Yeremia 33:6 berkata: “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesembuhan dan pemulihan, dan Aku akan menyembuhkan mereka dan akan menyingkapkan kepada mereka damai sejahtera dan keamanan yang berlimpah-limpah.” Ayat ini menegaskan, di tengah pergumulan, luka, dan krisis eksistensial, Allah sendiri hadir untuk memulihkan umat-Nya. Gereja, sebagai tubuh Kristus di dunia, dipanggil untuk menjadi wadah janji itu, menjadi rumah yang membawa kesembuhan dan damai bagi semua generasi, termasuk kaum muda yang kini hidup di tengah dunia yang penuh dinamika.

Namun, realitas yang dihadapi pemuda menunjukkan tantangan yang tidak sederhana. Meskipun mereka setia hadir dalam kebaktian, bahkan terlibat sebagai aktivis, seperti menjadi pengurus, panitia, worship leader, singer, pemain musik, tetapi kehidupan di luar gereja, seperti di kampus, pekerjaan, pergaulan, dan dunia digital, sering kali tidak selaras dengan pengakuan iman yang mereka ikrarkan setiap minggu. Ada jurang antara kehidupan berjemaat dan kehidupan sehari-hari. Ketidakselarasan inilah yang membuat banyak pemuda merasa dilematis, setia hadir di gereja, tetapi sekaligus merasa asing dengan kehidupannya sendiri di luar.

Fenomena ini bukan sekadar kesan, tetapi nyata dalam riset. Survei Bilangan Research Center (BRC) pada tahun 2018 terhadap 4.095 remaja Kristen usia 15–25 tahun menunjukkan, meskipun 91,8% masih rutin mengikuti ibadah, setidaknya dua hingga tiga kali per bulan, tetapi motivasi kehadiran sangat beragam. Sebanyak 29% hadir karena kewajiban, 33% karena kasih kepada Yesus, dan hanya 19,4% yang terdorong oleh kerinduan spiritual. Selain itu, ketidakteraturan dalam beribadah meningkat seiring bertambahnya usia, dari 7,7% pada usia 15–18 tahun menjadi 13,7% pada usia 23–25 tahun. Meskipun belum tersedia data spesifik untuk kelompok usia dewasa muda di atas 25 tahun, tetapi dengan meningkatnya tanggung jawab pekerjaan, pernikahan, dan keluarga, mereka akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga konsistensi beribadah.

Hal ini diperkuat oleh temuan umum tentang generasi muda di Indonesia. Riset Palgrave Handbook (2025) menunjukkan, ketidaksetaraan ekonomi, termasuk stabilitas finansial yang rendah dan dominasi ekonomi informal, membatasi mobilitas sosial kaum muda dan mempersempit ruang pertumbuhan spiritual yang konsisten. Dengan demikian, pemuda dalam rentang usia ini berada pada fase yang sangat rawan. Meskipun mereka tetap lapar akan spiritualitas dan komunitas rohani, mereka harus berhadapan dengan realitas hidup yang berat, yang menggeser prioritas iman ke belakang.

Data ini memperlihatkan, partisipasi ibadah pemuda tidak selalu mencerminkan kedalaman spiritual. Ada kesenjangan nyata antara rutinitas liturgis dan kehidupan iman yang konsisten. Hal inilah yang juga dirasakan di GKI Gading Serpong. Meskipun pemuda hadir, pertanyaan besar tetap muncul, apakah iman yang mereka hidupi di gereja berdampak dalam kehidupan sehari-hari?

Beberapa realitas yang dihadapi pemuda semakin menegaskan adanya jurang antara kehidupan berjemaat dan kehidupan sehari-hari, mulai dari tingkat kehadiran dalam ibadah khusus dewasa  muda  di GKI Gading Serpong yang menurun, hingga begitu sulitnya membangun keterlibatan pelayanan. Komunitas pemuda pun belum cukup kuat, sehingga sebagian merasa, gereja bukan rumah yang menyambut mereka, melainkan tempat singgah mingguan belaka. Tidak sedikit yang kemudian memilih pindah ke gereja lain, yang dianggap lebih “atraktif” dan “hidup.” Di luar gereja, tantangan kehidupan pun kian kompleks, seperti kesulitan mencari pekerjaan, tekanan dalam memilih pasangan hidup, kondisi sosial-politik yang memperlihatkan kontradiksi etis besar, hingga dominasi dunia digital yang menyita banyak waktu dan perhatian. 

