[ Penulis: Indra Putra. Editor: Carlo Santoso ]

Yosua diam membisu. Sesekali ia mengangkat wajahnya dengan pandangan kosong. Hatinya berkecamuk. Lima menit yang lalu bagian SDM tempatnya bekerja memberikan surat PHK karena perusahaan bangkrut. Tidak hanya peristiwa ini yang merisaukannya. Lima hari yang lalu ia dan istrinya menutup bisnis yang mereka rintis dalam dua tahun terakhir karena terus merugi. Hari ini pun ia belum pulih dari perasaan duka yang mendera karena dua minggu yang lalu kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan kendaraan umum. Indra seperti terseret dalam pusaran gelap. Semua terjadi bertubi-tubi dalam hitungan hari. Mendadak ia kehilangan sumber penghasilan sekaligus identitas karena menjadi pengangguran. Kegusaran, kebingungan, kemarahan, rasa tidak berdaya dan ketidakpastian hidup bercampur menyelimuti kalbu.


* * *

Sabtu kali ini berbeda. Dingin dan kelam, seperti menyambut keraguan dan ketidakpastian yang melanda para murid Yesus. Sang Guru telah direnggut maut. Harapan datangnya Israel baru yang bebas dari penindasan Roma pupus. Iman terguncang karena Mesias yang dinubuatkan ribuan tahun yang lalu tidak berdaya di bawah tikaman tombak dan paku salib. Para murid pun mendadak kehilangan semua yang mereka tekuni selama beberapa tahun terakhir. Mata pencarian hidup sebagai penjala ikan telah ditinggalkan. Identitas sebagai murid pun tercabut.

Para murid memasuki masa dimana keraguan dan kekelaman berpadu. Masa dimana titik terendah dalam hidup menampilkan keperkasaannya. Keyakinan sirna, harapan meredup, dan hidup menjadi pekat. Para murid sedang berada dalam titik terendah.

Inilah Sabtu Sunyi.

Kesunyian ini terus berlangsung hingga esok hari. Saat terdengar kabar Yesus bangkit, tidak semua murid menanggapi dengan antusias. Dari semua murid, Thomas terlihat masih terpuruk. "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangannya....sekali-kali aku tidak akan percaya"1 ucap Thomas. Kesunyian terus mencengkeram dirinya meski Yesus dikabarkan telah bangkit. Menyingkirkan keraguan, kekecewaan dan kekelaman tidak semudah membalik telapak tangan. Kalimat jujur dan perasaan seorang Thomas menandaskan pekatnya perasaan banyak orang yang mengalami masa kelam.

Alkitab dengan terbuka menyaksikan masa sunyi ini. Kisah keterpurukan dan keraguan ditampilkan tanpa sensor dan tanpa diganti dengan kisah gegap-gempita kebangkitan semata. Kekelaman dan keraguan iman disajikan bersama dengan kisah kebangkitan dan menjadi warna yang tidak terpisahkan. Jika Alkitab dengan terbuka menyajikan hal ini, apakah kekelaman, keraguan dan keterpurukan hidup merupakan hal tabu yang harus dihindari sebagai tanda kokohnya hidup beriman?

* * *

Kekelaman, keraguan dan keterpurukan seringkali diringkas menjadi satu kata. Depresi. Itulah kata yang dipakai Parker Palmer menjelaskan titik terendah dalam hidup. Berbeda dari kebanyakan orang yang memandang depresi sebagai situasi yang harus dikalahkan, titik terendah bagi Palmer dilihat sebagai uluran tangan seorang sahabat. Dalam bukunya “Let Your Life Speak”, ia menggambarkan: “Depression is, indeed, the hand of a friend trying to press us down to ground on which it is safe to stand. The ground of my own truth, my own nature, with its complex mix of limits and gifts, liabilities and assets, darkness and light”.2 Palmer mengungkapkan bahwa pada titik ini manusia dapat mengenal dirinya. Titik terendah justru adalah tangan seorang sahabat. Sang sahabat ini membantu manusia melepaskan diri dari sosok yang selama ini ia anggap sebagai dirinya agar mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Melalui keraguan, kekelaman dan menyangsikan imannya, manusia jatuh terhempas.Hempasannya mendorong sampai ke dasar, ke tempat dimana akhirnya manusia menemukan titik terendah. Di titik terendah itulah manusia akhirnya berpijak, karena tidak ada tempat yang lebih rendah lagi dimana ia dapat jatuh lebih dalam. Di titik terendah ini, manusia tidak hanya memiliki kesempatan mengenal dirinya, ia juga dapat berjumpa dengan Tuhan. Ia bukan bertemu dengan Tuhan yang ia anggap ia kenal selama ini. Kali ini ia berjumpa dengan Tuhan secara pribadi, bukan dengan Tuhan yang ia kenal melalui perantaraan buku, cerita atau pun kisah hidup orang lain. Ketika telah mengenal diri yang sesungguhnya di titik terendah, otentisitas perjumpaan dengan Tuhan menjadi penuh makna.Titik terendah menyadarkan siapa dirinya dan siapa Tuhannya.

