Mungkin para pembaca pernah mendengar kalimat ini, “Makin besar gereja, makin kita tidak mengenal satu sama lain.” Kedengarannya agak bertolak belakang, ya? Seharusnya, makin besar gereja, makin banyak teman. Namun, itulah yang saya rasakan.
Saya pertama kali beribadah di GKI Gading Serpong kira-kira belasan tahun yang lalu, bersamaan dengan kepindahan tempat tinggal kami. Kami berasal dari gereja yang jumlah jemaatnya mungkin hanya sepertiga dari GKI Gading Serpong. Saya agak kaget saat melihat gereja yang begitu besar jumlah jemaatnya.
Awalnya, selain keluarga besar yang memang sudah berdomisili di Gading Serpong dan beberapa teman dari gereja sebelumnya, saya tidak kenal siapa pun. Kebetulan, saya juga bukan tipe orang yang mudah bergaul. Sulit bagi saya untuk memulai suatu percakapan dengan orang yang baru saya kenal. Ibadah Minggu menjadi rutinitas. Setelah bertahun-tahun beribadah di sini, anak saya ikut dalam suatu pelayanan paduan suara anak. Hal ini membuat saya turut dalam pelayanan tersebut. Itu menjadi titik balik saya dalam soal pertemanan, dan menjadi titik awal saya bertemu dengan teman yang sejati.
Dimulai dengan rutin mengantar anak latihan, dengan berjalannya waktu, saya diajak untuk terlibat dalam kepengurusan pelayanan paduan suara anak tersebut. Dalam kepengurusan ini, saya belajar dan bertumbuh. Saya sangat bersyukur diberi kesempatan untuk mengenal mereka yang sungguh-sungguh ingin melayani Tuhan. Melaluinya, saya belajar mengenal pribadi-pribadi yang mencerminkan kasih Kristus. Tidak dapat dipungkiri, tidak semua rekan sepelayanan seperti itu. Namun, saya belajar memahami, setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Saya belajar setia melayani Tuhan, belajar bahwa pelayanan butuh pengorbanan, yaitu waktu, tenaga, pikiran, uang, dan juga perasaan. Sering kali, muncul rasa ingin menyerah. Namun, dukungan para sahabat membuat saya menyadari, kesulitan-kesulitan itu tidak sebanding dengan apa yang telah Kristus lakukan buat saya. Hal ini membuat saya belajar untuk tetap setia, dan saya percaya itu semata-mata anugerah Tuhan.
Semua proses yang saya jalani tidak terlepas dari peran rekan-rekan, sahabat-sahabat sepelayanan. Saya sangat bersyukur atas pertemanan yang Tuhan anugerahkan buat kami. Saya merasa diterima apa adanya, dengan segala kekurangan dan latar belakang yang saya miliki. Para sahabat saya tetap membuka tangan. Mereka menerima dan merangkul ketika saya merasa terpuruk, di titik terendah. Melalui kasih para sahabat, saya semakin diteguhkan tentang pengampunan dari Allah melalui Yesus Kristus. Saya belajar menerima orang lain dan mendoakan mereka.
Belajar untuk percaya dan saling terbuka memang membutuhkan waktu. Dalam menjalin persahabatan, butuh saling pengertian. Seorang sahabat tidak hanya hadir untuk berbagi kebahagiaan; ketika kita mengalami suatu kesuksesan atau kemenangan pun, mereka tidak merasa iri. Sahabat juga hadir saat duka cita. Setiap saat, saya dapat menceritakan kisah sedih atau sukses saya kepada mereka, dan mereka selalu mau mendengarkan, berempati, serta mendoakan saya. Melalui mereka, saya dikuatkan dan bisa merasakan kasih Kristus yang tulus, sehingga bisa merasakan pengampunan dan pemulihan dari Allah Bapa sendiri. Sungguh pertemanan yang memulihkan!
Semoga anugerah yang telah saya terima memampukan saya untuk menyalurkan kasih bagi orang-orang yang membutuhkan, sehingga mereka juga bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan hidupnya dipulihkan, seperti hidup saya.
Saya bersyukur, di GKI Gading Serpong yang sebesar ini, Tuhan mempertemukan saya dengan orang-orang yang bisa saya sebut sebagai sahabat. Tidak banyak, tetapi sangat berarti.
*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.
Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23