Semua ini memperlihatkan betapa beratnya perjuangan pemuda untuk tetap hidup setia dalam iman di tengah dunia yang terus berubah. Hal ini membentuk gambaran, pemuda gereja hidup dalam dua dunia, satu dunia religius di dalam gereja, dan satu dunia sekuler di luar gereja. Masalahnya, dua dunia ini sering kali tidak nyambung. Di sisi lain, dunia digital menghadirkan distraksi besar. Media sosial yang seolah tidak ada habisnya membuat banyak pemuda menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling, gaming, atau sekedar menikmati konten hiburan. Nilai-nilai yang mereka konsumsi lewat internet sering kali bertolak belakang dengan nilai iman yang diajarkan di gereja. Akibatnya, iman menjadi “terkurung” di ruang ibadah, sementara dunia digital dan sosial sehari-hari dikuasai oleh pola pikir yang sekuler.

Tidak heran bila banyak pemuda berada dalam dilema besar. Sebagian memilih tetap di gereja tetapi hadir dengan setengah hati, ibadah dirasa monoton, komunitas tidak hangat, dan pelayanan melelahkan, atau, mencari tempat lain yang dirasa lebih atraktif dan menarik bagi mereka. Namun, sesungguhnya persoalan ini lebih dalam daripada sekadar “mana yang lebih menarik atau atraktif.” Pertanyaan sejatinya adalah, ”Apakah pemuda hanya mau menjadi konsumen spiritual, ataukah mereka bersedia terlibat sebagai agen pemulihan dari dalam gereja?”

Yeremia 33:6 memberikan arah bagi pergumulan ini. Tuhan berjanji untuk mendatangkan kesembuhan, pemulihan, damai sejahtera, dan keamanan. Janji ini tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga komunal.  Gereja sebagai tubuh Kristus dipanggil menjadi sarana nyata bagi janji ini.

Gereja yang memulihkan bukanlah gereja yang sempurna tanpa masalah, melainkan gereja yang berani mengakui luka dan mencari kesembuhan bersama. Gereja yang memulihkan adalah gereja yang menjadi rumah, tempat pemuda merasa diterima, didengar, dan dikuatkan. Di sanalah mereka belajar, iman tidak berhenti pada liturgi Minggu, tetapi juga mewarnai setiap aspek kehidupan.

Bagaimana pemuda dapat mengambil peran dalam memulihkan gereja dari dalam? Ada beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan pemuda dan gereja. Pertama, pemuda harus memiliki integritas. Konsistensi iman harus terlihat, tidak hanya di dalam gereja, tetapi juga di kampus, pekerjaan, dan dunia digital. Kedua, pemuda harus terlibat dalam komunitas. Hasil penelitian menekankan, keberadaan mentor dan komunitas kecil pemuda sangat berpengaruh terhadap kesetiaan pemuda pada gereja. Keberadaan Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) atau mentoring pribadi perlu dikembangkan. Ketiga, pemuda harus berani menyuarakan kebutuhan mereka, bukan sekadar menunggu gereja berubah melalui jalur komunikasi yang tersedia. Keempat, tema dan khotbah di dalam gereja perlu menjawab pergumulan nyata pemuda, yaitu relasi, pekerjaan, politik, dan dunia digital. Kelima, pemuda harus aktif berpartisipasi. Pemuda bukan sekadar “penonton”, melainkan pelaku utama yang ikut membentuk wajah gereja. Langkah-langkah ini sejalan dengan panggilan gereja untuk menghadirkan pemulihan, bukan hanya mengobati luka, tetapi juga menumbuhkan iman yang hidup dan relevan.

Sementara itu, meskipun mereka menghadapi dilema yang berat antara bertahan dengan segala kekurangan gereja, atau pergi mencari pengalaman rohani di tempat lain, seharusnya panggilan iman pemuda tidak berhenti pada pilihan pragmatis itu. Allah memanggil setiap pemuda untuk ikut ambil bagian dalam karya pemulihan.

Yeremia 33:6 kembali mengingatkan, “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan kepada mereka kesembuhan dan pemulihan...” Pemulihan bukan sekadar janji masa lalu, melainkan realitas yang bisa dihidupi bila gereja mau membuka diri, dan bila pemuda berani terlibat.

Pilihan akhirnya ada di tangan pemuda, apakah akan meninggalkan gereja karena kecewa, atau tetap tinggal dan memulihkannya dari dalam. Bila mereka memilih yang kedua, mereka bukan hanya menyelamatkan gereja, tetapi juga menemukan kembali panggilan sejati, sebagai generasi yang dipakai Allah untuk menghadirkan damai sejahtera dan keamanan yang berlimpah-limpah bagi dunia.

*Penulis adalah penatua GKI Gading Serpong untuk masa kepengurusan tahun 2022 – 2025 dan 2025 – 2028.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23