Aku beragama Kristen sejak bayi. Keluargaku pun sudah turun-temurun menjadi penganut agama Kristen yang taat. Banyak di antara anggota keluargaku yang merupakan aktivis gereja. Ada yang menjadi sebagai penatua, guru sekolah Minggu, pemimpin paduan suara, ataupun pemusik di gereja. Aku sendiri adalah seorang guru sekolah Minggu. Namun, ternyata itu semua tidak menjamin aku mengenal Juru Selamatku.
Aku lahir pada tahun 1969, di Surabaya. Pada tahun 1975, Bapak bekerja di perusahaan tambang nikel di daerah Sulawesi Selatan, milik Indonesia-Kanada. Di daerah ini, kami yang berasal dari Indonesia tinggal berdampingan dengan karyawan yang berasal dari Kanada, yang juga membawa keluarga mereka. Bahkan, fasilitas yang diberikan kepada karyawan yang berasal dari Kanada tidak dibedakan dari karyawan yang berasal dari Indonesia.
Aku terlahir sebagai seorang disabilitas, tetapi tidak pernah menyadari akan kekuranganku, karena lingkungan tidak memperlakukanku secara berbeda dari anak-anak seumuranku. Aku tumbuh dan berkembang selayaknya anak kecil lainnya, bermain petak umpet, lompat tali, ataupun galasin. Orang tua menyekolahkanku di sekolah umum yang ada di daerah itu. Tidak ada yang mempertanyakan mengapa cara berjalanku berbeda dari orang lain, ataupun menertawakan kekuranganku.
Pada tahun 1981, Bapak pindah bekerja ke Surabaya. Lingkungan baru ini berbeda dengan lingkungan tempat lama. Mulailah secara perlahan dan pasti, rasa percaya diri itu mulai terkikis ketika aku mulai duduk di bangku SMP. Mulanya, ada teman yang menertawakan kekuranganku, yang selama ini tidak pernah aku sadari. Ia menirukan cara berjalanku yang terasa lucu baginya. Aku mulai melihat diriku dari sudut pandang yang berbeda. Alih-alih menegurnya, aku justru mulai mengenal arti minder, rendah diri, dan malu. Perasaan ini berkembang dengan cepat, seiring dengan semakin banyaknya pertanyaan dari orang-orang yang tidak aku kenal kepada ibuku, khususnya tentang kecacatanku.
Pertanyaan-pertanyaan serupa, pandangan merendahkan, bahkan hinaan mulai kuterima, dan aku tak mampu membalasnya. Aku menjadi pribadi yang menutup diri, pemalu, rendah diri. Aku mencoba membalas perlakuan ini dengan belajar lebih giat dari teman-temanku, yang menyebut dirinya mempunyai “fisik normal”, hanya agar mendapatkan pengakuan, bahwa aku, si disabilitas, mampu memperoleh pencapaian seperti mereka yang normal. Sebagai bukti bahwa aku mampu, bahkan lebih baik dari teman-temanku, beberapa piagam penghargaan sebagai juara kelas aku peroleh. Namun, tetap saja semua prestasi itu tidak mengubah perasaan minder, rendah diri, dan malu yang sudah begitu menempel di benakku.
Aku menyelesaikan diplomaku di tahun 1991. Sesudah lulus kuliah, tetanggaku meminta agar aku memberi kursus bahasa Inggris kepada anaknya, yang masih duduk di bangku SD. Awalnya, aku menolak, karena tidak mempunyai background pendidikan sastra Inggris, tetapi tetanggaku tetap bersikeras. Akhirnya, aku pun mulai mengajar di rumah, dengan kesepakatan, jika aku diterima bekerja di sebuah kantor, kursus ini aku hentikan.
