Taat adalah sikap patuh terhadap sesuatu yang lebih tinggi, lebih mulia, dan dihormati seperti orang tua, guru, atau pemerintah. Ketaatan seseorang muncul dari kerendahan hati yang mau menerima otoritas yang lebih tinggi dari dirinya, menaati perintah, dan atau aturan yang diberikan dengan sukarela, tanpa ada paksaan.

Sebagai orang percaya, otoritas tertinggi adalah Allah, sehingga kita seharusnya taat kepada perintah Allah yang dituliskan dalam Alkitab. Salah satunya adalah menjadikan semua bangsa murid-Nya (Matius 28:19). Ayat ini sering kali dipahami secara global, yaitu mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan. Kita cenderung mengabaikan orang-orang di sekitar kita, seperti keluarga atau tetangga.

Dalam Alkitab, ada satu tokoh yang taat kepada Allah, bahkan menjadi nabi Allah (1Samuel 3:19–21) dan hakim atas Israel (1Samuel 7:15), yaitu Samuel. Latar belakang kehidupannya sangat istimewa. Ibunya sebenarnya tidak bisa mempunyai anak (1Samuel 1:5). Berkat ketulusan dan kepasrahan Hana ketika berdoa meminta anak, akhirnya Allah mengabulkan doanya (1Samuel 1:10–12, 19–20).

Samuel dibawa oleh orang tuanya ke rumah Tuhan di Silo ketika berumur kira-kira tiga tahun (setelah cerai susu dari ibunya), dan tinggal selamanya di sana, sebagai pelayan Tuhan, di bawah asuhan Imam Eli. Semenjak kecil, Samuel mengikuti Imam Eli, membantunya melakukan tugas sebagai imam di Silo. Samuel tumbuh menjadi seorang yang disukai oleh Tuhan dan manusia (1Samuel 2:26).

Sayangnya pada waktu itu, baik firman Tuhan maupun penglihatan-penglihatan jarang ada, sehingga Samuel belum “mengenal” Tuhan. Ia hanya mengetahui Tuhan dari perkataan Imam Eli. Pertama kali Tuhan memanggilnya, Samuel tidak mengerti. Ia belum mengenal suara Tuhan. Dalam kebingungannya, ia datang kepada Eli, karena berpikir Imam Eli-lah yang memanggilnya. Setelah tiga kali, Imam Eli akhirnya sadar, Tuhanlah yang memanggil Samuel. Ia pun memberitahu Samuel, bahwa Tuhan mau berbicara kepadanya. Ketaatannya kepada Imam Eli akhirnya “mempertemukan” Samuel dengan Tuhan (1Samuel 3:9–10).

Setelah kejadian itu, Tuhan menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya. Orang Israel menjadi tahu, kepada Samuel dipercayakan jabatan nabi Tuhan. Samuel memerintah sebagai hakim atas orang Israel seumur hidupnya (1Samuel 7:15).

Saat memerintah sebagai hakim, Samuel memperlihatkan ketaatannya kepada Tuhan. Pertama, saat bangsa Israel meminta raja, Samuel merasa kesal atas permintaan mereka, tetapi dia tetap menyampaikan semua perkataan Tuhan tentang hak raja yang akan memerintah Israel. Ketika Tuhan menyuruhnya untuk mengangkat seorang raja, Samuel taat dan pergi mengurapi Saul menjadi raja (1Samuel 10:1).

Kedua, saat Saul melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dengan tidak menaati perintah untuk menumpas semua yang hidup dari bangsa Amalek. Saul menawan raja Amalek dan menjarah ternak mereka, dengan alasan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan marah dan menolak Saul sebagai raja Israel (1Samuel 15:11). Maka, Tuhan menyuruh Samuel untuk pergi ke Betlehem untuk mengurapi Daud sebagai raja, menggantikan Saul. Walaupun takut kalua-kalau Saul mendengar bahwa dirinya mengurapi raja yang baru, Samuel tetap taat kepada Tuhan, dan pergi ke Betlehem (1Samuel 16:4).

Sayangnya, ketaatan Samuel itu tidak diwariskan kepada anak-anaknya. Alkitab mencatat, saat sudah berusia lanjut, Samuel mengangkat kedua anak laki-lakinya menjadi hakim di Bersyeba, menggantikannya. Namun, anak-anak itu tidak hidup seperti ayahnya. Mereka mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan (1Samuel 8:1–3). Hal ini membuat orang Israel meminta Samuel mengangkat raja atas mereka.

