20160518Pelangi[ Penulis: Tjhia Yen Nie.  Editor: David Tobing ]

 

Jika kita melihat pelangi biasanya berbentuk busur dengan warna-warninya, namun ternyata tidak selalu seperti itu. Demikianlah hasil foto yang diambil saat kami berada di area perkebunan.  Pelangi yang muncul di pagi itu, membiaskan spektrum matahari  di tengah embun dan selimut kabut, menghasilkan aneka warna cahaya yang terentang di depan pegunungan. Momen sekejap itu membius kami semua dalam keheningan sejenak memandangnya.  Beberapa orang yang membawa kamera mengabadikan pelangi yang kemudian mengabur bersama terangnya matahari.

Dalam sejarah kesultanan Mataram, dikisahkan tentang Nawangwulan, bidadari yang turun dari kahyangan, kemudian selendangnya dicuri oleh Joko Tarub, yang kemudian memperistrinya. Nawangwulan yang akhirnya marah setelah menemukan selendangnya kembali ke kahyangan. Dia memiliki anak bernama Nawangsih. Keturunannya yang kemudian melahirkan Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram.

Cerita ini adalah legenda cerita rakyat yang diceritakan secara turun temurun.  Namun, dikisahkan bahwa Nawangwulan dalam perjalanannya naik ke kahyangan maupun turun ke bumi, melalui pelangi dan selendangnya. Hal ini menyatakan bahwa manusia mengetahui adanya kebesaran Tuhan melalui hadirnya pelangi.

Dalam alkitab pun dikisahkan bagaimana Tuhan berjanji pada Nuh melalui pelangi, setelah memberikan air bah atas bumi selama seratus lima puluh hari. Dalam pelajaran IPA, kita tahu bahwa pelangi dihasilkan karena adanya pembiasan cahaya matahari oleh titik-titik air. Itulah sebabnya pelangi seringkali ditemukan saat hari setelah hujan.

 

Ada Pelangi di Hati Kita

Dalam hidup, kita seringkali merasa berbeban berat, berjuta masalah seakan mendesak dan memberati hidup. Yang paling gampang ditemui, saat para pemuda memasuki usia kerja dan belum mempunyai pasangan (=jomblo), pertanyaan yang kerap ditemui adalah, “mengapa belum?” Kemudian setelah dia mempunyai pasangan, menikah, belum memiliki anak. Maka orang pun kembali bertanya, “mengapa belum?” Setelah memiliki anak, beban pun berganti, dari mulai mencari dokter anak yang tepat sampai dengan merk baby diapers yang bagus dan murah. Lalu anak mulai beranjak besar, kesulitan dan beban juga berubah wujud. Sehingga tidak jarang ditemui para orangtua yang mengatakan pada rekan-rekannya yang jomblo, “enakan kamu deh..nggak pusing.”

Dalam bukunya yang berjudul Until Death Do Us Part, Ayub Yahya menceritakan tentang seorang petani dan istrinya yang bergandengan tangan sepulang dari sawah sambil diguyur hujan, lalu lewat pengendara bermotor, dan petani ini berkata pada istrinya, “Lihat Bu, betapa bahagianya mereka naik motor, walaupun kehujanan tapi bisa cepat sampai di rumah.” Sementara itu pengendara motor dan istrinya melihat mobil pick up lewat di depan mereka, lalu sang suami berkata,”Lihat Bu, betapa bahagianya mereka, tidak kehujanan seperti kita.” Di dalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri, terjadi perbincangan ketika sebuah mobil mercy lewat di depan mereka, “ Lihat Bu, betapa bahagianya mereka, ada di dalam mobil yang nyaman.” Pengendara mercy itu , seorang pria kaya, ketika melihat sepasang suami istri bergandengan tangan dibawah guyuran hujan bergumam, “Betapa bahagianya mereka, bisa bergandengan tangan di bawah guyuran hujan, menikmati indahnya alam ini, sementara aku dan istriku tidak pernah punya waktu berdua karena kesibukan kami.”

Inti dari cerita ini adalah bahwa dalam keadaan apapun kita harus menyadari bahwa tidak ada beban yang terlalu berat bagi kita. Terkadang kita merasa keadaan orang lain lebih enak, nyaman, bahagia, namun tidak tentu yang terjadi demikian dalam pandangan dirinya.

Bagaimana bila beban itu terasa sangat menyesakkan? Dalam kejadian 9:13 &15 tertulis, “Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi…maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala mahluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.”

Tuhan berjanji dengan pertanda pelangi bahwa Dia tidak akan memberikan air bah untuk memusnahkan yang hidup. Itulah juga hendaknya yang kita yakini, bahwa Dia telah memberikan pelangi di hati kita sehingga titik-titik air kesedihan yang membiaskan cahaya luka akan menghasilkan pelangi yang indah.

Kembali pada foto pelangi yang tidak berbentuk busur. Kita kerap membayangkan pola pikir kita dalam menghadapi masalah. Ternyata pelangi yang Tuhan berikan tidak seperti dalam bayangan kita. Namun seperti apapun bentuk pelangi tersebut, ia tetap membuat kami terkesima, itulah janji Tuhan pada kita. Kejadian 9:17, “Berfirmanlah Tuhan kepada Nuh: Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Berserah pada Tuhan, tetap berdoa dan melakukan perintahNya, berusaha dan pantang menyerah, saling membagi beban kehidupan dengan teman-teman seiman. Niscaya pelangi yang sudah Tuhan berikan itu akan tampak di hati kita semua