Ternyata, aku cukup senang mengajar anak-anak tetanggaku. Jika tadinya hanya tiga anak, kemudian bertambah menjadi kurang lebih sepuluh anak yang kuajar setiap sorenya. Aku berada di zona nyaman dengan kegiatan mengajarku, karena aku mengajar di rumah, tidak terlalu berinteraksi dengan orang lain, dan tidak ada di antara murid-muridku yang mempertanyakan kecacatanku. Puji Tuhan, keinginanku untuk bekerja di sebuah kantor terwujud. Pada tahun 1993, aku diterima bekerja di sebuah kantor, sebagai tenaga typist, sehingga kegiatan mengajar ini terhenti.
Aku memacu diriku untuk bekerja lebih keras, lebih baik, lebih giat daripada karyawan lain, dengan harapan dapat mengikis pandangan negatif yang selama ini kuterima, bahwa penyandang disabilitas tak mampu melakukan segala sesuatu. Aku ingin persepsi itu berubah. Bukan gaji yang besar ataupun jabatan yang tinggi yang aku inginkan. Aku hanya menginginkan sebuah pengakuan, bahwa penyandang disabilitas mampu berkarya sebaik mereka yang normal fisiknya. Aku berharap, dengan bekerja di sebuah kantor, aku dapat menjadi sosok yang percaya diri, senang bergaul dengan siapa saja, dan tidak pemalu lagi.
Namun, semangat bekerja yang menggebu kembali harus terkikis sampai habis. Setelah bekerja selama dua tahun, rasanya aku tak sanggup lagi lanjut bekerja di tempat itu. Aku mendapatkan hinaan, cemooh, dan tatapan mata yang merendahkan. Atmosfer kerjanya sungguh tidak menyenangkan dan toksik. Sungguh menyakitkan buatku, tetapi aku memaksakan diri bertahan, karena kupikir, tidak semua perusahaan mau mempekerjakan penyandang disabilitas. Semakin lama aku mencoba bertahan, semakin tidak nyaman rasanya. Seolah, bahuku harus memikul beban yang begitu berat, yang tak sanggup kupikul. Pada akhirnya, aku nekat berhenti bekerja.
Aku menjadi pribadi yang berbeda – mudah marah, sensitif, gampang tersinggung, minder, dan tidak percaya diri. Aku begitu marah kepada Tuhan. Mengapa Tuhan menciptakanku dengan fisik seperti ini, sehingga seolah-olah setiap orang berhak mem-bully-ku? Mengapa, mengapa, dan mengapa? Berulang kali kutanyakan kepada Tuhan, tetapi tak juga ada jawaban. Tuhan seolah tak peduli dan pergi meninggalkanku, sehingga aku harus menghadapi kesulitan ini sendiri. Itulah titik terendah dalam hidupku. Begitu marahnya aku, sehingga rasa tak percaya kepada Tuhan begitu membuncah. Aku tak lagi mau aktif sebagai guru sekolah Minggu, bahkan tidak mau ke gereja. Dalam benakku, telah tertanam bahwa Tuhan tidak adil dan tidak ada ketika aku memerlukan-Nya. Aku berteriak, tetapi Tuhan diam. Aku mengangkat tangan, mohon pertolongan, tetapi Ia tidak bergeming menolongku. Orang lain ditolong-Nya, tetapi aku dibiarkan-Nya sendiri.
Dengan hati hancur dan remuk redam, aku kemudian pindah ke Surabaya, tinggal bersama keluarga ibuku. Ada nenek, tante, kakak keduaku, dan sepupu-sepupuku. Tinggal di tempat yang suasananya berbeda, tetap tak membuatku bergeming untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sekalipun keluarga besarku adalah aktivis gereja. Ajakan dari nenek, tante, kakak, dan sepupu-sepupuku untuk ke gereja aku tolak dengan bermacam alasan dan kebohongan. Aku memilih di rumah sendirian pada hari Minggu, saat keluarga besarku beribadah di gereja.

Esther Yulia Triwardani dan Keluarga Besar (sumber: dokumentasi pribadi)
Suatu sore, saat tante dan kakakku yang bekerja di Universitas Petra pulang kerja, mereka mengatakan, Fakultas Sastra Inggris Universitas Petra sedang membuka kursus “Teaching English”. Pengajarnya adalah para dosen Universitas Petra, dan lokasi belajarnya pun di kampus tersebut. Kursus ini dibuka untuk umum, dengan biaya kursus yang terjangkau. Masa belajarnya pun cukup singkat, hanya satu tahun. Tergeraklah hatiku untuk mengikuti kursus ini. Aku pun mendaftarkan diri.
