Siang itu, saya dan bestie saya, Celine, asyik mengobrol. Senang sekali kami bisa bertemu saat mengantar anak-anak ke sekolah. Sudah sebulan lebih kami tidak berjumpa, setelah libur Natal. Kami pun sepakat untuk mampir ke rumah Sally, juga bestie kami, supaya kami dapat saling bertukar cerita tentang apa yang kami alami sepanjang liburan. Karena sudah sangat akrab, kami langsung saja membuka pagar dan masuk ke dalam rumahnya.

Kami agak terkejut, karena ternyata di dalam ada pendeta gereja kami bersama seorang penatua. Wah, kebetulan sekali, rupanya sedang ada perlawatan! Saya pun menyapa Pak Pendeta dan penatua tersebut dengan ceria. Mereka pun menyambut salam saya, tetapi wajah mereka terlihat tegang dan sangat serius. Di ruang duduk itu pun terlihat ada Toni, suami Sally, dan Kak Sasya, kakak Sally. Ada apa ini? Saya dan Celine pun saling berpandangan, duduk diam-diam, mencoba memahami situasi yang ada di hadapan kami.

Toni dan Kak Sasya secara bergantian menceritakan tingkah laku Sally yang tidak masuk akal beberapa hari ini kepada Pak Pendeta, yang membuat mereka memutuskan untuk memanggilnya, untuk meminta pelayanan pelepasan, karena mereka menganggap Sally kerasukan setan. Saya dan Celine mendengarkan dengan mulut ternganga. Kami memandang Sally. Ia duduk tercenung tanpa mempedulikan kami, seolah berada dalam dunianya sendiri. Tatapannya kosong dan liar, tidak mengenali kami, sungguh berbeda dari Sally yang selama ini kami kenal!

Pak Pendeta pun berdoa, memimpin pelayanan pelepasan. Saya dan Celine pun ikut mendoakan Sally sambil bercucuran air mata. Namun, tidak ada yang terjadi setelahnya. Sally masih tetap duduk termangu-mangu dengan pandangan kosong. Pak Pendeta memberi beberapa nasihat kepada keluarga tersebut. Saya kurang mendengarkan apa yang dikatakannya, karena sibuk dengan pikiran sendiri, masih tak percaya atas kenyataan yang menimpa sahabat kami. Kami ikut meminta diri ketika Pak Pendeta dan penatua meninggalkan rumah Sally.

Saya lalu memberi tahu Ella, sahabat kami yang lain, tentang kondisi Sally. Ia pun sama syoknya dengan kami. Ella lalu mengajak saya menemui temannya yang juga pernah memberikan pelayanan pelepasan di gerejanya. Setelah mendengarkan cerita kami dengan seksama, temannya itu berkata, kelihatannya ini bukan kerasukan. Kemungkinan besar, ini adalah gangguan kejiwaan, dan menyarankan kami untuk mencari tahu lebih lanjut pada keluarga Sally. 

Saya mencoba bertanya kepada beberapa orang kawan yang berprofesi sebagai psikolog dan konselor. Mereka mengatakan, tampaknya Sally berhalusinasi, mendengar suara-suara di kepalanya, dan mengalami delusi, akibat tekanan jiwa yang sangat hebat. Ketika bertemu kembali dengan Celine, kami pun membahas kejadian ini. Kami sungguh terpukul dan merasa tidak becus sebagai sahabat, karena sama sekali tidak tahu persoalan apa yang membuat jiwa Sally sedemikian terguncang.

Celine meminta izin kepada keluarga Sally untuk mengajak seorang pengerja dari gerejanya untuk kembali memberikan pelayanan pelepasan. Tetap tidak terjadi perubahan. Orang gerejanya pun berkesimpulan sama. Ini bukan kerasukan setan, melainkan gangguan kejiwaan.

Kami berkomunikasi secara intens dengan Toni dan Kak Sasya untuk saling bertukar pikiran dan informasi. Keluarga Sally kemudian membawanya ke psikiater untuk mendapatkan pengobatan. Menurut psikiater, Sally mengalami depresi berat, sehingga bertingkah laku seperti itu. Selama ia menjalani pengobatan, kami tetap menutup mulut bila ada teman-teman sesama orang tua murid yang menanyakan Sally, karena ia tidak pernah membalas pesan mereka. 

Setelah beberapa hari, saya, Celine, dan Ella kembali datang ke rumah Sally untuk melihat perkembangan kondisinya. Menurut Toni, tingkahnya sudah terkendali, tetapi pandangannya masih kosong. Kami pun mengelilinginya, dan bersama-sama mendoakannya, berusaha membuatnya mau memandang wajah kami, berbicara kepada kami. Ella yang tak tahan melihat kondisi Sally, mengguncang-guncangkan tangannya, dan memintanya berbicara. “Sally, Sally! Ayo ngomong! Kamu kenapa?” serunya sambil menangis. 

Seperti tersentak, Sally mendongak dan memandang kami. Betapa leganya kami, melihat ia tampak mengenali kami, seolah baru terbangun dari lamunan panjangnya. Ella kembali memohon, “Sal, ngomong ya! Ayo cerita! Jangan disimpan sendiri! Ada apa?” Karena tampaknya Sally masih enggan bercerita, Ella pun berinisiatif untuk mengajak kami keluar dari rumah itu. “Ayo, kita pergi dari sini, mungkin kamu nggak bisa bercerita di sini. Ayo, kita pergi ke tempat lain, supaya ada perubahan suasana!” Sally pun mengangguk, menurut.

Kami pergi ke sebuah rumah makan. Di sana, barulah Sally dapat bercerita sedikit demi sedikit, bahwa selama ini ia tertekan oleh kondisi rumah tangganya. Tidak hanya sekali, kami mengajaknya makan di luar beberapa kali, sampai ia dapat mencurahkan seluruh perasaan yang selama ini memberatkan pikirannya. Rupanya, ia sangat mengkhawatirkan kondisi salah seoranng anaknya yang mengalami disabilitas, dan mengalami burnout karena suaminya selalu menolak diajak pergi berjalan-jalan saat liburan. Bagi suaminya, liburan adalah waktunya pulang kampung untuk menengok orang tuanya di kota lain. Parahnya, Sally tidak pernah menikmati saat-saat pulang kampung tersebut.

Kami bersyukur, karena paling tidak, Sally sudah waras kembali, dan sudah mau mencurahkan isi hatinya kepada kami. Saya yang cukup akrab dengan Toni kemudian menceritakan kepadanya apa yang selama ini memberatkan hati Sally. Toni pun mengakui kesalahannya, dan berjanji memperbaiki diri, setuju untuk lebih menyediakan waktu untuk berlibur bersama keluarga, agar situasi tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari. 

Ella kemudian mengajak kami untuk berkumpul seminggu sekali di rumah Sally, untuk bersaat teduh bersama. Ia meyakini, firman Tuhan dan hubungan yang intim dengan-Nyalah yang akan memulihkan Sally secara sepenuhnya. Demikianlah, selama kurang lebih satu bulan, kami bertiga datang secara teratur ke rumahnya, untuk saling membagikan berkat firman Tuhan yang kami dapatkan hari itu. Kami bahkan kemudian juga mengundang teman-teman lain, membentuk kelompok tumbuh bersama, membahas firman Tuhan seminggu sekali. Semakin lama, kami melihat Sally semakin kembali seperti kondisinya semula, dan sudah dapat bekerja kembali seperti sebelumnya. Puji Tuhan, hubungannya dengan Toni pun dipulihkan, sehingga ia pun lebih ceria dan bersemangat menjalani hari-harinya. 

*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23