[ Penulis: Zeth Lodo. Editor: Tjhia Yen Nie ]

Manusia secara alamiah pasti akan mengalami pertumbuhan, dari anak-anak menjadi remaja, dan kemudian dewasa. Proses ini bersifat normal dan natural. Banyak faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan menuju ke kedewasaan manusia, namun faktor yang paling utama adalah waktu. Menjadi dewasa melewati proses waktu yang panjang melewati fase-fase pertumbuhan sesuai dengan umurnya. Sebagai contoh, bayi yang belajar merangkak tidak mungkin dipaksa untuk berlari.

Jika kita hubungkan dengan kedewasaan iman, maka hal ini juga berlaku. Jika seseorang telah lama mengikuti Tuhan tetapi imannya masih anak-anak tentu ada yang tidak beres. Sebaliknya jika seseorang baru mengikut Tuhan beberapa bulan saja tetapi berani melakukan pekerjaan rohani yang bersifat esensi seperti berkhotbah, mengajar sesuatu yang bersifat fundamental/doktrin. Ini namanya dipaksa dewasa rohani.

Orang yang baru bertobat dan mengikut Tuhan perlu belajar dan menjalani proses sehingga menjadi dewasa dalam iman. Sekarang ini, banyak yang baru bertobat tetapi memaksakan diri menjadi dewasa, dengan mengambil pekerjaan orang Kristen dewasa, akibatnya banyak ajaran yang diajarkan tidak alkitabiah dan bersifat teoritis. Oleh karena itu diperlukan pemuridan yang efektif.

Seseorang dapat menilai dirinya sendiri,apakah ia sudah dewasa secara rohani atau belum, berdasarkan ciri-ciri sebagai berikut:


A. KEDEWASAAN IMAN BERSUMBER DARI FIRMAN TUHAN DAN MENJALANI PERGUMULAN HIDUP BERSAMA TUHAN

Pergumulan hidup bersama Tuhan dan firman-Nya membuat iman semakin dewasa. Dalam surat 2 Timotius 3:10-16, Paulus menyampaikan bahwa pergumulan hidup bersama Kristus (10-13) danfirman Tuhan yang telah dihidupi oleh Timotius sejak kecil (14-17) membuatnya bertumbuh.

Dengan membaca, merenungkan, dan melakukan Firman Tuhan dalam hidup sehari-hari maka iman orang-orang percaya akan bertumbuh menuju ke kedewasaan secara normal dan alami. Tapi sayang banyak orang yang kurang tertarik untuk menjadikan Firman Tuhan sebagai sumber pertumbuhan dan kedewasaan imannya.Mereka lebih tertarik kepada mukjizat, mimpi dan lain-lain; bukan kepada Alkitab, bukan pada Firman Allah yang hidup.

Hal lain yang melahirkan iman yang dewasa adalah pergumulan menghadapi masalah bersama Tuhan. Kehidupan Ayub adalah salah satu contohnya. Ketika musibah dan malapetaka silih berganti datang menghampirinya, iman Ayub justru semakin kuat. Perhatikan perkataan Ayub yang begitu menawan, “TUHAN yang memberi TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN” (Ayub 1:21b). Terhadap istrinya yang menyuruh mengutuki ALLAH ia berkata, ”Apakah kita hanya mau menerima yg baik saja dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10).

Dari kehidupan Ayub yang luar biasa kita belajar bahwa bahwa iman yang dewasa lahir dari sebuah proses pendewasaan iman yang berpegang teguh pada Allah. Adakah dalam rumah tangga, karir atau hidup saudara/i saat ini sedang mengalami goncangan atau masalah? Bertahan dan jangan lupa renungkan Firman Tuhan, sebab Firman Tuhan akan membantu saudara/i melewati pergumulan hidup. Melalui pergumulan hidup dan menghidupi Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari niscaya saudara/i akan bertumbuh menjadi dewasa dalam iman.


B. KEDEWASAAN IMAN TIDAK LAHIR DARI MUKJIZAT DAN TANDA-TANDA SPEKTAKULER

Kedewasaan iman tidak lahir dari mukjizat dan tanda-tanda spektakuler. Coba kita perhatikan perjalanan bangsa Israel sewaktu keluar dari Mesir. Begitu banyak mujizat yang mereka alami. Begitu banyak tanda spektakuler yang mereka alami dan saksikan sejak dari tanah Mesir sampai ke tanah Kanaan.Tetapi iman mereka tidak bertumbuh.