Peserta kursus ini kebanyakan guru-guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah di Surabaya, serta beberapa mahasiswa sastra Inggris. Aku senang mengikuti kursus ini, dan mulai berkenalan dengan para perserta lainnya. Tidak seorang pun dari mereka yang merendahkanku. Justru, teman-teman baruku ini menyemangatiku. Salah satu dari mereka menanyakan, aku biasa ke gereja mana? Kelabakan mendapat pertanyaan seperti itu, aku menyebut GKI Residen Sudirman, yang letaknya dekat dengan rumah nenekku. Dulu, aku biasa ke gereja ini bersama keluarga, bila kami sedang berlibur ke Surabaya.
Begitu mendengar aku biasa ke GKI Residen Sudirman, serta-merta teman tersebut mengajakku beribadah bersamanya, karena tempat tinggalnya dekat gereja ini, dan ia adalah seorang guru sekolah Minggu di sana. Aku hanya mengiakan ajakannya, tanpa berusaha menepatinya. Di pertemuan berikutnya, ia menanyakan, mengapa aku tak hadir di gereja. Kujawab dengan senyuman. Berkali-kali, ia mengajakku ke gereja, tetapi tidak juga kupenuhi ajakannya. Hingga suatu hari Minggu, aku memutuskan untuk ke pergi ke gereja, hanya supaya ajakannya berhenti. Kulangkahkan kaki perlahan memasuki gereja. Aku bingung, mau duduk di mana, karena tak seorang pun yang kukenal. Seolah ada bisikan mengatakan, duduklah di belakang. Untuk apa duduk di depan? Toh, Tuhan tidak mengenalmu. Aku pun mengikuti suara hatiku, dan duduk di belakang.
Aku sendiri lupa apa tema khotbahnya, firman Tuhannya diambil dari kitab mana, dan siapa nama pendeta yang berkhotbah hari itu. Yang kuingat hanyalah sepotong kalimat yang diucapkan pendeta dalam khotbahnya, “Engkau berharga di mata-Ku”. Kalimat itu sederhana, tetapi sanggup mengubahkan hidupku. Kalimat pendek itu selalu tergiang di telingaku. Secara perlahan, aku mulai berani mengatakan kepada diriku sendiri, “Tak ada lagi yang boleh menghinaku, karena aku adalah ciptaan Tuhan yang indah. Aku adalah biji mata Tuhan. Aku berharga bagi Tuhan”.
Aku pun mulai berani memulai pembicaraan dengan orang lain, mulai berani menyapa teman baru, mulai senang berinteraksi dengan orang yang baru kukenal, dan mulai berani melihat diriku dengan sudut pandang yang positif. Tentu tidak mudah bagiku, yang selama itu hidup dalam keterpurukan, begitu mengasihani diri sendiri, dan tidak pernah mengucap syukur. Sejak itu, aku percaya bahwa aku tidak berjalan sendiri. Ada Tuhan di sampingku. Ada Tuhan yang menuntun langkah hidupku. Kembali, aku mulai memiliki kerinduan untuk selalu datang dan mendengarkan firman Tuhan di gereja.
Perlahan-lahan, aku belajar mengenal Tuhan, mulai belajar berdoa dengan lebih sungguh, dan mensyukuri segala berkat dan karunia yang kuterima. Aku bersyukur memiliki orang tua yang begitu mengasihiku, dua kakak yang menyayangi dan melindungiku, dan keluarga besar yang selalu ada, memberi dukungan kepadaku.
