Tahukah Anda? Ada sebuah pemandangan menarik di Australia. Setiap sore, ratusan penguin mungil berjalan beriringan menuju sarang mereka. Pemandangan itu dikenal sebagai parade penguin, atraksi wisata yang selalu ditunggu oleh para turis yang berkunjung ke Pulau Philip di Victoria. Pulau ini merupakan rumah bagi koloni penguin terkecil di dunia. Tepat setelah matahari terbenam, para pengunjung dapat menyaksikan penguin-penguin kecil muncul dari laut dalam kelompok kecil, berjalan terhuyung-huyung melintasi pasir, menaiki bebatuan, lalu menghilang di baliknya, menuju lubang kecil tempat mereka beristirahat.
Penguin hidup berkelompok, bukan hanya untuk melindungi diri dari predator, tetapi juga untuk berbagi kehangatan. Di tengah udara dingin yang menusuk, mereka saling mendekat, bergantian mengambil posisi hangat di tengah kelompok. Dengan cara itu, mereka menjaga suhu tubuh tetap stabil, sekaligus mempererat kebersamaan. Dalam kebersamaan itu pula, mereka dapat saling memperingatkan jika ada bahaya, dan berbagi informasi tentang tempat mencari makanan. Sungguh luar biasa cara Tuhan menata ciptaan-Nya! Segala sesuatu telah dipersiapkan-Nya dengan sempurna!
Jika kita merenungkan fenomena ini, ada pesan indah bagi kehidupan kita sebagai manusia—makhluk sosial yang tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Seperti para penguin kecil yang bertahan hidup karena kehangatan komunitasnya, demikian pula manusia membutuhkan kebersamaan agar dapat tumbuh dan bertahan dalam kasih. Kehangatan, perlindungan, dan saling peduli yang mereka tunjukkan, sesungguhnya menjadi cerminan kecil dari rancangan Allah bagi manusia, bahwa kehidupan akan berjalan lebih kuat bila dijalani bersama.
Karena itu, kita patut bersyukur bahwa Tuhan juga telah menyiapkan wadah kebersamaan bagi kita, salah satunya melalui komunitas pasutri di GKI Gading Serpong. Komunitas ini istimewa, karena anggota-anggotanya bukan hanya disatukan oleh pernikahan, melainkan karena mereka telah berkomitmen untuk terus menumbuhkan cinta dan iman dalam pernikahan yang diberkati Tuhan.
Dalam persekutuan yang hangat ini, kita belajar, pernikahan bukan hanya perjalanan dua orang, melainkan juga bagian dari rencana Allah untuk menumbuhkan kasih, pengampunan, dan iman di tengah komunitas. Pernikahan adalah lembaga pertama yang ditetapkan dan dikehendaki oleh Tuhan Allah.
Namun, kita juga menyadari, dalam perjalanannya, acapkali pernikahan bukanlah perjalanan yang selalu mulus. Perbedaan karakter, latar belakang, dan luka masa lalu sering kali memicu konflik. Ketika hal-hal ini tidak dibicarakan dengan jujur dan kasih, luka kecil bisa menjadi jurang yang memisahkan. Suami dan istri mungkin mulai memendam kecewa, bersikap dingin, bahkan tanpa sadar saling melukai—dan pada akhirnya turut memengaruhi anak-anak mereka. Bila dibiarkan, kehendak Tuhan untuk membentuk keluarga yang utuh akan terasa semakin jauh dari harapan.
Belum lagi jika muncul pihak ketiga yang memperkeruh suasana—entah keluarga besar yang ikut campur, atau bahkan orang ketiga yang menghancurkan kesetiaan. Namun sejatinya, tidak ada pernikahan tanpa pergumulan. Justru, inilah pentingnya peran komunitas pasutri, tempat pasangan-pasangan bisa saling berbagi, saling menguatkan, dan saling mendoakan. Sering kali, pasangan lain dalam komunitas telah melewati badai serupa, dan bisa menjadi saksi bahwa pemulihan itu mungkin.
Bahkan, ketika pasangan sudah dibantu oleh konselor sekalipun, kehadiran komunitas tetap penting, sebagai benteng yang menopang, sekaligus pengingat bahwa mereka tidak berjalan sendirian. Dalam kasus kesetiaan telah ternoda, konseling mungkin berhenti setelah pasangan memutuskan untuk tetap bertahan.
Namun sesungguhnya, saat itulah perjuangan pemulihan baru dimulai. Luka lama bisa muncul kembali ketika ada pemicu tertentu. Pasangan yang pernah dikhianati berjuang mengalahkan trauma, sementara pasangannya bergumul untuk mendapatkan kepercayaan kembali.