Sebelum keluar dari Mesir mereka melihat mukjizat dan tanda-tanda dari Allah melalui sepuluh tulah yang menimpa orang-orang Mesir. Air berubah menjadi darah, katak, nyamuk, lalat, penyakit sampar, barah, hujan es, belalang, gelap gulita, kematian anak sulung. Sepuluh tulah itu menimpa orang-orang Mesir, tetapi umat Israel terluput. Hal itu menyebabkan Firaun mengijinkan bangsa itu keluar dari Mesir, dan orang-orang Mesir bermurah hati kepada mereka dengan memberikan banyak bekal untuk mereka bawa pergi.

Di padang gurun mereka pun mengalami banyak mukjizat dan tanda ajaib. Tuhan memimpin mereka dengan tiang awan dan tiang api. Mereka juga mengalami mujizat air laut dibelah menjadi dua, air pahit menjadi manis, makan manna dan burung puyuh. Tetapi semua itu tidak membuat iman mereka bertumbuh. Ketika tiba di Masa dan Meriba mereka bertengkar dan bersungut-sungut hanya karena belum mendapatkan air. Saat itu mereka berkata “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7). Mereka menyaksikan begitu banyak mukjizat Tuhan tetapi hanya karena masalah air mereka mempertanyakan keberadaan Tuhan di tengah-tengah mereka.

Mukjizat dan tanda ajaib tidak menimbulkan iman di hati mereka. Ketika berhadapan dengan pergumulan hidup dan permasalahan mereka bertengkar, bersungut-sungut dan mempertanyakan penyertaan Allah. Mereka melupakan semua mukjizat dan tanda-tanda ajaib yang Allah sudah lakukan. Jadi iman yang sejati dan dewasa tidak lahir dari mukjizat dan tanda-tanda ajaib.

Iman yang sejati adalah iman yang lahir dari Firman Tuhan (Roma 10:17) serta yang berpegang teguh pada pengharapan dan keyakinan padaTuhan sendiri (Ibrani 11:1). Karena itu kita harus membaca, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dengan membaca Alkitab kita semakin mengenal Tuhan dan semakin serupa dengan Kristus, baik dalam perbuatan maupun tingkah laku.


C. KEDEWASAAN IMAN ADALAH IMAN YANG BERGANTUNG SEKALIGUS TIDAK BERGANTUNG

Apa maksudnya iman yang BERGANTUNG dan TIDAK BERGANTUNG? Maksudnya adalah Iman kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dan pada saat yang sama tidak bergantung kepada apapun termasuk manusia. Kita harus bergantung kepada apa yang layak menjadi tempat bergantung dan pada saat yang sama tidak bergantung kepada apa yang tidak layak menjadi tempat bergantung. Kita harus bergantung sepenuhnya kepada Allah dan tidak bergantung kepada manusia.

Barak dapat menjadi salah satu contoh untuk hal ini. Ketika Debora menyuruh Barak memimpin umat Israel menghadang musuh yang menyerang mereka, Barak menjawab, "Jika engkau turut maju akupun maju, tetapi jika engkau tidak turut maju akupun tidak maju” (Hakim-hakim. 4:8). Barak bergantung kepada Debora. Ia bukan bergantung pada Allah, tetapi kepada manusia. Hal yang sama dapat terjadi pada umat Tuhan saat ini. Berapa banyak dari orang-orang Kristen yang imannya bukan bergantung kepada Tuhan tetapi pada pendeta, rohaniawan atau seniornya. Jika iman pendeta atau rohaniawannya kuat maka imannya juga kuat. Jika pendeta atau seniornya maju maka ia maju, jika mundur ia juga ikut mundur. Tetapi sebaliknya, ketika iman pendeta, rohaniawan atau seniornya lemah, iman mereka pun menjadi lemah.

Iman sejati bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dalam kedaaan dan kondisi apapun, bukan kepada manusia. Salah satu lagu yang sering saya nyanyikan bersama KPK (Komisi Pelawatan dan Kedukaan) GKI Gading Serpong, sangat memberkati sekaligus mengajarkan kebergantungan kepada Tuhan. Lagu itu sangat indah, memberikan kekuatan dan penghiburan:


Kala ku cari damai
Hanya kudapat dalam Yesus
Kala ku cari ketenangan
Hanya kutemui di dalam Yesus
Tak satu pun dapat menghiburku
Tak seorang pun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku
Reff :
Bersama Dia hatiku damai
Walau dalam lembah kekelaman
Bersama Dia hatiku tenang
Walau hidup penuh tantangan
Tak satu pun dapat menghiburku
Tak seorang pun dapat menolongku
Hanya Yesus jawaban hidupku


Jika kita mempunyai iman seperti syair lagu di atas maka iman kita bukan lagi kanak-kanak melainkan telah dewasa. Iman yang tidak lagi bergantung kepada situasi dan kondisi, melainkan terletak pada Tuhan sendiri yang adalah sumber segalanya.