Pada tahun 2009–2011, aku kembali mengambil kuliah, melanjutkan ke jenjang S-1 di Sekolah Tinggi Keguruan dan Pendidikan, mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Dalam proses penyelesaian studi, aku bekerja sebagai guru TK di sebuah sekolah kecil selama tiga tahun. Setelah lulus, pada tahun 2012, aku bekerja di sebuah sekolah TK & SD yang cukup besar di daerah Legok, Tangerang. Di sekolah ini, Tuhan tidak hanya mempercayakan jabatan sebagai guru, tetapi Ia juga menggerakkan hati pemilik sekolah untuk menerimaku menjadi kepala sekolah TK, tanpa memandang kekuranganku. Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa, sesuatu yang tak pernah berani kuimpikan. Siapakah aku ini? Aku hanyalah seorang penyandang disabilitas. Menjadi guru TK saja aku sudah bersyukur, tetapi ternyata Tuhan punya rencana yang lebih besar bagiku.
Kini, aku menjadi pribadi yang sangat percaya diri, tidak lagi pemalu. Dulu, aku selalu bersembunyi di balik punggung ibuku setiap ada yang menyapa. Dulu, aku begitu sensitif setiap orang memandangku, dan aku selalu berpikir bahwa pandangan matanya meremehkan atau kasihan kepadaku. Sekarang, aku tidak lagi sensitif ketika orang memandangku. Aku senang bertemu dan berkenalan dengan banyak orang. Aku tidak lagi marah jika ada yang bertanya mengenai fisikku. Aku begitu bersemangat menjalani segala sesuatu, dan menikmati jabatanku sebagai guru dan kepala sekolah TK. Bukan karena tingginya posisiku, tetapi karena melalui pekerjaan ini, aku bisa berinteraksi dengan banyak orang yang berbeda setiap hari. Mengajar siswa-siswi TK dengan segala ke-random-annya membuatku selalu tersenyum dan bersemangat. Selelah apa pun ketika pulang kerja, aku selalu membuat worksheet atau materi pembelajaran, bahkan menyiapkan bahan ajar untuk keesokan harinya dengan bersemangat. Mengajar bukan lagi sekedar sebuah pekerjaan demi mendapatkan gaji setiap bulannya, tetapi menjadi passion dan hobi bagiku. Semangat hidup yang sempat terhilang, kini bisa kukecap kembali. Hidupku terasa berwarna, dan langkah kaki pun terasa begitu ringan.
Terlintas di pikiranku, mungkin hinaan, pandangan merendahkan, cemooh yang pernah kudapatkan di lingkungan yang toksik dulu diizinkan-Nya terjadi padaku, karena melalui semua itu, Tuhan sedang membentukku menjadi pribadi yang Ia inginkan.
Perlu tujuh belas tahun untuk bisa menerima dan berdamai dengan kekuranganku. Melalui pergumulan hidup yang tak mudah dan tak kumengerti, jatuh bangun, bahkan terseok-seok, barulah aku menemukan jati diriku. Dengan sabar, Tuhan mengizinkanku mengenal sosok-Nya. Aku adalah tanah liat yang dibentuk Tuhan menjadi bejana seperti yang dikehendaki-Nya, melalui proses yang menyakitkan. From nobody became somebody. Yang tak mungkin menjadi mungkin bagi-Nya. Firman Tuhan dalam Yesaya 43:4a yang berbunyi, “Oleh karena engkau berharga dan mulia di mata-Ku dan Aku mengasihi engkau,” menjadi ayat Alkitab yang selalu kukenang. Air mataku diubah-Nya menjadi tawa sukacita.
Bahwa aku bisa bangkit dan memulai hidup baru bersama Tuhan Yesus, itu bukan karena kehebatan ataupun kekuatanku. Secara akal sehat, semuanya tak mungkin terjadi. Namun, Tuhanku sungguh kuat dan dahsyat. Tak putus aku mengucap syukur, telah diizinkan mengenal pribadi-Nya. Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya sampai jatuh tergeletak. Tangan kasih-Nya siap menopang, betapa pun berat pergumulan hidupmu. Selalu ada Tuhan di sampingmu, dulu, sekarang, dan selamanya. Tuhan Yesus memberkati.
*Penulis adalah anggota GKI Gading Serpong.