Dalam kasus seperti inilah pertemanan dalam komunitas pasutri berperan besar. Seperti kawanan penguin yang saling menghangatkan di tengah badai, komunitas menjadi tempat aman bagi pasangan untuk bernapas kembali, didoakan, dan didampingi dengan empati. Dalam lingkaran kecil seperti cell group pasutri, kasih persaudaraan dapat bekerja nyata, menolong pasangan-pasangan yang sedang berjuang untuk pulih. Mereka berperan besar sebagai pendoa dan pendamping yang dapat menunjukkan empati. Pemulihan selalu mungkin jika Tuhan bekerja.
Kita dapat melihat contoh nyata melalui firman Tuhan dalam Yehezkiel 37:1–10, ketika Tuhan membawa Yehezkiel ke lembah penuh tulang kering.
Kuasa Tuhan meliputi aku, dan Ia membawa aku ke luar dengan perantaraan Roh-Nya. Ia menempatkan aku di tengah-tengah lembah, dan lembah ini penuh dengan tulang-tulang. Ia membawa aku berkeliling melihat tulang-tulang itu, dan sungguh, jumlahnya amat banyak di permukaan lembah itu; lihat, tulang-tulang itu amat kering.
Ia berfirman kepadaku, “Hai anak manusia, dapatkah tulang-tulang ini dihidupkan kembali?” Aku menjawab, “Ya Tuhan ALLAH, Engkaulah yang mengetahui.” Ia pun berfirman kepadaku, “Bernubuatlah mengenai tulang-tulang ini dan katakanlah kepadanya: Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Lihat, Aku memberi napas ke dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, serta menutupi kamu dengan kulit. Aku akan memberikan kamu napas, supaya kamu hidup kembali. Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.”
Lalu aku bernubuat seperti yang diperintahkan kepadaku. Sementara aku bernubuat, terdengarlah bunyi, sungguh bunyi derak-derik, dan tulang-tulang itu saling menyatu satu sama lain. Sedang aku mengamat-amatinya, lihat, ada urat-urat padanya dan daging pun tumbuh, kemudian kulit menutupinya, tetapi mereka belum bernapas.
Firman-Nya kepadaku,” Bernubuatlah kepada napas itu, bernubuatlah, hai anak manusia, dan katakanlah kepada napas itu: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Hai napas, datanglah dari keempat penjuru angin, dan berembuslah ke dalam orang-orang yang terbunuh itu, supaya mereka hidup kembali. Lalu aku bernubuat seperti yang diperintahkan-Nya kepadaku. Napas itu pun masuk ke dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali dan menjejakkan kakinya – bala tentara yang sangat besar.
Kisah ini menjadi pengingat yang kuat tentang kuasa Tuhan yang memulihkan. Yehezkiel menerima penglihatan ini ketika bangsa Israel berada dalam masa pembuangan di Babel. Mazmur 137:1 menggambarkan betapa dalam penderitaan mereka saat itu, “Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Di tengah keadaan yang suram itulah Tuhan datang mengutus Yehezkiel, membawa pesan pengharapan dan janji pemulihan-Nya.
Marilah kita bayangkan seandainya kita berada di lembah tersebut, ketika kita melihat banyak tulang kering—bahkan dikatakan amat kering. Tentunya akan terasa suasana kematian yang mencekam. Mungkin, sebagian dari kita juga berpikir tentang proses pembusukan yang telah lama terjadi dan melenyapkan semua bentuk kehidupan yang sebelumnya ada.
Namun, ketika Yehezkiel taat menyampaikan nubuat yang diperintahkan Tuhan, sesuatu yang mustahil terjadi. Suara yang terdengar pastilah sangat keras, ketika tulang-tulang kering itu bergerak bersamaan, saling bergabung, lalu ditutupi urat, daging, dan kulit. Ketika napas hidup masuk ke dalam mereka, tulang-tulang kering yang tadinya berserakan menjadi hidup kembali—bahkan menjadi bala tentara yang sangat besar (Yeh. 37:10).
Tuhan kita memang mampu melakukan apa saja, bahkan membawa kembali kehidupan dari kematian. Bangsa Israel telah dipulihkan-Nya, dan hal yang sama juga bisa terjadi dalam pernikahan kita. Jadi, jangan pernah menyerah. Tetaplah berdoa dan bertumbuh dalam komunitas pasutri, tempat kita berada. Kiranya pertemanan dalam komunitas pasutri dapat menjadi saluran berkat Tuhan untuk memulihkan kehidupan pernikahan kita, dan menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.
Seperti para penguin yang selalu berjalan bersama kembali ke sarangnya, ketika melewati dinginnya angin laut dan gelapnya malam, demikian pula setiap pasangan dipanggil untuk tetap berjalan bersama dalam kasih Tuhan. Tidak sendirian, tidak menyerah, karena di ujung perjalanan selalu ada “sarang” tempat kita dipulihkan, yaitu kasih dan kehadiran Tuhan sendiri.
*Kedua penulis adalah pengurus Komisi Dewasa sie Pasutri GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2024-2026.
Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23