Samuel tidak belajar dari kesalahan mentornya, Imam Eli, yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik, sehingga mereka berlaku tamak dengan mengambil korban sembelihan milik Tuhan, dan juga melakukan perbuatan asusila. Imam Eli hanya menasihati dan tidak menegur anak-anaknya dengan keras (1Samuel 2:23–25). Pernyataan Tuhan kepada Samuel, bahwa Ia tidak menyukai cara Eli mendidik anak-anaknya, hingga memutuskan untuk menghukum seluruh keluarga Eli, seharusnya diingat dan dipahami oleh Samuel, agar tidak mengulangi kesalahan Eli dalam mendidik anak-anaknya. Samuel gagal memuridkan kedua anaknya untuk taat kepada Tuhan seperti dirinya.

Setelah dicobai Iblis, Tuhan Yesus memulai pekerjaan dan pelayanan-Nya. Ia mengajar tentang Kerajaan Sorga, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, membangkitkan orang mati, dan sebagainya. Pada awal pekerjaan-Nya, Yesus memanggil beberapa orang menjadi murid, di antaranya Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Total ada dua belas orang murid yang selalu menyertai-Nya saat mengajar dan melayani orang banyak.

Selama mengajar dan melayani orang banyak, Yesus tidak pernah lupa mengajar murid-murid-Nya. Ia menjelaskan ajaran dan perumpamaan yang diberikan-Nya kepada orang banyak. Misalnya saat mengajar orang banyak tentang perumpamaan seorang penabur, murid-murid bertanya, mengapa Ia mengajar dalam bentuk perumpamaan. Yesus menjelaskan, hal itu untuk menggenapi nubuat nabi Yesaya, tetapi untuk murid-murid-Nya, Ia menjelaskan arti perumpamaan tersebut (Matius 13:1–23). 

Yesus juga mengajarkan tentang iman kepada murid-murid-Nya. Saat mereka bersama-sama dalam perahu, angin taufan melanda, sehingga air mulai masuk memenuhi perahu. Murid-murid yang ketakutan membangunkan Yesus. Ia pun menghardik angin taufan, dan tenanglah air danau tersebut. Kesempatan ini digunakan Yesus untuk menegur iman murid-murid-Nya yang kurang percaya kepada (Lukas 8:22–25).

Yesus pernah menanyakan siapa diri-Nya kepada para murid. Petrus mengatakan, Yesus adalah Mesias, dan Yesus melarang murid-murid-Nya untuk memberitahukan hal itu kepada orang lain. Setelah peristiwa itu, Yesus mulai menyatakan, diri-Nya akan mengalami penderitaan, bahkan mati dan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus, di tengah ketidaktahuannya, berdoa agar Allah menjauhkan hal itu dari Yesus. Yesus menegurnya, dan mengajarkan murid-murid untuk memikirkan apa yang dipikirkan Allah, bukan yang dipikirkan manusia (Matius 16:13-23).

Konsep pemimpin yang melayani juga diajarkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pada waktu mereka bertengkar mengenai siapa yang terbesar di Kerajaan Sorga, Yesus mengajarkan kepada mereka untuk rendah hati dan mau menjadi pelayan bagi sesamanya (Markus 9:33-37). Bahkan, Yesus sendiri memberikan teladan sebagai pemimpin yang melayani dengan membasuh kaki murid-murid-Nya, sebelum mereka melakukan perjamuan malam terakhir (Yohanes 13:1–20).

Taat kepada Tuhan adalah penting bagi kita. Dengan taat, kita sebenarnya sedang menjaga diri kita dari bujukan dosa. Taat juga melatih kita untuk melakukan yang Tuhan inginkan. Selain itu, taat juga berarti melakukan perintah Tuhan yang dicatat dalam Alkitab.

Tercatat tiga ayat yang mengandung kata “didiklah”. Dua pada kitab Amsal, yaitu “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu” (22:6), dan “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (29:17). Satu lagi pada kitab Efesus, yaitu “Hai Bapak-bapak, janganlah bangkitkan kemarahan anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (6:4).

Ini berarti Tuhan menghendaki kita sebagai pengikut-pengikut-Nya untuk mendidik generasi muda menurut firman Tuhan dan memuridkan generasi di bawah kita dalam ajaran dan nasihat Tuhan. 

Memuridkan bukan suatu tugas yang mudah. Memuridkan bukan sekadar mengajarkan sesuatu atau menegur, kalau mereka salah. Tidak hanya menjadi teladan, tetapi mau membuka diri, memperkenankan orang lain melihat hidup kita. Seperti Yesus membuka diri kepada murid-murid-Nya, sehingga mereka dapat meneladani Sang Guru dalam hidup dan pelayanan masing-masing.

Memuridkan, mulai dari keluarga kita, orang-orang terdekat kita, dan setiap orang yang kita kenal. Memuridkan berarti membuka diri, seperti kitab terbuka yang dapat dibaca oleh setiap orang yang melihatnya. Seperti kita meneladani Sang Guru Agung, yaitu Yesus Kristus, marilah menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

 *Penulis adalah guru Sekolah Minggu GKI Gading Serpong.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23