Ilustrasi

Ada dua orang perempuan, sebut saja E dan N, yang berusia 40-an. Mereka sudah berteman dan bersahabat lebih dari dua puluh tahun. Pertemanan dimulai sejak mereka masih lajang, yaitu saat menjadi guru sekolah Minggu, pengurus komisi, juga saat bekerja, bahkan hingga keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. Dalam perjalanannya, pertemanan ini mengalami naik turun dan melalui berbagai tantangan kehidupan.

Ketika ayah E sakit, N menginap di rumah E untuk mendampingi dan memberikan dukungan, serta menjadi tempat bercerita. N juga hadir saat ayah E berpulang. Sebaliknya, E menjadi tempat bertanya dan mencurahkan isi hati sewaktu N berpacaran dengan pria yang kemudian dinikahinya. E mendukung N dengan memberikan berbagai informasi tentang negara asal pasangan N, yang juga menjadi domisili E saat ini. Akan tetapi, pertemanan E dan N kembali diuji, karena N tidak menceritakan rencana kunjungannya ke negara tempat E tinggal tersebut. Perasaan yang terluka membuat E bersikap ketus dan marah terhadap N.

Teori Pertukaran Sosial

Dari ilustrasi di atas, kita belajar, pertemanan itu bisa bertahan lama dan melalui berbagai tahapan kehidupan. Menurut Myers dan Twenge dalam Social Psychology (2022), proses pertemanan dan semua relasi interpersonal bisa dijelaskan dengan berbagai teori, termasuk teori pertukaran sosial. Jackson-Dwyer dalam Interpersonal Relationships (2014) mengatakan, teori ini menggunakan model ekonomis untuk menjelaskan model perilaku, dengan konsep utama memaksimalkan keuntungan, dan meminimalkan biaya. Relasi, termasuk pertemanan, dapat terjalin karena pertukaran antara imbalan dan biaya. Hubungan yang paling memuaskan dan bertahan lama adalah hubungan yang menghasilkan imbalan lebih besar daripada biayanya, termasuk hubungan dengan atasan, guru, teman, ataupun kekasih.

Teori pertukaran sosial menyebutkan tiga faktor yang memengaruhi hubungan, yaitu keuntungan (profit), alternatif (alternative) dan investasi (investment).

Keuntungan (Profit)

Menurut Homans dalam Social Behaviour (1961), sebelum seseorang menjalin hubungan, mereka akan mempertimbangkan untung-ruginya. Apakah hubungan tersebut akan memberikan lebih banyak manfaat/keuntungan (reward), dibandingkan biaya atau kerugiannya (cost). Jika dianggap menguntungkan, hubungan akan berlanjut, bahkan bertahan lama, tetapi bila merugikan, biasanya hubungan tidak akan terjadi. Prinsip ini berlaku untuk kedua belah pihak yang terlibat. Jadi, hubungan bisa bertahan hanya jika saling menguntungkan.

Reward adalah segala sesuatu yang dianggap bernilai, seperti pujian, kasih sayang, uang, status, informasi, barang, atau layanan. Nilai reward bisa bersifat umum (misalnya uang), atau sangat personal (cinta dari orang tertentu). Sedangkan cost adalah hal-hal yang dirasa tidak menyenangkan, seperti pertengkaran, kebiasaan yang mengganggu, kewajiban, tekanan sosial, atau kehilangan kebebasan. Sebagai contoh, apabila E merasa N lebih banyak berperilaku kurang sesuai dengan harapan dan amat mengganggu, tentu pertemanan mereka tidak akan bertahan selama dua puluh tahun. Sebaliknya, jika E dan N mendapatkan manfaat dari pertemanan yang terjalin, niscaya hubungan ini akan langgeng.

Berdasarkan penelitian Sedikides et al. dalam, “Perceived Benefits and Costs of Romantic Relationships for Women and Men: Implications for Exchange Theory” (1994), dalam hubungan romantis, reward meliputi kebersamaan, kepuasan seksual, rasa dicintai, kebahagiaan, dukungan sosial, dan pemahaman diri. Sedangkan, cost dapat berupa pertengkaran, hilangnya kebebasan bersosialisasi, kehilangan uang, stres, atau waktu dan tenaga yang harus dicurahkan. Menariknya, ternyata ada perbedaan penekanan menurut gender. Laki-laki lebih sering menekankan hilangnya kebebasan dan kerugian finansial, di sisi lain, perempuan lebih menyoroti hilangnya identitas dan meningkatnya ketergantungan.

Riset lain menunjukkan, makin banyak reward dalam hubungan, makin besar kemungkinan hubungan itu bertahan lama. Pada awal hubungan (honeymoon phase), cost biasanya diabaikan, sehingga kepuasan tidak terganggu. Namun, setelah beberapa bulan, cost mulai terasa dan dapat menurunkan kepuasan. Dalam hubungan jangka panjang, kombinasi reward tinggi dan cost rendah menghasilkan kepuasan yang paling besar, termasuk kepuasan dalam pertemanan.

Alternatif (Alternative)

Thibaut dan Kelley dalam “The Social Psychology of Groups” (1959) menyatakan, untuk mengevaluasi apakah sebuah hubungan memuaskan, kita tidak hanya menghitung untung-rugi dari hubungan itu sendiri, tetapi juga membandingkannya dengan standar pribadi dan alternatif lain.