D. KEDEWASAAN IMAN ADALAH PILIHAN.

Seseorang dapat bertumbuh dengan baik apabila mengkonsumsi makanan bergizi. Dengan asupan gizi yang cukup maka seseorang pasti akan mengalami pertumbuhan yang maksimal. Hal yang sama juga berlaku dalam pertumbuhan iman. Secara rohani seseorang dapat bertumbuh imannya menjadi dewasa apabila dia mengkonsumsi makanan rohani yang baik dan cukup.

Dewasa secara alamiah itu pasti, namun dewasa secara iman itu pilihan. Dewasa secara alamiah ditentukan faktor waktu. Suka atau tidak suka seseorang akan menjadi dewasa dan tua karena waktu. Waktu yang terus bergulir, menjadikan anak-anak bertumbuh dewasa, dan akhirnya menjadi tua. Namun berbeda halnya dengan dewasa secara rohani. Dewasa secara rohani adalah pilihan.

Adapun makanan rohani yang baik itu antara lain:

1. Berdoa.

Tokoh reformasi Yohanes Calvin mengatakan, “Doa adalah napas hidup orang percaya.”Doa itu penting.Kalau berhenti berdoa berarti secara rohani kita sudah mati. Doa tidak punya formula khusus. Doa yang benar adalah doa yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam dengan perendahan diri.

Hudson Taylor misonaris OMF di China mengatakan, “Banyak berdoa banyak berkat. Sedikit berdoa, sedikit berkat dan tak berdoa, tak ada berkat.” Ungkapan ini adalah ungkapan dari pengalaman hidupnya ketika ia menjadi misionaris di China. Dalam perjalanan misinya di pedalaman China yang begitu sukar, Tuhan memenuhi semua kebutuhan Hudson Taylor melalui doa. Sama seperti Hudson Taylor,ketika kita berdoa maka kita akan mendapat banyak berkat, bukan hanya jasmani melainkan juga rohani.

2. Membaca Alkitab, Mengikuti Pendalaman Alkitab atau Pemuridan lainnya.

Selain berdoa kita juga harus rajin membaca Alkitab. Sebab Alkitab adalah ungkapan isi hati Tuhan kepada manusia. Dengan membaca Firman Tuhan kita akan paham apa yang menjadi kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita. Firman Tuhan adalah sumber utama makanan rohani bagi pertumbuhan iman. Seseorang akan bertumbuh imannya dengan pesat apabila ia rajin membaca dan merenungkan Alkitab setiap hari. Setelah membaca, merenungkan dan mengetahui isi hati Tuhan maka kita dituntut untuk menjadi pelaku Firman.

Selain membaca Alkitab, kita juga dapat mengikuti kelas pendalamam Alkitab, membaca buku renungan. Dengan melakukan hal-hal tersebut maka iman kita akan mendapat makanan bergizi yang membuat pertumbuhan iman kita dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

3. Menjadi Saksi Yang Setia.

Firman Tuhan yang sudah kita baca dan renungkan hendaknya kita lakukan di dalam kehidupan kita setiap hari. Sehingga kita bisa menjadi saksi yang hidup bagi orang lain. Kita bisa menjadi contoh dan teladan dalam melakukan Firman Tuhan bagi orang lain. Kita menjadi kesaksian yang hidup bagi orang lain. Kita menjadi surat Injil yang terbuka bagi sesama kita. Melalui kehidupan kita orang lain terberkati

4.Bersekutu Bersama

Terakhir kita harus membangun persekutuan bersama, baik itu bersekutu didalam doa maupun ibadah lainnya. Kita harus rajin ke Gereja, kelompok kecil ataupun persekutuan lainnya. Di dalam persekutuan itu kita dapat belajar bersama-sama tentang Firman Tuhan. Belajar mendalami Alkitab. Ataupun saling mendoakan pergumulan hidup masing-masing.


Dengan melakukan ke empat point di atas maka, secara rohani iman kita akan bertumbuh dengan baik sebab mendapatkan asupan gizi yang baik dan cukup. Adakah kita melakukan hal-hal di atas? Kalau belum, mari kita mulai mempraktekkannya di dalam kehidupan kita sehari-hari.