Masa remaja adalah suatu masa yang unik dan formatif dalam fase kehidupan seseorang. Dalam masa ini, sangat banyak perkembangan terjadi dalam kehidupan seseorang, yang berguna dalam mempersiapkan kehidupan dewasanya. Perubahan dalam hal fisik, emosi, pola pikir, karakter, dan sosial berubah secara cepat dan meresapi seluruh pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, baik itu pengalaman positif maupun negatif. Pada periode ini, remaja menghadapi dinamika identitas, tekanan sebaya dan sosial, harga diri, serta sering kali rentan terhadap kondisi kesehatan mental. Dunia yang maju dan serba digital ini sangat menyulitkan, karena menciptakan banyak variasi dan tantangan baru. Hal-hal seperti kekerasan online secara verbal maupun seksual, doxing, cyber-bullying, ekspektasi dan komparasi kehidupan yang tidak realistis, serta masih banyak hal lainnya. Dengan demikian, remaja perlu mengembangkan resiliensinya, yakni kemampuan untuk menghadapi, beradaptasi, dan bahkan tumbuh di atas berbagai tekanan, tantangan, atau pengalaman sulit. 

Gereja, sebagai perpanjangan pelayanan Tuhan di dunia ini mempunyai panggilan untuk menanamkan pengenalan akan Tuhan sang Juru Selamat. Namun lebih dari itu, gereja juga dipanggil sebagai pengayom generasi muda yang dipercayakan Tuhan. Dalam mendukung pertumbuhan remaja, peranan gereja tidak hanya soal membatasi atau mengobati, tetapi juga membangun lingkungan yang melindungi dan memperkuat kemampuan adaptasi mereka. Membangun inisiatif untuk terhubung dan berelasi dengan remaja menjadi salah satu kunci utama bentuk dukungan dan perlindungan kita terhadap pertumbuhan mereka. Remaja yang terhubung dengan keluarga dan komunitasnya membangun resiliensi yang baik dan mengembangkan kemampuan untuk melihat dan menghadapi tantangan dengan lebih positif. Sahabat yang baik juga menjadi sebuah elemen penting yang memperkuat kemampuan menghadapi tantangan. 

Gereja sebagai sebuah komunitas spiritual diharapkan dapat membangun relasi dan afiliasi sebagai seorang sahabat bagi generasi muda, terutama kaum remaja. Gereja menyediakan tempat yang aman bagi remaja untuk berbicara, didengar, dan dipahami secara otentik dan hangat. Gereja hadir dengan penuh kasih, menyapa setiap generasi muda dan mengenal mereka secara pribadi, bukan hanya secara komunal. Menumbuhkan perasaan diterima secara utuh dan keamanan untuk terbuka. Inilah arti sebenarnya menjadi seorang sahabat. Meneladan pada Yesus, yang mau hadir dan mendengarkan cerita kehidupan orang-orang yang dilayani-Nya, bukan sekadar menyampaikan berita anugerah keselamatan. 

Gereja juga dipanggil dan dimampukan untuk menjadi komunitas yang restoratif. Diperlukan hati, waktu, dan kekuatan yang besar untuk menghadirkan pemulihan. Yohanes 15:12-13 menyatakan, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.” Melalui ayat ini, Tuhan menegaskan, kita harus mengerahkan seluruh yang kita miliki untuk mengasihi, bahkan nyawa kita. Ini merupakan pengingat serta panggilan kembali terhadap gereja dan setiap orang dari antara kita, untuk going extra miles dalam upaya mengenal, mengasihi, dan mungkin memulihkan remaja-remaja kita, yang hidup dalam luka. Tidak hanya dalam iman pengharapan, tetapi juga dalam fisik, pikiran, dan psikis. 

Gereja sebagai komunitas iman harus memberikan nilai, makna, dan harapan bagi setiap generasi muda, terutama mereka yang sedang berada dalam masa remaja. Gereja dapat menjadi seorang sahabat yang memberikan rasa berharga saat dunia menolak dan mencela. Seorang sahabat yang mengingatkan akan hari esok yang lebih cerah setelah badai menghadang. Seorang sahabat yang tidak menekan dengan ekspektasi, tetapi memberikan ruang bertumbuh dan berbunga, sesuai rencana Tuhan. Seorang sahabat yang tidak menilai dari apa yang terlihat, tetapi dari pemahaman bahwa kita adalah bagian dari Tubuh Kristus yang berdaya. Semoga kita terus menjadi pengayom yang memberikan ruang ekspresif bagi remaja kita, untuk tumbuh resilien dalam iman dan karakter. 

*Penulis adalah penatua GKI Gading Serpong untuk masa pelayanan 2023–2026. 

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23