Hipnoterapi adalah teknik terapi yang menggunakan relaksasi terarah dan sugesti untuk menenangkan pikiran, menurunkan stres, dan membantu proses perubahan perilaku. Dalam dunia medis, metode ini makin banyak dimanfaatkan untuk mengatasi kecemasan, manajemen nyeri, atau membantu menghilangkan kebiasaan negatif. Namun, di kalangan umat Kristen timbul pertanyaan dan kekhawatiran, apakah hipnoterapi sesuai dengan nilai iman Kristen? Artikel ini bertujuan menjelaskan apa itu hipnoterapi, apa manfaat kesehatan yang sudah terbukti secara ilmiah, serta bagaimana umat Kristen dapat menilai dan mempertimbangkannya, agar tetap selaras dengan imannya.

Hipnoterapi atau terapi hipnosis adalah penggunaan teknik hipnosis di dunia medis dan konseling pastoral yang dilakukan secara profesional. Hal ini dapat dilakukan melalui mekanisme tindakan oleh pasien sendiri (self-hypnosis atau hipnosis mandiri), atau dibantu oleh terapis (hetero-hypnosis atau hipnosis oleh orang lain) untuk mencapai suatu tahapan keadaan rileks, relaksasi tubuh, dan fokus pada satu titik pikiran. Selanjutnya, pasien akan masuk dalam tahapan pemberian sugesti atau arahan positif, lalu memanfaatkan daya imajinasi serta memori untuk mengingat sugesti positif yang diberikan.  Hal ini tentu berbeda sekali dengan hipnosis yang dipertontonkan di panggung atau pertunjukan. 

Hipnoterapi yang benar dilakukan oleh seorang profesional, yaitu dokter, psikolog, konselor, atau rohaniwan yang tersertifikasi, dengan tujuan terapeutik (pengobatan) dan difokuskan pada bidang kesehatan psikologis/fisik, seperti mengurangi kecemasan, memperbaiki perilaku, dan atau manajemen nyeri. Contoh penggunaannya dalam bidang medis termasuk untuk mempercepat penyembuhan luka, membantu perawatan nyeri kronis, mengurangi stres sebelum dan selama operasi. Saat ini telah banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui efek dan manfaat dari hipnoterapi dalam bidang medis. 

Hipnoterapi dianggap mampu membantu mengatasi stres, kecemasan, trauma, dan kebiasaan negatif dari perspektif psikologis, sedangkan dalam pelayanan jemaat bisa menjadi alat tambahan dalam pemulihan jiwa dan kesehatan mental. Berbagai penelitian ilmiah yang telah dilakukan mendukung manfaat hipnoterapi sebagai tambahan atau pelengkap dalam pengobatan konvensional. 

Dalam sebuah hasil analisa terhadap beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, Valentine, Milling, Clark, dan Moriarty dalam “The Efficacy of Hypnosis as a Treatment for Anxiety: A Meta-analysis” (2019), menyimpulkan bahwa hipnoterapi secara signifikan dapat mengurangi kecemasan dibandingkan dengan kelompok kontrol. 

Dalam penelitian RCT (randomized controlled trial atau uji klinis acak terkontrol) yang dilakukan oleh Maamar et al., dalam “Hypnosis for Unplanned Procedural Pain in the Intensive Care Unit: The HYPIC Randomized Clinical Trial” (2025), peserta dibagi secara acak ke dalam kelompok perlakuan dan kelompok kontrol untuk membandingkan hasilnya. Hipnoterapi yang dilakukan pada pasien yang menjalani prosedur medis invasif secara cito (segera) di ICU dapat menurunkan tingkat kecemasan dan stres dibandingkan perawatan standar. 

Brugnoli, M.P., et al., dalam “The Role of Clinical Hypnosis and Self-hypnosis to Relief Pain and Anxiety in Severe Chronic Diseases in Palliative Care: A 2-year Long-term Follow-Up of Treatment” (2018) menyatakan, pada pasien dengan penyakit kronis berat atau kanker, hipnoterapi dan self-hypnosis selama dua tahun menunjukkan penurunan nyeri dan kecemasan yang lebih besar dibanding dengan perawatan obat saja.

