarku. Dengan sekuat tenaga, aku berlari lewat belakang kerumunan, dan berusaha mengambil jalan yang akan dilewati-Nya. Aku naik ke atas pohon agar dapat melihat dengan lebih jelas. Aku tidak peduli pada orang-orang yang melihatku. Fokusku, yang lebih penting adalah bisa melihat-Nya. Di luar dugaan, Sang Rabi melihatku, dan memanggilku turun dari pohon itu! Bahkan, Ia mengatakan akan mampir makan di rumahku (Luk 19:5)! Tak terbayang senangnya hati ini! Sukacitaku meluap karena sapaan itu. Seperti mimpi, tetapi nyata. Sangat jelas, Ia memanggilku. 

Sapaan-Nya bagaikan sebuah mukjizat. Sang Rabi yang lemah lembut, sopan, dan ramah telah menyapa dan mengangkatku menjadi pribadi yang baru. Aku merasa, Sang Rabi menerima dan menganggap aku. Sapaan-Nya telah menjamah harkat martabatku yang selama ini hilang, dan sekarang bisa kutemukan kembali. Sejujurnya, peristiwa ini merupakan pengalaman terindahku. Pelepasan dan pendamaian itu dimunculkan-Nya. Aku luar biasa bersukacita, karena dilimpahi kasih karunia. Bahkan, rasa ini meluap di dalam hatiku. Dengan yakin, kukatakan kepada-Nya, aku akan memberikan setengah milikku kepada orang miskin, dan mengembalikan empat kali lipat kepada orang yang telah aku peras (Luk. 19:8)! Pertemuan itu telah mengubah hidupku. Aku diselamatkan dan dilimpahi kasih karunia keselamatan telah terjadi di rumahku ini (Luk. 19:9). Dia mencari yang sesat dan hilang sepertiku. Kasih karunia-Nya telah mengalahkan kesalahan, keterpurukan, dan dosa-dosaku. Aku menerima, mendapatkan dan mengalami kasih karunia Allah (Kyle Idleman, Grace is Greater, 2019).

Aku ingin mempertahankan kasih karunia itu, sekalipun harus mengorbankan sesuatu yang berkaitan dengan harta duniawi. Peristiwa luar biasa, dapat bertemu Sang Rabi, yaitu Yesus Kristus! Tuhanku yang hadir dengan sapaan lembut, mencariku yang berdosa, mendatangi, duduk bersama, dan membawa kabar keselamatan untuk seisi rumahku! Apa yang tidak mungkin bagi manusia, sangat mungkin karena kasih-Nya (Mat. 19:26). Kasih karunia-Nya terbuka bagi mereka yang mau menerima kasih dan merespon sapaan lembut-Nya. Siapa pun yang letih lesu dan berbeban berat, baiklah ia datang kepada-Nya. Dan, kelegaan akan diberikan-Nya kepada kita (Mat. 11:28). Dengan mengakui secara terbuka keterbatasan dan dosa-dosa yang telah kita lakukan, jalan untuk datang kepada Tuhan dan menerima anugerah kasih karunia terbuka lebar. Kita pun dipenuhi sukacita dalam menjalani hidup yang baru bersama-Nya. Inginkah Anda menjadi sepertiku? Aku yang berdosa, bahkan sangat berdosa, atau mungkin paling berdosa, tetapi mendapatkan anugerah kasih-Nya. 

*Penulis adalah penatua GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2025–2027.  

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23