Comparison Level (CL) adalah standar atau “batas minimal” yang kita harapkan dari sebuah hubungan. Misalnya, standar teman ideal adalah jujur dan mau mendengarkan, tanpa menghakimi. Jadi, perasaan dibohongi dan tidak dihargai yang dirasakan oleh E mungkin mengusik batas minimal pertemanan yang ditetapkannya. Hal ini terbentuk dari pengalaman masa lalu, pengaruh sosial, serta contoh hubungan lain (seperti yang dapat dilihat di sekitar kita atau di film). Dalam ilustrasi, E memiliki standar teman ideal, dengan berkaca pada pengalaman terdahulu, karena pernah dikhianati oleh sahabatnya. 

Orang dengan self-esteem tinggi biasanya punya CL tinggi (mengharapkan hubungan yang memberi banyak keuntungan). Sebaliknya, orang dengan self-esteem rendah cenderung menerima hubungan yang kurang memuaskan, karena merasa sudah cukup atau pantas untuk dirinya.

Comparison Level for Alternatives (CLalt) adalah penilaian seseorang tentang apa yang bisa didapatkan dari hubungan lain, jika meninggalkan hubungan yang sekarang. Contohnya, seseorang bisa saja merasa cukup puas dengan pertemanannya selama ini, sampai muncul individu baru yang terlihat lebih menarik, yang bisa memahami dan memvalidasi perasaan. Sebaliknya, ada juga yang bertahan dalam hubungan—termasuk pertemanan toksik, karena merasa alternatifnya (andaikan hidup tanpa teman) lebih menakutkan, lebih berisiko, dan lebih memberatkan. 

Komitmen dan persepsi alternatif adalah komitmen yang memengaruhi cara kita melihat alternatif. Orang yang sedang menjalin hubungan serius biasanya cenderung menutup diri dari peluang lain, bahkan apabila melihat orang yang menarik, ia akan beranggapan orang tersebut kurang menarik.

Penelitian menunjukkan, orang yang sangat berkomitmen bisa bersikap merendahkan potensi pesaing hubungan mereka. Namun, Duck dalam Meaningful Relationships (1994) mengatakan, alternatif sebenarnya selalu ada, tetapi baru mendapat perhatian bila sedang tidak puas dengan hubungan yang sekarang. Tetap saja, kehadiran orang baru yang menarik, sering menjadi salah satu penyebab utama putusnya hubungan, demikian menurut Buunk, dalam “Conditions that Promote Break-Ups as a Consequence of Extradyadic Involveness.” (1987).

Investasi (Investment)

Rusbult dalam “Responses to Dissatisfaction in Romantic Involvements: A Multidimensional Scaling Analysis” (1983) menambahkan, besarnya investasi yang sudah ditanamkan dalam hubungan sebagai elemen penting dalam teori pertukaran sosial, selain keuntungan (reward) dan alternatif lain.

Yang dimaksud dengan investasi bisa berupa waktu, tenaga, uang, berbagi barang dan teman, meninggalkan berbagai peluang karier, atau sudah memberikan “masa/tahun terbaik dalam hidup”. Makin besar investasi, makin tinggi komitmen, sehingga makin besar kemungkinan hubungan bertahan. Dalam konteks persahabatan E dan N yang telah berjalan lebih dari dua puluh tahun, investasi waktu yang telah diberikan membuat persahabatan ini terjaga dan berusaha dipertahankan. 

Pertemanan dengan Standar Kristiani

Pertanyaan berikutnya, bagaimana pertemanan dengan standar Kristiani? Salah satu artikel di Santapan Rohani (2013) menyatakan, pertemanan adalah salah satu anugerah besar dalam kehidupan manusia.  Pertemanan yang baik akan membuat kehidupan kita menyenangkan dan membawa dampak bagi diri sendiri dan orang lain.  Alkitab juga menjelaskan, teman sejati akan hadir pada saat sahabatnya mengalami kesusahan (Amsal 17:17), dan sahabat bisa saja menjadi lebih dekat daripada saudara (Amsal 18:24).

Dalam pandangan dunia Kristen, pertemanan dipandang sebagai ikatan suci yang berakar pada kasih, saling menghormati, dan iman bersama kepada Tuhan. Pertemanan lebih dari sekadar hubungan sosial, melainkan mewujudkan prinsip-prinsip tanpa pamrih, dorongan, dan dukungan, sebagaimana dicontohkan oleh Yesus Kristus. Pertemanan Kristen didasarkan pada ajaran Alkitab yang menekankan pengampunan, empati, dan saling menguatkan pada saat suka maupun duka. Pertemanan juga dipersepsikan sebagai panggilan, yakni setiap individu dipanggil untuk saling mewujudkan kasih Kristus, membina hubungan yang mencerminkan kasih karunia dan kebenaran-Nya.

Penutup

Marilah berpikir sejenak, apakah hingga saat ini kita sudah menjadi teman yang baik? Apakah sikap pertemanan kita mencerminkan Kristus?

Mari berdoa, “Tuhan Yesus yang penuh kasih, kami bersyukur atas pribadi yang Engkau hadirkan sebagai teman dalam hidup kami. Ajarlah kami untuk membangun pertemanan yang saling meneguhkan, dipenuhi dengan kasih, kejujuran, dan kerendahan hati. Kiranya setiap relasi kami mencerminkan kasih-Mu, sehingga melalui sikap kami, orang lain dapat melihat terang dan kebaikan-Mu. Tolong kami untuk menjadi teman yang setia, yang menguatkan, menghibur, dan menuntun sesama agar makin dekat kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.”  

*Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UPH, mahasiswa doktoral Fakultas Psikologi UI, psikolog di ibunda.id.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23