Yerzhan, A. et al. dalam “The Use of Medical Hypnosis to Prevent and Treat Acute and Chronic Pain: A Systematic Review and Meta-Analysis” (2025) menyatakan, hipnoterapi lebih efektif untuk nyeri akut dan kecemasan, sedangkan untuk nyeri kronis hasilnya akan lebih beragam. Selain manfaat yang ada, hipnoterapi ini tidak lepas dari risiko adanya kemungkinan praktik yang menyimpang, misalnya klaim mistik, manipulasi sugesti tanpa persetujuan sadar pasien, atau campur tangan yang tidak transparan. Hal paling penting dalam tindakan hipnoterapi terletak pada persetujuan sukarela (informed consent), tujuan terapi yang jelas, integritas profesional terapis, dan supervisi dari pihak yang berwenang.

Hipnoterapi dapat dilihat dari dua sudut pandang. Yang pertama, secara empiris atau terbukti secara ilmiah dan disertai data penelitian. Yang kedua, secara non empiris, yaitu melalui konseling pastoral yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi memiliki dampak yang sama dan dilakukan oleh rohaniwan. Keduanya harus dilakukan oleh seorang profesional di bidang hipnosis, seperti dokter, psikolog, konselor, dan rohaniwan untuk tujuan medis.  

Dari sudut pandang iman Kristen, terdapat prinsip yang relevan dalam menilai hipnoterapi, yaitu kehendak bebas dan integritas rohani. Iman Kristen mengajarkan, setiap orang mempunyai kebebasan moral dan tanggung jawab. Untuk menghindari praktik okultisme, penting membedakan penggunaan hipnoterapi yang bersifat klinis atau ilmiah dengan kegiatan yang mengandung unsur mistik atau ritual gaib. 

Meskipun tidak selalu ada pandangan resmi yang sangat spesifik di semua denominasi gereja, banyak pemimpin Kristen memperbolehkan hipnoterapi, bila digunakan sebagai alat kesehatan dan bukan sebagai jalan spiritual yang menyimpang dari segi keimanan. Ed Welch dalam artikelnya, “Queries and Controversies: How should a Christian Counselor Think about Hypnotism?” (2002) menegaskan, konselor Kristen perlu membingkai hipnoterapi dalam kerangka Alkitab dan dengan tanggung jawab pastoral.

Beberapa teolog memandang hipnosis dapat membuat seseorang rentan terhadap pengaruh yang tidak diinginkan atau mengaburkan batas antara terapi medis dan praktik okultisme. Untuk itu, persoalan etis menjadi penting. Tidak hanya melihat soal efektivitas hipnoterapi, tetapi juga apakah metodenya tidak mengandung hal-hal okultisme. 

Agar penggunaan hipnoterapi tetap aman dan selaras iman, pertama-tama pilihlah praktisi yang kompeten dan tersertifikasi. Praktisi yang dipilih hendaklah seseorang yang paham aspek klinis dan etika dalam melakukan tindakan hipnoterapi, serta diakui oleh lembaga yang menerbitkan sertifikat. Hipnoterapi yang dilakukan memiliki tujuan terapi yang jelas, yaitu untuk mengurangi kecemasan, nyeri, atau memperbaiki kondisi tertentu, dan bukan untuk eksperimen spiritual yang tujuannya meragukan. Bila merasa ragu, konsultasi dengan pendeta atau penasihat rohani akan sangat membantu. Perhatikanlah integritas praktik. Jangan menerima metode yang menjanjikan hasil gaib atau memerlukan aktivitas yang bertentangan dengan iman Kristen.

Jika digunakan dengan tepat, sukarela, dan profesional, hipnoterapi dapat menjadi alat bantu kesehatan yang berguna bagi banyak orang percaya. Hipnoterapi juga berpengaruh terhadap motivasi melalui pemanfaatan kerja gelombang-gelombang otak (beta, alfa, teta dan delta) untuk menguatkan memori dan menanamkan sugesti positif. Namun, penting jemaat melihatnya bukan sebagai pengganti iman, doa, atau pertolongan Tuhan, melainkan sebagai salah satu dari sekian sarana perawatan kesehatan. Dengan pemahaman yang baik dan bimbingan iman yang bijak, hipnoterapi dapat diterima secara etis dan spiritual dalam keseharian orang Kristen.

*Penulis adalah anggota jemaat GKI Gading Serpong dan dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana.

Tulisan ini dimuat dalam Majalah Sepercik Anugerah edisi 23