* * *

Paradoks percaya namun tidak percaya, ragu namun yakin, tenang namun gelisah seringkali menjadi tanda pergumulan manusia yang sedang bergulat dalam titik terendah. Momen Thomas meragukan Tuhan bahkan menjadi tempat perjumpaannya yang bermakna dengan Tuhan. Tuhan memahami bahwa keraguan dan kekelaman adalah bagian dari hidup. Ia merangkul manusia yang dihempas badai kehidupan.

Tuhan mengerti titik terendah justru adalah perjalanan menuju iman yang otentik. Alih-alih menghukum karena tidak percaya, Yesus justru menyapa Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”3 Nubuatan Yesaya ribuan tahun sebelumnya mengenai Yesus terbukti “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya . . .4 Yesus tidak akan menyudutkan mereka yang berada dalam titik terendah kehidupan. Buluh iman Thomas yang terkulai tidak diputuskan, dan sumbu imannya yang hampir pudar tidak dipadamkan.

* * *

Bukankah kualitas pribadi yang otentik sering kali tumbuh setelah melewati titik terendah dalam hidup? Tidakkah ketekunan, pengharapan dan iman yang murni dibesarkan setelah melewati penderitaan?. Tradisi sejarah gereja dengan indah menampilkan pemahaman ini melalui peringatan tiga peristiwa besar dalam Kekristenan (Jumat Agung, Sabtu Sunyi dan Paskah – yang dikenal sebagai Tri Hari Suci) sebagai perjalanan dari titik terendah, melewati titik kesunyian dan menuju titik kemenangan. Tidak ada Paskah tanpa Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Tidak ada kemenangan tanpa melewati penderitaan, keraguan dan kekelaman. Meski perayaannya telah lewat, pemaknaan Tri Hari Suci dapat terus dibawa karena maknanya menggema sepanjang tahun.

Kekelaman, keraguan dan keterpurukan hidup bukan merupakan hal tabu, yang menjadi tanda tidak kokohnya hidup beriman. Dalam perjalanan hidup, ada kalanya manusia sampai ke titik dimana ketiga hal ini berpadu. Iman justru tumbuh dalam badai, dalam keraguan, dan dalam menikmati bentuk penyertaan Tuhan mungkin tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Sejarah gereja menceritakan Thomas kemudian pergi ke tanah India mewartakan kasih Kristus tanpa lelah. Di sana, ia dicatat meninggal sebagai martir tanpa meragukan kasih Tuhan yang pernah menyapa di titik terendah hidupnya.

* * *


Daftar Pustaka

  1. Yohanes 20: 25
  2. Parker J Palmer, Let Your Life Speak: Listening for the Voice of Vocation, Josey Bass, San Fransisco, 2000, p. 67. Terjemahan bebas: “Depresi sejatinya adalah tangan seorang sahabat yang menekan kita sampai ke sebuah dasar, tempat dimana kita dapat berpijak dengan aman. Saya berpijak pada kebenaran saya, sifat alamiah saya, dengan segala percampuran dari keterbatasan, talenta, tanggung jawab, kemampuan, kegelapan dan terang.”
  3. Yohanes 20: 27
  4. Matius 12: 16-17, 20